Mengapa harus NANDA? Itu pertanyaan yang sering muncul. Bahkan ada yang menyeletuk, “Kenapa tidak versi Indonesia Bu? Saya kan cinta bahasa Indonesia”.

NANDA atau North American Nursing Diagnoses Association merupakan wadah perkumpulan perawat Amerika Utara. Sejak tahun 2007 karena penggunaannya yang mengglobal, maka mereka menambahkan International sehingga menjadi NANDA-I. Di dunia ini banyak sekali pedoman penentuan diagnosa (OMAHA, CCC, ICNP, dll), tetapi diantara masih adanya beberapa kelemahan, akhirnya NANDA yang dipilih karena sebenarnya bisa diaplikasikan ke banyak latar belakang. Permasalahannya adalah karena belum adanya keseragaman bahasa di antara perawat untuk memberi nama diagnosa keperawatan. Sebut saja diagnosa “Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh”. Saya bisa sebutkan beberapa versi perawat untuk memberi nama label diagnosa ini:

  1. Kurang nutrisi
  2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
  3. Gangguan nutrisi
  4. Kekurangan nutrisi
  5. Nutrisi kurang
  6. Nutrisi tidak seimbang
  7. Dll

Itu baru di institusi ini saja. Belum perawat rumah sakit, belum perawat di Indonesia, belum perawat di dunia. Sedikit mengaca pada profesi dokter, mereka punya International Classification of Diseases atau ICD-10 (edisi 11 akan dirilis tahun 2015) yang dipakai secara internasional oleh seluruh dokter yang ada di dunia. Sehingga, dokter mempunyai keseragaman bahasa dalam menentukan label diagnosa medis. Sebagai contoh, dengan menyebutkan G35, maka dokter di seluruh dunia juga akan tahu bahwa itu kode untuk penyakit Multiple Sclerosis. Adakah versi bahasa Indonesia nya? Setahu saya, semua penyakit ditulis apa adanya seperti yang ada di ICD. Saya belum pernah dengar versi bahasa Indonesia untuk Multiple Sclerosis, kecuali pengertiannya yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Bagaimana dengan perawat?

Nah, itulah mengapa kita perlu NANDA. Minggu lalu saya mendapatkan kesempatan untuk review kembali tentang 3N ini, dan di perpustakaan sudah terdapat banyak panduan penggunaan 3N ini. Kalau perawat sudah terbiasa menggunakan NANDA-I, maka SNLs bisa diwujudkan, dan dengan menyebutkan kode 00002, maka semua perawat di dunia juga akan tahu bahwa itu kode untuk “Imbalanced nutrition: less than body requirements”. Kalau pun sekarang di Indonesia masih muncul NANDA-I versi bahasa Indonesia, itu tak lebih supaya perawat di Indonesia sayang dulu dengan NANDA, dan nantinya ketika semua sudah pure menggunakan NANDA, maka yang muncul adalah “Imbalanced nutrition: less than body requirements”, bukan lagi “Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh”.  

Pertanyaan lain juga sering muncul, “Apakah saya masih bisa menggunakan pedoman diagnosa yang lain macam Doengoes, Carpenito, atau Brunner and Suddarth?” Jawabannya, jelas masih bisa, karena buku-buku yang dikarang oleh nama-nama tersebut juga bersumber pada NANDA, hanya sayangnya tidak selalu up-to-date dengan NANDA. Contoh, Doengoes masih ada yang mencantumkan diagnosa “Resiko tinggi” (versi aslinya “High risk for”), tetapi itu adalah label problem NANDA sebelum tahun 2000 dan saat ini sudah direvisi menjadi “Risk for” atau “Resiko” saja. Sehingga kita tetap bisa menggunakan buku-buku yang mantap juga untuk bantal itu, tetapi label diagnosanya disesuaikan dengan NANDA-I yang terbaru. Kalau semua sudah menggunakan acuan ini, semua juga enak, semua juga ada evidence-nya, tidak ada yang dibingungkan karena si A bilang begini, si B bilang begitu…. Kalau sudah seragam, kompak deh kita para perawat ini… Betul betul betul????

 

Two thumbs for ibu Intan

(Ch. Yeni Kustanti, hasil “Pelatihan Regional Nursing Update; NANDA-NIC-NOC”)