Ada dua yang harus ditanyakan pada seorang peneliti: Apa masalah penelitian-mu? Adakah literatur yang relevan?

Satu tips yang sering digunakan adalah menggunakan 5 W dan 1 H:
– What: tentang apa itu?
– Why: mengapa harus dilakukan? Ada apa? Kenapa? Adakah relevansinya dengan keilmuan kita? Adakah manfaatnya? Tertarikkah nantinya orang untuk mengikutinya?
– Who: siapa? Kenapa dilakukan padanya? Kenapa tidak orang lain atau subjek lain?
– When: kapan?
– Where: dimana? Mengapa harus disana? Kenapa tidak di tempat yang lain saja?
– Which: apa spesifiknya? Adakah yang membedakan dengan yang lainnya?
– How: bagaimana nanti melakukannya? Mungkin tidak dilakukan? Mampu tidak saya melakukannya? Cukupkah sumber daya yang saya miliki untuk melakukannya? Adakah cara untuk melakukannya? Adakah literatur atau sumber yang dapat digunakan dan mencukupi?

Masalah penelitian merupakan suatu pondasi dalam melakukan suatu penelitian. Singkatnya, masalah penelitian adalah adanya gap atau kesenjangan antara harapan dengan kenyataan, teori dengan praktek, yang seharusnya dengan yang terjadi. Masalah penelitian bukan merupakan suatu rumusan tujuan. Ketika ditanya apa masalah penelitianmu? Beberapa menjawab: ”Ingin mengetahui…” dan itu adalah rumusan tujuan, bukan suatu masalah penelitian.

Masalah penelitian akan menentukan keberhasilan dari suatu penelitian. Ada seorang pakar penelitian yang menyatakan bahwa ”Ketika seorang peneliti sudah berhasil memformulasikan (baca: ”menemukan”) masalah penelitian, maka sebenarnya 50% penelitian tersebut sudah berjalan”. Begitu juga sebaliknya, ketika masalah penelitian itu belum ditemukan, maka penelitian itu selamanya tidak akan berjalan.

Judul atau masalah penelitian? Jelas jawabannya adalah menentukan masalah penelitian terlebih dahulu. Judul adalah sesuatu hal yang bisa dilakukan (baca: diformulasikan) belakangan.

Contoh:
– di dusun X terjadi wabah penyakit Y, dengan IR paling tinggi dibandingkan dengan daerah sekitarnya (perlu evidence angka kejadiannya)
– sudah dilakukan pelatihan tentang komunikasi teraputik sebanyak dua kali pada seluruh karyawan rumah sakit X, tetapi ada sebanyak 513 surat dari pasien selama tahun 2008 menyatakan bahwa komunikasi perawat di RS X tersebut sangat buruk
– mahasiswa keperawatan di Akper X sudah menjalani classroom activities, skills lab dan uji pre-klinik tentang cuci tangan. Tetapi setelah di klinik, hasil obeservasi menunjukkan bahwa 70% mahasiswa tidak melakukan cuci tangan dengan benar.

Dari contoh masalah penelitian di atas, tentu saja hanya sekedar contoh yang masih memerlukan suatu studi pendahuluan dan studi literature lanjutan untuk memantapkan evidence-nya, bisa dengan mudah diformulasikan judul penelitiannya.

Audit klinik atau penelitian? Baru-baru ini menyadari, bahwa ternyata ada satu teknik yang nampak sama nyata beda dengan sebuah penelitian. Namanya Audit Klinik. Audit klinik digunakan untuk melakukan suatu perbandingan antara suatu pedoman dengan pelaksanaannya. Metodologinya hampir sama dengan sebuah penelitian, simple descriptive statistics (mean, mode, median) atau Chi-square, T-test, dan lainnya. Bedanya dengan penelitian, sekali lagi, audit klinik menetapkan suatu standar atau pedoman atau guidelines. Misalnya: audit klinik kejadian infeksi nosokomial di suatu RS, pelaksanaan dokumentasi proses keperawatan dengan berdasarkan SAK atau pelaksanaan suatu intervensi keperawatan berdasarkan Instruksi Kerja (beberapa masih menyebutnya SOP). Data tambahannya bisa berupa: data demografi atau karakteristik (jumlah penderita, umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dari penderita misalnya). Tujuan utama dari suatu audit klinik adalah evaluasi.

Perlu dipertimbangkan: apa relevansi hasil penelitian tersebut untuk bidang keilmuan kita??? Terkadang seseorang terlalu euforia melakukan suatu penelitian yang ternyata tidak ada hubungannya atau tidak ada manfaatnya dengan bidang keilmuan kita.

Just remind you: tidak perlu susah-susah melakukan suatu penelitian kalau jawabannya sudah ada di tangan…. ”Saya ingin meneliti tentang penyebab dari penyakit thypus (sudah banyak sumber yang membahasnya kan?)”. ”Saya ingin sekali meneliti tentang perilaku mencuci tangan pada mahasiswa di Akper X, soalnya berdasarkan pengamatan saya menggunakan checklist IK mencuci tangan, 78% mahasiswa tidak melakukan teknik mencuci tangan dengan baik dan benar (jadi mau ngapain lagi kalau sudah tahu? Mungkin justru mencari kenapa kok mereka tidak melakukan cuci tangan dengan baik dan benar?  faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku cuci tangan, misalnya, dengan tetap menggunakan evidence di atas)”.

So, studi awal atau pendahuluan, baik itu merupakan studi lapangan atau studi literatur, sangat penting untuk dilakukan. Dari sana, kadang kita bisa punya ide yang jauh lebih menarik dari pada ide sebelumnya. Dengan kata lain, dengan menghabiskan banyak waktu di perpustakaan atau di warung internet (bukan untuk chatting atau facebooking tentu saja), kita justru bisa ”menemukan” banyak masalah penelitian di bidang keilmuan kita. Ingat, menemukan masalah berbeda, sangat berbeda, dengan mencari-cari masalah. Dalam penelitian, yang diperlukan adalah ”menemukan masalah”.

Hope it helps!