Seorang pasien tergeletak tak berdaya di tempat tidurnya.
Kepalanya berbalut perban, tanda beberapa waktu yang lalu baru mengalami craniotomy
Kesadarannya masih somnolent.
Di hidungnya terpasang selang NGT dan Oksigen.
Ada selang infus dan kateter di sisi yang lain.

Seorang mahasiswa datang padaku.
“Bu, saya mau angkat jahit di kepala pasien kamar 2D”.
Catatan nomer satu: dia tidak memanggil nama pasien tersebut, tetapi “kamarnya”.

Mahasiswa tersebut mulai sibuk menyiapkan peralatan angkat jahitnya.
Dan kulihat, benar-benar hanya set angkat jahit yang dia siapkan.
Saya tanya: “Hanya itu?”
Dia menjawab: “Hm… sebenarnya ada oral hygiene, penil hygiene, sonde, inhalasi. Tapi biar gentian dengan teman lain ya Bu?”
Catatan nomer dua: satu pasien perasatnya dibagi-bagi, dengan alasan biar semua kebagian perasat.
Saya jawab singkat: “Tidak. Kamu yang bertanggung jawab sepenuhnya”.

Dia masih saja sibuk menyiapkan set angkat jahit dan yang lain.
Saya minta dia untuk menyiapkan inhalasi dulu.
Dan, dengan sigap dia bawa 2 flacon kecil berisi cairan obat dan langsung pergi ke kamar pasien.
Saya cegat di depan kamar pasien, dan saya minta melengkapi peralatannya.
Tersipu malu, dia siapkan baki kecil, obat inhalasi dia masukkan ke bak instrument kecil, bengkok, satu pak kassa steril, 1 botol kecil aguades, lidi kapas steril dan alcohol dalam tempatnya.
Catatan nomer tiga: dia lebih senang bolak-balik ambil alat daripada antisipasi awal?

Kemudian dia mulai melakukan perasat yang lain.
Saat itu dia melakukan angkat jahit post craniotomy.
Begitu sampai di dekat pasien, dia langsung sibuk menyiapkan alat.
Saya ingatkan singkat: “Komter, Dik!”
Dia bilang singkat juga: “Somnolent kok Bu…”
Dengan pitch control lebih tinggi sedikit saya bilang: “Tetap lakukan!”
Catatan nomer empat: pasien tidak sadar….. bisa lakukan apa-apa seenaknya?

Ternyata jahitannya cukup banyak.
Datang satu temannya, lengkap dengan sarung tangan dan APD lainnya.
Setelah mengamati beberapa saat, mahasiswa yang baru datang tersebut minta ijin ke saya: “Bu, yang separo jahitan biar saya yang angkat ya?”
Saya jawab singkat: “Jelas tidak boleh!”
Catatan nomer lima: sama dengan nomer dua, ditambah komentar dalam hati “Ini manusia… bukan manekin di lab keperawatan!”

Hanya beberapa catatan singkat dari perjalanan saya bersama mahasiswa tercinta.
Merekalah yang mengajari saya, untuk selalu mengingatkan mereka.
Dari merekalah saya belajar, bagaimana memanusiakan pasien.
Tingkah laku mereka selalu membuat saya berpikir, bahwa saya harus terus belajar, memanusiakan manusia, supaya kelak, mereka juga terus mempunyai pemikiran untuk memanusiakan pasien dan tetap menghormati mereka…..