Mendapat kesempatan kuliah dengan orang luar, ternyata benar-benar merupakan kesempatan yang luar biasa. Di luar itu, banyak hal yang bisa membuat mindset menjadi berubah. Contoh yang paling nyata, saat kami diminta untuk membuat portfolio dan melihat betapa tebal portfolio yang kami kumpulkan, respon pertama dari dosen kami adalah: “So, there is no tree left in Indonesia, isn’t it?

Berikut ini kutipan berita dari: http://www.riaupos.com/v2/content/view/9891/91/

Untuk bisa menjadi bahan baku kertas, yang digunakan manusia untuk menulis, mencetak buku, koran, majalah, membungkus goreng, kado, dan mengelap tangan dengan kertas tissu, menurut Nazaruddin membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Setidaknya dibutuhkan waktu selama enam tahun. “Lamakan menunggunya untuk bisa dimanfaatkan jadi bahan baku kertas? Artinya, kalau anak-anak menanamnya saat kelas satu SD, maka baru bisa memanfaatkannya sebagai bahan baku kertas ketika sudah tamat SD. Jadi kalau pakai kertas harus hemat. Kalau buku tulisanya masih ada yang kosong jangan dibuang,” ujar Nazaruddin. Sekedar tambahan, menurut Prof Dr Sudjarwadi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam media massa, satu rim kertas setara dengan satu pohon berusia lima tahun. Jadi bisa dibayangkan berapa banyak pohon yang harus ditebang untuk memenuhi kebutuhan kertas manusia.

Tambahan dari sumber lain: http://mahattir72.blogspot.com/2008/10/hemat-kertas-selamatkan-hutan.html

Seorang ahli dari University of Maine, bernama Tom Soder melakukan taksiran, diperlukan hampir 24 pohon jenis hardwood yang berdiamater 6 –8 inci serta tinggi 40 kaki menghasilkan 1 (satu) ton kertas tulis. Nominalnya bisa bervariasi tergantung dari jenis kertas yang dihasilkan dan cara pembuatannya. Jika dibuat perincian lebih lanjut maka hubungan antara jumlah pohon dan banyaknya kertas yang dihasilkan :

• 1 ton kertas tulis membutuhkan 24 pohon • 1 ton kertas koran menggunakan 12 pohon • 1 pohon menghasilkan sekitas 8000 kertas photocopy • Untuk menghasilkan 1 ton kertas berkualitas tinggi maka diperlukan sekitar 15 pohon • Untuk menhasilkan kertas berkualitas rendah maka diperlukan sebanyak 8 pohon.

Dari perhitungan diatas bisa kita bayangkan berapa banyak pohon yang dibabat habis untuk keperluan pembuatan kertas, berapa luas hutan kita yang akan hilang, belum lagi kertas yang dipakai untuk membuat kertas tissue. Tissue tiolet, tissue makan, lap kertas sekali pakai didapur dan banyak lagi. Jika diambil contoh pemakaian kertas dan berapa pohon yang ditebang untuk keperluan tersebut di kantor saya maka inilah hasilnya : Asumsinya Kertas HVS F4 70 gsm dengan berat per 1 rim (500 sheets) sebesar 3,5 kg Jika terdapat 10 divisi dan 24 unit kerja dengan asumsi masing-masing pemakaian kertas minimal perbulan sebanyak 1 rim maka diperlukan kertas sebanyak 34 rim atau 199 kg per bulan. Jika dalam satu tahun dengan asumsi yang sama maka keperluan kertas adalah sebesar 1,428 kg atau 1,43 ton kertas. Ini berarti dalam satu tahun kantor saya menghabiskan kurang lebih 25 pohon seukuran tiang listik. Bayangkan saja jika untuk keperluan seluruh dunia, berapa pohon yang harus ditebang.

Hum… sama sekali belum pernah terlintas di pikiran. Pendidikan berbasis teknologi pasti bisa menjadi solusi yang menyenangkan. Kenapa menyenangkan? Seorang teman, beliau mengajar ilmu komputer & internet, mengatakan bahwa kebanyakan mahasiswa merasa senang ketika tiba waktunya belajar komputer & internet. Betapa tidak, setelah berkutat dengan penyakit, anatomi & fisiologi, dll, mereka bisa sedikit refresh. Hot-spot bukan lagi barang langka, mengapa tidak dimanfaatkan?
Memang untuk mewujudkan web-based learning, perlu biaya yang tidak sedikit. Tetapi bukan alasan untuk tidak memulainya dengan cara yang paling sederhana. Misalnya, meminta mahasiswa mengirim bahan untuk konsultasi melalui email. Cara ini saya terapkan, dan ternyata banyak mahasiswa yang menyambut baik. Toh di kampus ada fasilitasnya, pikir saya. Dengan demikian, mahasiswa bisa sangat-sangat berhemat. Betapa tidak? Biasanya mereka harus print bahan konsultasi yang berlembar-lembar, sesampainya di tangan dosen, dicoret-coret. Whuaaa….. Dengan cara via email tersebut, mahasiswa banyak berhemat, ramah lingkungan & menyenangkan. Bagaimana caranya memberikan comment? Cukup klik di “view”, “toolbar”, tampilkan “reviewing”. Dengan demikian dosen bisa memberikan komentar pada tulisan mahasiswa. Mudah bukan?
Yah, sepertinya mudah, tapi prakteknya tetap susah. Kenyataannya, banyak dosen yang belum familiar dengan teknologi komputer, atau alasan lain yang menyatakan “sayang dengan mata saya kalau terlalu lama di depan komputer”. Duh! Pakai filter di monitor kan bisa. Setiap beberapa menit istirahat… FYI, kebanyakan dosen di luar negeri (khususnya di kampus saya), sudah tidak lagi menggunakan hard copy alias paper work. Semua pekerjaan dosen hampir dilakukan di depan komputer. Saat tidak mengajar, kalau berkunjung ke kantor mereka, bisa dipastikan jika mereka selalu berada di depan komputer. Dan enaknya, dosen tidak perlu bawa-bawa pekerjaan mahasiswa ke rumah, yang beratnya bisa bikin sakit punggung saking tebalnya, tetapi cukup bawa laptopnya, flash disknya, atau buka internet di rumah, atau di mana saja, kapan saja…. Sangat efektif menurut saya. Bayangkan saja jika para dosen tersebut, yang sering bepergian karena harus mengajar di tempat lain, membawa sekian banyak paper work mahasiswa (siap-siap over bagage deh).
Memang tetap tidak ada yang bisa menggantikan komunikasi face-to-face antara dosen dan mahasiswa. Pertemuan langsung tetap diperlukan. Tetapi karena berbagai alasan, bisa saja tetap diterapkan, asal tahu strateginya. Semisal, waktu liburan mahasiswa dikejar waktu untuk juga menyelesaikan karya tulisnya. Kasihan juga. Kalau meminta mahasiswa datang ke rumah, kurang populer juga. Dengan menggunakan teknologi, dosen tetap bisa melayani mahasiswa. Ya memang harus sedikit berkorban karena harus link ke internet (langganan sendiri atau cari-cari line internet). Tetapi nantinya, hoped, tidak akan ada lagi yang mengeluh: “Duh, punyaku belum di-ACC. Pembimbingku pergi terus.”
Ada yang menyusul? Atau suatu saat nanti benar-benar “no tree left in Indonesia…”😮