Entah berapa tahun yang lalu, saya mengenal beliau. Saat itu bahasa Inggris saya benar-benar jauh dari kata baik. Beliau adalah seorang chairman di satu perusahaan hospital equipment di Amerika. Tidak sengaja kenalannya, tetapi kenal begitu saja, saat saya ikut di salah satu nursing discussion group. Kemudian berjalan begitu saja.

Beliau sahabat yang baik, sangat baik. Saat bertemu pertama kali dengan beliau, saya baru tahu kalau ternyata beliau adalah orang yang sudah berumur. Punya istri, tetapi tidak mempunyai anak. Hubungan kemudian berlanjut layaknya ayah dan anak. Mempunyai hobi keliling dunia, sendirian, karena sang istri juga punya kesibukan.

Bagaimana memaknai hubungan kami? Beberapa teman mengusulkan untuk minta mobil, rumah, atau jalan-jalan ke Amerika. Tetapi seperti itukah makna sahabat? Dia sudah begitu baiknya. Pertama kali datang, beliau bawakan banyak oleh-oleh untuk saya: kaos besar, kaos kecil (karena beliau belum tahu ukuran saya) cetakan Los Angeles, parfum kenamaan dari Amerika (masih saya simpan sampai sekarang, tidak pernah saya gunakan), beberapa CD musik, dan entah apa lagi saking banyaknya. Saat valentine, beliau ada di Asia juga, dan menitipkan sekotak besar coklat buatan Amerika untuk saya. Buku NANDA terbaru selalu dia orderkan untuk saya. Saat gempa besar di Yogya, beliau salah satu orang yang langsung berusaha untuk mengontak saya, meski susah melakukan komunikasi via HP, hanya sekedar menanyakan apa yang bisa beliau bantu untuk kami. Waktu saya mau berangkat ke Australia, beliau sangat senang sekali. Sampai di Australia, beliau menanyakan bagaimana tempat tinggalku, nyaman atau tidak, dan jangan sungkan menghubunginya jika perlu sesuatu. Bahkan, dia menawarkan bantuan jika saya ingin pindah ke Australia, supaya mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Terakhir, beliau menawarkan NANDA yang terbaru akan dia orderkan untuk saya jika memang saya memerlukannya.

Sahabat? Pertama kali sempat takut, tidak tahu siapa dia, apalagi orang dengan latar belakang budaya barat. Janjian ketemu pertama kali di lobi hotel besar di Yogya, saya sempat khawatir. Tetapi setelah bertemu, beliau begitu tulus. Saya tidak tahu banyak tentang beliau, yang saya tahu, beliau banyak mengajarkan kepada saya tentang hidup. Beliau termasuk orang yang pertama merubah mindset saya. Tidak hanya barang-barang yang beliau berikan, tapi juga pembelajaran tentang hidup. Bagaimana saya harus selalu punya mimpi, bagaimana saya harus selalu bersemangat dalam hidup, dan bagaimana saya harus selalu mengatakan I CAN DO IT!

Beliau pasti orang kaya. Setiap saat bisa berpergian, setiap saat bisa membelikan saya barang-barang, tetapi penampilannya sangat sederhana. Apalah saya untuk beliau, tetapi dengan senang hati beliau telpon saya saat berada di Jakarta, tetapi tidak bisa mampir ke Yogya. Tahu-tahu ada laptop mahal ada di tangan saya, tanpa saya memintanya, ketika dia tahu laptop lama saya rusak. Dia bilang, apapun yang dia bisa bantu, akan dia usahakan. Sampai-sampai ada teman yang bergurau nitip dimintakan laptop ke beliau.

Apa artinya seorang sahabat? Seperti beliaukah? Yang atas apapun pemberiannya, hanya saya balas dengan beberapa kantong plastik sekoteng. Pernah saya dengar ada teman yang menjalin hubungan seperti saya, tetapi hubungan yang benar-benar jauh. Saya tidak… hubungan kami sebatas via email dan telpon. Selama mungkin 4-5 tahun ini, baru dua kali saya bertemu beliau, pertemuan yang singkat, makan sop buntut, nonton gamelan, tukar oleh-oleh dan sudah. Tetapi beliau selalu menghargai saya, selalu menjawab email-email keluh kesah saya, memberikan nasehat-nasehat yang sangat logis saat saya mulai putus asa, menawarkan bantuan, meski tidak selalu bisa bertemu.

Setelah sekian lama, apa jawaban beliau ketika saya tanya mengapa beliau selalu baik ke saya? Jawaban beliau sangat singkat: Because you are so special. Seseorang akan terlihat baik di mata kita, jika kita memandang dia adalah orang yang special. Sebaliknya, jika tidak bisa menghargai orang lain, maka perlakuan yang sama juga akan kita dapatkan…..