Reader’s Digest edisi September 2008 membahas satu topik yang menarik: “What A Hospital Learned from F1”. Tetapi karena saya bukan termasuk pecinta F1, tetapi MotoGP, saya akan membahasnya dengan sedikit sentuhan versi GP.

Tulisan ini dimulai oleh Juliet Butler, penulisnya, dengan menceritakan seorang dokter bedah, yang selesai membedah pasiennya dan mengecek segala sesuatu tentang pasien, memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Hal ini dia lakukan karena dia yakin bahwa kondisi pasien baik dan sudah menjelaskannya pada keluarga pasien bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja. Selang beberapa lama setelah pasien dipindahkan ke ruang perawatan, sang dokter mendapat telpon dari rumah sakit, mengabarkan jika si pasien meninggal dunia….

Sang dokter sangat terkejut. Beban yang sangat luar biasa untukknya. Betapa tidak? Dia sudah menjanjikan pada keluarga bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tetapi kenyataannya? Hal ini membuat dia berpikir dan berpikir. Dia mencoba menganalisis situasi yang terjadi. Setelah dioperasi, pasien dipindahkan ke ruang perawatan. Pada saat transfer pasien, alat-alat bantu yang menggunakan power di kamar bedah, dipindahkan sementara ke portable power supply. Begitu sampai ke ruang perawatan, alat-alat kembali dipindahkan ke power yang ada di ruang perawatan. Apa yang salah??? Begitu dia pikir.

Suatu ketika, tanpa sengaja si Dokter melihat pertandingan F1. Saat mampir ke pit-stop, hampir 20-an crew langsung melakukan tugasnya tidak lebih dari tujuh detik saja. Tidak ada yang bicara atau memerintah yang lain. Waktu sangat berharga, waktu akan sangat mempengaruhi prestasi si pembalap. Begitu juga dengan GP, semua crew bekerja sama, perbaiki sana-sini, jangan sampai ada yang salah. Kredibilitas team menjadi taruhan. Ketika si pembalap kalah, itu bukan mutlak kesalahan atau ketidakmampuan si pembalap, tetapi seluruh team. Apa yang terjadi dengan team yang ada di rumah sakit?

Si dokter sangat tertarik dengan kinerja team balap. Begitu rapi, begitu disiplin, tidak ada yang tidak melakukan fungsinya. Akhirnya di dokter konsultasi dengan salah seorang manager team balap. Si manager mengamati dengan seksama sebuah video tentang transfer pasien dari dan ke ruang bedah. Akhirnya dia membuat suatu kesimpulan bahwa meski team kesehatan banyak, tetapi banyak yang sepertinya merepotkan diri, meski tidak ada kaitannya langsung dengan pasien. Saat pemindahan pasien, banyak kru kesehatan di sana, tetapi tidak banyak yang benar-benar bekerja untuk pasien. Malahan, suasana sangat ribut karena yang satu berusaha memerintah yang lain, begitu juga sebaliknya. Benar-benar sangat gaduh, padahal tidak penting bekerja dengan mulut.

Melalui observasi yang mendalam, si manager dan dokter mencoba membuat suatu protap tentang penanganan pasien. Diperlukan suatu pelatihan dan check-list khusus, sehingga setiap anggota team kesehatan tahu benar apa yang harus mereka lakukan dengan efektif dan efisien. Sama dengan crew balap F1 dan GP, tidak ada yang tidak bekerja. Dengan demikian, pasien (yang dalam balapan adalah si pembalap, yang baru berjuang dengan nyawa), benar-benar menjadi prioritas. Tentu saja diperlukan kerjasama yang sangat baik antara dokter bedah, dokter anesthesia dan perawat. 

Akhirnya, dengan protokol yang baru, si dokter pada suatu operasi merasa lebih mantap dibandingkan dengan banyak operasi yang selama ini dia lakukan, karena saat ini, dia didukung oleh sekelompok team yang “sudah tahu benar apa yang memang seharusnya dilakukan”. Masing-masing bekerja sesuai dengan tugas yang harus dilakukan dan yang jelas, semua dilakukan dalam suasana yang tenang, tidak terlalu banyak berbicara. Sangat efisien dan efektif.

Operasi selesai, dokter memberitahu keluarga, pasien dipindahkan…. dan segala sesuatunya baik-baik saja, atau paling tidak lebih baik situasinya dari yang sebelum-sebelumnya.

Sumber: “Reader’s Digest”, edisi September 2008, rdasia.com, Images from: http://www.enterleisure.co.uk/0310-24-1.JPG and http://resources.motogp.com/files/images/xx/2008/MotoGP/Misc/non/223725_Dani+Pedrosa+with+his+Repsol+Honda+crew+and+Michelin+staff-800×600-jun3.jpg.preview.jpg