Sabtu kemarin saya bertemu dengan beberapa lulusan yang berniat mencari pekerjaan di luar negeri. Saya diminta pimpinan untuk memandu mereka, mulai dari mengisi form pendaftaran sampai cerita-cerita seputar pekerjaan perawat di luar negeri. Syarat utama yang saya lihat adalah test bahasa Inggris (IELTS, TOEFL, dll). Waktu mereka bertanya lebih baik ambil yang apa, saya bilang ambil TOEFL saja. IELTS mahal dan lebih sulit (untuk saya). Tetapi perlu pengorbanan….

Waktu saya mau cari beasiswa, saya pernah kursus persiapan di beberapa tempat. Jadi pagi kerja, jam 13-an ijin TOEFL preparation (paper based) di suatu universitas (A), selesai dari sana, langsung berangkat ke tempat kursus B, TOEFL preparation juga (computer based), habis itu langsung ke tempat kursus C, ambil English Conversation. Cara ini cukup membantu saya meningkatkan grade nilai TOEFL saya. Tetapi saya sarankan kepada mereka untuk mengambil General English saja selain TOEFL preparation, sedangkan English Conversation nanti saja kalau sudah lulus TOEFL. Nilai yang mereka perlukan adalah 550 (paper based). Cukup berat juga. Terakhir test TOEFL, saya hanya dapat 526 (hehehe…) setelah itu saya concern ke IELTS preparation karena pihak university mintanya IELTS. Jadi saya belum pernah tahu nilai akhir saya untuk TOEFL berapa karena saya tidak melanjutkan kursusnya. Tetapi yang jelas saya tidak pernah menyesal sekalipun saya harus bayar mahal untuk TOEFL preparation, karena saya selalu berusaha menikmatinya.

Setelah itu mereka bertanya bagaimana kerja di luar negeri. Saya bilang saja: ENAK! Budaya baru, orang-orang baru, sistem yang berbeda, peralatan yang berbeda juga… Tidak ada ruginya meski hanya sebentar kerja di luar negeri (saya tidak kerja, tapi field trip dan practice saja). Tapi dari teman-teman yang bekerja, minimal mereka bisa dapat $20 per jamnya. Kalau yang ditawarkan ke teman-teman kemarin hampir 8 juta rupiah per minggu-nya. Dikurangi taxes minimal bisa mengantongi 20 juta rupiah per-bulannya. Hum…

Tapi itu kalau ketrima. Yang perlu dipikirkan sekarang dan menjadi prioritas adalah bagaimana menembus TOEFL dan NCLEX. Setelah TOEFL harus terus kursus bahasa Inggris supaya bisa mengerjakan NCLEX-nya. Pinter tapi tidak bisa bahasa Inggris ya percuma kalau ingin kerja di luar negeri. Maka perlu perjuangan dan pengorbanan. Kalau ada kesempatan sabet saja, asal dibarengi perjuangan dan pengorbanan itu tadi. Kalau sudah berhasil, semua itu tidak akan ada artinya kecuali….. a wonderful life! Kalau memang tidak betah disana, paling tidak sudah mengantongi pengalaman yang luar biasa.   

Tidak bisa dikerjakan hanya dalam hitungan minggu. Lebih baik yang masih tahun-tahun awal mulai memikirkan untuk meningkatkan kemampuan dalam bahasa Inggris. Yakin deh, masa depan cerah… Paling tidak banyak hal yang bisa kita dapatkan kalau bisa menguasai bahasa Inggris… Keep going guys!