Penulis: Robin N. Fiore, Ph.D.

Ketika mencari literatur tentang Culture in Practice, judul Ethics, Culture & Clinical Practice terasa begitu menarik. Setelah membacanya, isinya memang cukup menarik. Kata budaya tentu melekat erat bagi setiap manusia Indonesia. Betapa tidak… Indonesia punya lebih dari 13 ribu pulau, dengan berbagai ragam budaya. Issue tentang keragaman budaya ini tidak hanya berimbas pada kepuasan pasien, tetapi juga mempunyai efek di outcome pelayanan kesehatan.

Jika berbicara mengenai budaya, tentu akhirnya berujung pada adanya kelompok minoritas & kelompok mayoritas atau yang dominan. Cultural competency atau kompetensi berbasis budaya, muncul dari suatu strategi untuk meningkatkan pengambilan keputusan dan peningkatan hasil pelayanan kesehatan, melalui komunikasi yang baik di antara pemberi layanan kesehatan, pasien dan keluarganya. Mengapa harus diterapkan? Untuk kelompok dominan, mungkin memang tidak masalah. Tetapi bagaimana dengan kelompok minoritas? Isu yang pernah saya angkat adalah diskriminasi pelayanan kesehatan terhadap kelompok usia lanjut atau lansia. Selain itu, tentu saja banyak contoh lain diskriminasi terhadap kelompok minoritas, seperti: penderita HIV/AIDS, TBC, kaum homo atau penduduk pedalaman. Budaya berarti luas, tidak hanya menyangkut masalah ras saja. Culture in Practice lebih menegaskan adanya pembedaan pelayanan terhadap kaum minoritas dan kelompok dominan. Fiore memberikan contoh bahwa budaya dalam Culture in Practice menyangkut masalah bahasa, penduduk asli, ras, pakaian, diet, agama, status sosial, perilaku, pengalaman dan penampilan.

Sepertinya masih sulit sekali dihilangkan. Penampilan fisik terkadang dianggap mewakili status pasien yang sedang dihadapi. Ketika menghadapi pasien yang beraal dari luar negeri atau luar daerah, mereka seperti diabaikan hanya karena masalah bahasa. Karena perawat tidak menguasai bahasa mereka, akhirnya muncul gangguan interaksi antara pasien dengan perawat. Belum lagi masalah perilaku. Apakah harus ada pembedaan layanan antara pasien yang orang baik-baik dengan pasien yang penjahat? Bukankah setelah masuk rumah sakit, ya akhirnya kedudukan mereka sama semuanya? Klien atau pasien. Masalah diet juga. Ada suatu diskusi dengan sahabat: mengapa kalau katering diet ada, tetapi restaurant atau warung diet belum ada? Apakah ada kekhawatiran munculnya stigma: Oh, kalau masuk warung itu, berarti dia sakit…

Fiore mengungkapkan, perawatan yang lebih berfokus pada budaya pasien daripada kebutuhan pribadi pasien tersebut terhadap pelayanan kesehatan, akan menimbulkan konflik dalam layanan kesehatan. Sering yang muncul adalah bahwa pasien itu berbeda. Memang akan selalu berbeda karena manusia itu unik. Tetapi pembedaan yang dimaksud bukan dari keunikan pasien, tetapi dari sikap pemberi layanan kesehatan terhadap latar belakang budaya pasien. Pelayanan keperawatan memang seharusnya diberikan berdasarkan respon yang diberikan oleh pasien terhadap kondisi sakitnya, tetapi prakteknya, pembedaan ini lebih ke arah diskriminasi pelayanan. Misalnya, pasien kulitnya berbeda dengan kulit perawat. Sikapnya jadi lain saat merawat pasien tersebut. Seharusnya, apapun kulit pasien, ya tetap dirawat sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan yang diperlukan.

Isu medication error baru sering di blow-up. Sebenarnya sudah lama terjadi, tetapi karena akibat yang ditimbulkannya tidak muncul secara langsung, akhirnya banyak kasus yang berlalu bgitu saja. Medication error atau error-error yang lain, diungkapkan oleh Fiore dapat diminimalkan apabila semua pihak yang terlibat dalam pelayanan kesehatan membangun kognitif yang sesuai. Error yang dimaksudnya Fiore meliputi: Representational Error, Visceral Error dan Bias. Mungkin Visceral Error yang paling sering terjadi. Visceral error muncul sebagai suatu perasaan negatif terhadap pasien, apapun bentuknya. Bisa dikarenakan sex, kebersihan diri yang kurang, kepribadian pasien atau karena gender, etnis, ras dan orientasi seksual pasien. Akibatnya, muncul komentar: pasien ini bau, kotor, hati-hati dia penyuka sesama…. dan sebagainya. Apa pendapat Sahabat jika mendengar nama Ryan? Visceral error-kah yang muncul? Jangan-jangan, ketika menghadapi pasien yang bernama Ryan langsung membuat perasaan berbeda…

Terdapat banyak area yang rutin berhubungan dengan misundertanding dalam pelayanan kesehatan. Ketidakpercayaan pasien terhadap sistem kesehatan, interpretasi terhadap sakit dan ketidakmampuan, gaya dalam pengambilan-keputusan, penolakan perawatan, hubungan kekeluargaan, ritual kematian, dan lain sebagainya. Saat pasien menolak suatu tindakan perawatan, bagaimana perasaan perawat? Apakah berubah? Bukankah itu juga hak pasien untuk menolak suatu intervensi? Bagaimana kalau memang alasannya penolakannya bisa diterima sebenarnya? Remember about the human rights. Fiore menyatakan, kadang petugas kesehatan merasa lebih baik pada saat itu, padahal mungkin pasien menghendaki second opinion untuk perawatan dirinya terlebih dahulu. Dan itu hak-nya. Tiga aspek untuk cultural competency adalah: kesadaran diri, ketrampilan komunikasi terapeutik dan pengetahuan tentang budaya yang diperlukan.

Isu lain adalah memaksimalkan otonomi pasien. Pasien dan keluarganya harus dapat membuat keputusan berdasarkan pemahaman mereka terhadap nilai hidup dan resiko perawatan kesehatan yang diberikan kepadanya. Jelas artinya bahwa informed consent diperlukan. Perawat seharusnya lebih banyak bicara dengan pasien. Infromed consent dapat melindungi pasien dari paternalisme petugas kesehatan. Autonomy is best understood as emporwerment rather than some sort of radical personal choice (Fiore). Masalahnya adalah, sebanyak apa informasi yang bisa diberikan kepada pasien mengenai diagnosis dan prognosis mereka? Bukannya terlalu banyak informasi dapat meningkatkan kecemasan pasien? Terlalu sedikit informasi juga membuat pasien tidak dapat mengambil keputusan dengan tepat berdasarkan pemahaman mereka. Masih ada masalah bagaimana menjelaskannya dan kepada siapa. Kalau kepada keluarga pasien saja, bagaimana dengan hak pasien? Kalau kepada pasien, bagaimana kesiapan mentalnya?

Fiore merekomendasikan untuk mengkaji terlebih dahulu riwayat sosial dan budaya pasien beserta keluarganya. Dengan komunikasi yang baik, sepertinya masalah di atas dapat diminimalkan.

Culturally appropriate care mengacu pada pelayanan kesehatan yang menghormati kepercayaan-budaya pasien dalam praktek kesehatan. Fiore mengaskan bahwa menghormati pasien adalah syarat mutlak dalam pelayanan kesehatan. Menghormati di sini dalam artian bahwa petugas kesehatan sebaiknya mau menerima pandangan (worldview) pasien. Perawat sebagai advokat pasien, juga seharusnya menolak pelayanan kesehatan yang bertentangan dengan nilai moral pasien.

Kesimpulan: kompetensi lintas budaya adalah suatu isu etis. Pelaksanaannya memerlukan komitmen dari pemberi layana kesehatan. Pendekatan utamanya adalah dengan menggunakan informasi yang berdasar pada atau menghormati budaya-kepercayaan pasien.

Article was taken from http://www.DCMSonline.org