Yin and Yan are the interdependence of opposites (http://www.wushu.org/eng/0801.php). Keseimbangan. Itu intinya kan?

Proyek idealis saya banyak, salah satunya adalah sekolah ke Eropa, Amerika atau Filipina. Mimpi ya? Tapi dari mimpi juga akhirnya saya bisa kuliah di Australia. Proyek idealis saya yang pertama: kuliah setinggi-tingginya. Bahkan karena keinginan ini, saya sampai harus meninggalkan (atau ditinggalkan?) tunangan saya. Gila ya? Tapi itulah saya dulu. Yang ada di pikiran saya, gimana caranya bisa terus sekolah. Waktu ingin bisa bahasa Inggris, saya tidak peduli meski harus ikut jadual yang mengerikan: pagi kerja sampai siang, siang kursus di Sanata Dharma, sore kursus di ELTI, pulang jam 21.30 setiap harinya. Karyawan di asrama sampai hapal jadual saya.  

Tetapi itu dulu. Sekarang saya berusaha untuk seimbang. Tahun lalu saya hamil, setelah 1.5 tahun menunggu. Tentu berita yang sangat menyenangkan. Kemudian ada pilihan, ke Belanda dan kuliah di Australia. Saya ambil dua-duanya. Kalau kemudian batal ke Belanda karena kehamilan saya, saya tidak terlalu menyesal. Seimbang: waktunya mikir anak. Itu prioritas saya tentu saja. Tidak ada yang bisa menggantikan. Toh ada kesempatan lain, kuliah ke Australia. Saat saya di hadapkan dua pilihan: kuliah atau anak. Saya tidak lagi idealis untuk mengutamakan kuliah, tentu milih anak. Tetapi Tuhan mempunyai rencana lain. Saya keguguran. Whuaaa….. menangis jadi kegiatan saya yang baru. Tapi tidak berlangsung lama. Meski tetap menyesal, tetapi Tuhan memberikan rencana lain. Saya dapatkan beasiswanya dan berangkatlah saya ke Australia. Senang tentu saja, tetapi kalau boleh memilih, tentu saya memilih anak saya.

Sejak itu, saya berusaha untuk membuat hidup saya seimbang. Mimpi boleh. Tetapi harus tetap memikirkan yang namanya keseimbangan. Saya tetap mempunyai mimpi ke tiga negara itu: Filipina, Eropa dan Filipina, yang saya tahu kalau saya pasti dapat banyak hal tentang keperawatan di tiga tempat itu. Tetapi saya juga harus memikirkan keluarga saya. Saya tidak boleh egois. Let it flow saja. 

Saya juga tidak mau jadi workholik, gila kerja. Ada waktunya kerja, ada waktunya istirahat. Ada waktunya belajar, ada waktunya having fun. Ternyata hidup seimbang itu lebih menyenangkan. Senin sampai Sabtu kerja, mulai Sabtu sore senang-senang. Tentu maksudnya refreshing saja. Meski dosen, masih bisa dilihat saya jalan-jalan pakai jeans, kaos, tas slempang. Bahkan teman-teman yang tomboy juga masih banyak. Mungkin ada yang lihat saya boncengan pakai motor cowok, karena ada satu sahabat saya yang tomboy-nya minta ampun (meski sering saya ejek, tomboy kok masih pakai jepit rambut). Saat usia 21 tahun, saya sudah dipaksa untuk menjadi “tua”. Tapi biarlah saya “tua” di kampus, tapi di luar itu saya bebas. Jalan di mall sendirian, hal biasa. Dari jalan-jalan, kadang saya bisa dapat banyak ide. Meski kadang pegal karena berdiri lama di Gramedia, nyolong baca di sana. 

Eiittt…. jangan disangka saya adalah kutu buku. No way! Dulu memang. Hampir setiap dua bulan sekali, saya kumpulkan uang dari gaji saya untuk borong buku. Bisa dipastikan di tas saya selalu ada buku. Saat almari di rumah dan kantor sudah penuh, saya kenalan dengan internet. Sejak saat itu, saya sudah amat jarang sekali beli buku. Belum tentu 6 bulan beli buku. Sekarang saya punya cara supaya saya tidak harus membaca buku. Internet itu tadi. Pulang kerja, meski sudah malam, barang 30 menit buka internet. Lihat berita-berita singkat saja. So, saya tidak harus menghabiskan waktu saya untuk membaca, tetapi tetap bisa belajar. Asyik kan?

Bosan dan jenuh dengan rutinitas, sering saya alami. Tapi sekali lagi, jangan kalah dengan itu. Saat pikiran sudah penuh, hang out saja. Kebetulan sahabat dan suami saya termasuk orang yang suka sekali wisata kuliner. Itu cara saya supaya tetap seimbang. Siang tadi, dengan seorang teman kantor, saya diskusi, alangkah menyenangkan jika mahasiswa punya waktu barang sebulan sekali untuk main musik bareng-bareng. Tadi mereka begitu senangnya bernyanyi dan tertawa. Kasihan sekali jika harus belajar dan belajar, tetapi tidak ada acara untuk melepaskan ketegangan. Belajar memang yang utama, tetapi keseimbangan akan menjadikan semuanya lebih manis. Jika sudah mulai tidak seimbang, energi negatif-lah yang keluar: marah-marah dan menyalahkan orang lain. Waduh! Sudah waktunya refreshing tuh….

Tahun lalu, saya masih pegang urusan praktik. Tiada hari tanpa pikiran tentang praktik. Saya rasakan betul tidak enaknya hidup tak seimbang. Saya tidak se-produktif ini menulis. Saat saya tidak lagi memegang bagian praktik, apalagi baru kuliah, ide-ide bermunculan, dan selalu ada keinginan menulis, sharing dengan orang lain, pikiran jadi lebih terbuka. Nah, keseimbangan tidak membuat orang jadi mati ide kan? Justru banyak ide bermunculan. Hanya dalam waktu tiga bulan, saya sudah membuat lebih dari 40 tulisan, meski semuanya tidak saya terbitkan di sini. Menyenangkan sekali…. Kalau boleh memilih, saya ingin seperti ini saja. Toh menjadi leader tidak selalu harus jadi pimpinan (ini definisi saya sendiri). Tapi pasti, suatu saat nanti saya tidak punya pilihan lain…. Dan di saat itu, mudah-mudahan saya masih ingat prinsip keseimbangan ini.   

Ada yang mau mencobanya? 

Hidup hanya sekali. Harus jadi berarti (hum… kata-kata siapa ya?). Tetapi, menjadi berarti bukan alasan untuk membuat hidup menjadi tersiksa. Terlalu idealis hanya membuat gangguan keseimbangan hidup. Saya baru belajar untuk membuang kata “pokoknya….” dari pikiran saya, meski masih belum berhasil. Saya ingin menjadi “lain”, tetapi dengan cara saya sendiri.

Sahabatku, jangan ngoyo. Selalu ada cara untuk membuat hidup menjadi berarti. Caranya? Temukan dan kenali caramu sendiri untuk menjadikan dirimu “lain dari yang lain”. Untuk saya berhasil, belum tentu untukmu. Juga sebaliknya.

Image was taken from http://wood-pellet-ireland.blogspot.com/2007_06_01_archive.html