Menjadi perawat adalah cita-cita saya sejak SD. Setiap kali ditanya siapapun, pasti saya akan menjawab: “Ingin jadi perawat”. Alasan saya waktu itu sederhana: saya diajak oleh sepupu saya yang bekerja di suatu rumah sakit. Waktu itu yang terus saya perhatikan adalah perawat-perawatnya. Hum…. baju putih, menyuntik, melayani pasien… Kayaknya menyenangkan sekali. Cita-cita ini terus bertahan meskipun banyak yang berusaha untuk mengalihkan keinginan saya. Lulus SMP, saya sempat akan mendaftarkan diri ke SPK. Tetapi budhe saya bilang, harus SMA dulu. Dan akhirnya, saya masuk ke Akper. 

Saat tingkat dua, pikiran saya mulai berubah. Ternyata menjadi perawat tidak mudah. Banyak hal yang harus dipelajari, banyak hal yang tidak saya mengerti. Huh! Mau jadi perawat saja kok sulitnya minta ampun. Sempat ingin berhenti, tetapi kasihan juga orang tua yang sudah keluar uang sedemikian banyaknya. Akhirnya yang saya pikirkan hanya satu: gimana caranya menjadi perawat yang tidak biasa. Idealis ya? Jelas! Anak muda gitu loh!

Sampai akhirnya saya sampai ke suatu titik dimana saya mulai mencintai pekerjaan ini. Lulus dari Akper, sebelum menjadi pengajar, saya harus magang dulu di rumah sakit. Ternyata, di sinilah sisi menyenangkan dari keperawatan saya temukan. Saat kuliah, yang ada di kepala mungkin hanya gimana caranya bisa mendapat nilai bagus, kumpul tugas tepat waktu dan menguasai yang namanya askep. Tetapi saat magang, hal itu sudah tidak harus dipikirkan lagi. Senang rasanya berinteraksi dengan pasien. Melihat mereka bisa pulang dengan sehat, meski dulu waktu datang tidak ada yang bisa mereka lakukan selain bergantung pada orang lain. Dan saya anggap, pasien-lah guru saya yang terutama selain guru-guru dan dosen-dosen saya. Mengapa?

Saya ingat satu pasien, laki-laki. Ruangan, nomer kamar, wajah, bahkan posisi tidurnya masih saya ingat sampai sekarang. Yang saya tidak bisa ingat lagi adalah namanya (selain itu privasi pasien, saya memang punya kelemahan mengingat nama seseorang). Dia dalam kondisi sakratul maut. Masih bisa berinteraksi, tetapi sudah sangat susah payah untuk bernafas. Saat itu saya melihat kondisinya sebentar, kemudian saya tinggal. Baru beberapa langkah meninggalkan kamarnya, saya mendengar dia sudah mendengar. Satu penyesalan saya sampai sekarang, mengapa saya tidak mendampinginya? Memang banyak yang sudah menemaninya. Tetapi saya masih saja menyesal. Saya seharusnya berada disana. Saya tidak tahu apakah hal tersebut berarti untuknya. Yang saya tahu, saya harusnya berada di sana. Titik. Itu saya bawa sampai sekarang. Saat saya melihat ada pasien dalam kondisi maut, saya selalu meminta mahasiswa untuk bergantian mengecek kondisinya, kalau perlu mendampingi keluarga untuk menemani pasien. Dialah pasien, guru pertama saya. Sejak saat itu, saya selalu berusaha menganggap pasien adalah guru saya. Dari merekalah saya bisa belajar banyak, tidak hanya sekedar teori. Dari keunikan mereka, saya bisa belajar menghargai orang (meski masih sering lupa untuk melakukannya).

Mahasiswa saya juga adalah guru saya. Lho kok? Dosen juga manusia. Kadang juga bisa salah. Dan terkadang, tanpa disengaja, kesalahan saya justru diberikan pemecahan oleh mahasiswa. Hebat kan mereka? Kadang-kadang pertanyaan yang mereka ajukan juga tidak saya sangka, yang memaksa saya untuk terus menggali. Tidak ada salahnya dan tidak perlu jaim untuk mengatakan: “Wah, untuk yang satu itu kok saya belum punya informasinya ya? Cari sama-sama yuks!”. Saya toh bukan kamus berjalan yang harus tahu semuanya, tetapi hanya manusia yang berusaha mencari tahu sebanyak-banyaknya, supaya makin banyak juga yang bisa dibagikan. Cie…. gaya sekali! Cuma, sekali lagi, karena manusia juga, masih suka tidak stabil emosinya, kena deh mahasiswa….. Jamannya teknologi informasi… tidak menutup kemungkinan mahasiswa lebih cepat tahu dari saya sendiri. Tetapi saya juga terus usaha, jangan sampai ketinggalan informasi (judulnya tetap “tidak mau kalah!” Hehe…).

Ini hanyalah sebuah renungan saya. Mungkin yang tertarik membacanya hanya satu orang, mungkin hanya Saudara saja. Tetapi mudah-mudahan bisa membangkitkan lagi motivasi untuk belajar, terutama dari pasien. Karena kebosanan itu sepertinya kita sendiri yang menciptakannya. Kalau kita tahu cara belajar yang lebih asyik, tentu tidak ada kata bosan untuk belajar. Belajar tidak harus selalu dari membaca, mengamati saja bisa untuk belajar kok. Bosan baca buku, browsing internet saja. Bosan duduk, jalan-jalan saja. Gampang to? Jangan sampai kalah dengan kebosanan. Kalau kalah dengan kebosanan, hasilnya hanya keluhan. Kalau sudah mengeluh, pekerjaan tidak akan selesai. Itu teorinya. Praktiknya? Tetap susah…. Tetapi tidak ada salahnya mencoba. BERSEMANGAT!