Gambar ini pernah saya tunjukkan ke beberapa teman dan mahasiswa, ketika saya dan mbak Monica harus membuat suatu tugas tentang Culture in Practice. Awalnya kami tidak tahu hal apa yang harus kami bahas. Akhirnya kami memilih ini. Apa ini?

Ketika gambar ini kami tunjukkan, semua sepakat, dia sangat cantik. Catherine gitu loh! Ketika saya mengajukan pertanyaan, “Bagaimana perasaan teman-teman kalau mempunyai pasien secantik ini?” Jawaban mereka beragam: mau kerja 24 jam, bengong, mau melakukan apa saja tanpa mengeluh, senang sekali, bahagia, betah merawatnya, lupa istri deh…. dan lain sebagainya. Banyak dan lucu-lucu komentarnya. Kemudian slide berganti ke gambar Brandon Rough, si ganteng pemeran Superman Return. Komentar mereka juga sama. Ketika saya ganti ke sebuah gambar si kecil, bayi imut nan lucu, komentar mereka juga masih menyenangkan.

Kemudian slide beralih ke sebuah gambar, nenek-nenek berwajah mengerikan, keriput, dll. Pokoknya jelek sekali, sampai-sampai saya tidak mau mencantumkannya di sini. Saat membuat slide itu, saya pun menutup mata, cepat-cepat berpindah slide saja. Padahal saya sendiri yang memilih gambar itu. Mungkin memang hanya gambar rekayasa. Tapi bisa membuat semua orang yang melihatnya terperangah. Apa jawaban teman-teman saya? Bingung mereka menjawab ketika saya tanya mau tidak merawat pasien seperti ini?

Itulah kenyataannya. Saat praktik sebagai perawat, perasaan ini masih sulit sekali dihilangkan. Ah, ini pasien tua, ah ini pasien miskin-kelas tiga, ah ini pasien dari suku ini, suku itu, dan sebagainya. Sulit sekali dihilangkan. Perfomance kadang-kadang diperhitungkan. Pengin menutup mata, tetapi kok tetap sulit dihilangkan. Pernah dengar ini : Ah, sudah tua, tidak usah di-operasi saja. Kadang-kadang perlakuan perawat menjadi berbeda ketika harus melayani pasien kelas VIP. Kenapa? Karena mereka bayar lebih? Bukannya setiap orang berhak mendapatkan pelayanan yang sama?

Inilah inti dari kuliah Culture in Practice. Saat ini saya harus membuat essay 3000 kata untuk subjek ini dan saya mengambil tentang aged care, pelayanan kesehatan untuk lanjut usia. Kenapa? Hum, pertama saya juga merasa pasti boring cerita tentang lansia. Tetapi setelah baca dan baca, masalah lanjut usia tidak kalah menarik dengan masalah kesehatan lainnya. Betapa tidak…. Indonesia diprediksi akan mempunyai tingkat pertumbuhan paling cepat di dunia, pada tahun 2020 diperkirakan ada 28,8% (Menkokesra, 2006) penduduk lansia di Indonesia. Kalau dulunya lansia adalah orang-orang yang berhasil bertahan dari jaman penjajahan, saat ini semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk hidup lama dan menjadi lansia. Budaya juga berubah. Kalau dulu lansia sangat dihormati, sekarang banyak sekali lansia yang terabaikan. Bahkan ada yang sudah melaporkan banyaknya kasus perlakuan diskriminatif dan pelecehan yang dialami oleh lansia. 

Culturally appropriate care. Mungkin inilah jawabannya. Memberikan pelayanan yang tepat, dan menghormati setiap individu, termasuk latar belakang budaya dan kepercayaan yang dianutnya. Tidak membeda-bedakan pelayanan, karena semua mempunyai hak yang sama. Robin N Fiore (baca di http://www.DCMSonline.org), sudah membuat suatu tulisan menarik tentang culturally appropriate care ini. Intinya “respectful”. Dalam kasusnya lansia, hormati dan layani mereka sebagaimana kamu ingin dihormati dan dilayani saat kamu tua nanti.

Saya punya sebuah gambar lansia yang menggunakan hearing aids dan sedang menangis. Di atasnya ada tulisan : “Someday you’ll understand”. Apakah harus menunggu tua dulu baru kita mau menyadari bagaimana perasaan mereka diperlakukan diskriminatif? Kalau positif diskriminatif sih tidak masalah. Diskon tiket, taman lansia, posyandu lansia, majalah lansia, dll. Tapi kalau negatif diskriminatif? Duh…..

Secara umum, siapapun pasien yang kita rawat: “Be respectful to them”. Hormati mereka, dengan keunikan dan ragam budaya mereka, kepercayaan mereka. Berikan pelayanan yang memang mereka perlukan, tetapi tetap hormati budaya-kepercayaan mereka, terlepas dari masalah keuangan pasien yang kadang-kadang membuat kita tidak punya pilihan lain. Fiore menuliskan di kesimpulan tulisan yang dia buat: It will require commitment”. Ya iyalah…. tanpa komitmen, tidak mungkin “pelayanan untuk semua” bisa dijalankan…. Tidak mungkin culturally appropriate care bisa diterapkan…..

Image from   http://www.titen.it/wallpapers/girls/catherine%20zeta%20jones/catherine_zeta_jones_hat_1024.jpg