Setiap tahun, tahap akhir dari proses pembelajaran adalah ujian komprehensif. Tahun ini, ada beberapa hal yang perlu digaris-bawahi:

 

  1. AMK bukan berarti Ahli Mengarang Kasus. So, lebih baik dokumentasi dibuat apa adanya. “Write what you do, do what you write”. Artinya, apa yang dituliskan di rencana keperawatan ya harus dilaksanakan, menurut sifat dinamis dan fleksibel dari proses keperawatan, dan tuliskan apa yang dilakukan. Sebagai contoh, meskipun ada waktu senggang, bukan berarti pada jam 13.00 kita bisa menuliskan evaluasi tindakan di jam 14.00. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian, meski itu hanya satu jam saja. Kebiasaan yang harus dihapuskan adalah menulis catatan perawatan pada malam hari, ditulis sekalian evaluasinya sampai pagi harinya, dengan alasan supaya pekerjaan besok pagi bisa sedikit bisa dikurangi. How do you know what will happen in the next five minutes? 
  2. Kebiasaan meniru laporan mahasiswa tahun sebelumnya juga bukan tindakan yang menguntungkan. Membantu memang, tetapi hanya sedikit dan tidak ada gunanya. Mengapa? Dunia kesehatan, kedokteran dan keperawatan luar biasa cepatnya. Terkadang, meski hanya setahun berlalu, hal yang dituliskan setahun yang lalu tidak berarti apa-apa lagi. Ada filosofi yang menyatakan, ilmu itu akan berkurang 50% dalam 5-10 tahun. Penelitian dan evidence based nursing luar biasa banyaknya. Mengapa tidak mencari yang up-to-date saja? Hal yang bisa didapat, selain ilmu yang terbaru, sekalian bisa belajar dan bisa mempertanggungjawabkannya di ujian sidang dan seterusnya. Jawabannya: INTERNET! Hari gini gak bisa nge-net? Cape deh….
  3. Perlu dihapuskan satu stigma tidak tertulis: buat diagnosis keperawatan minimal tiga! Duh, sangat merugikan sekali. Kenapa? Akhirnya kita hanya bisa mengenal diagnosis yang itu-itu saja. Lebih baik semua data senjang yang kita temukan di pengkajian, dianalisis dan dibuat diagnosisnya, meskipun untuk NCP dan seterusnya…. terserah Anda! Sekarang memang belum terasa. Tapi pada saat kompre baru muncul penyesalannya, bingung “cari” diagnosis. Duh!
  4. Biasakan membaca pengertian dari suatu diagnosa dan etiologinya. Jangan sampai sudah mahasiswa tingkat akhir, tapi masih bingung mana masalah, mana etiologi!
  5. Gunakan NANDA terbaru. Meski tetap bisa menggunakan Doengoes, Carpenito, dll, tapi label diagnosis-nya menggunakan yang terbaru. Jangan lagi saya mendengar: “Kalau bu Yeni pakai NANDA lho!” Eit, kesepakatan di Indonesia kan selama belum ada standar khusus untuk Indonesia, kita masih menggunakan NANDA, NIC dan NOC!
  6. Catatan Perkembangan dibuat setiap hari!
  7. Acuan penulisan memang berlembar-lembar, tetapi itu dibuat untuk memudahkan, bukan untuk mempersulit. Jadi kenapa tidak diikuti?
  8. Ada yang menarik, satu mahasiswa menyatakan: “Bu, apakah harus melakukan penyuluhan? Berapa kali melakukannya Bu? Apakah boleh lebih dari satu kali?” Jawaban saya: “Belajar lagi proses keperawatan deh”.
  9. Catatan Perkembangan (CP) bukan berarti fotokopi dari NCP. Yang sering kali terjadi, di NCP tertulis: Observasi vital sign setiap 8 jam. Di CP akhirnya hanya ditambahin “me-“, menjadi “Mengobservasi vital sign (padahal yang dilakukan hanya mengukur tekanan darah. Kenapa tidak langsung ditulis: Mengukur tekanan darah). Contoh lain, di NCP seringkali hanya text book: “Beri lingkungan yang nyaman untuk pasien”. Kan sudah pengkajian, misalnya untuk pasien dengan sesak nafas, lebih baik yang disarankan langsung ditulis: Atur posisi semi-fowler untuk pasien. Di CP, karena pasien lebih suka three points position, ya tulis saja: Mengatur three points position untuk pasien dengan menjaga keselamatan – pasang pagar tempat tidur. Gampang to?
  10. Klasifikasi data tidak harus menggunakan ROS-Doengoes. Ada banyak yang lain: ROS, Gordon, dll. Variasi bisa membuang kejenuhan kita membuat askep.
  11. Data fokus. Bedakan waktu ujian dengan askep harian. Tidak mungkin kita bisa mencatat segitu banyaknya dalam tempo yang jauh lebih singkat. Lebih baik, fokuskan data. Kalau dapat kasus di gangguan sistem pernafasan, ya uplek-uplek yang berhubungan dengan sistem pernafasan. Sistem lain bisa agak diabaikan, kecuali ada relevansi dengan kondisi yang sekarang. Bukannya sama sekali tidak dikaji, tetapi lebih fokus ke sistem mana yang terganggu. 
  12. Terakhir, dan yang mungkin paling gak level (tetapi sangat mempengaruhi): Jangan lupa pelajaran di SD kalau membuat academic writing, selalu gunakan format S-P-O-K dalam membuat kalimatnya. Kadang-kadang membuat kalimat panjang x lebar, tetapi jadinya tidak jelas mana subjek, mana predikatnya. Pengetikan dan nomorisasi juga sangat penting. Bedakan menulis buku harian dengan membuat academic writing.