Pada saat membuat karya tulis ilmiah, bagian yang paling sering membuat mahasiswa kebingungan adalah latar belakang atau pendahuluan, dan bab pembahasan. Bagian ini memang sangat menguras waktu dan pikiran, dimana kemampuan berpikir kritis sangat diandalkan untuk membuatnya. Yang terjadi kemudian adalah, kecenderungan mahasiswa untuk membuat latar belakang dengan “meniru” karya tulis milik mahasiswa angkatan sebelumnya. Biasanya diawali dengan: “Menurut Lokakarya Nasional Keperawatan tahun 1983, keperawatan adalah…. bla…. bla…. bla…..” Untuk pembahasan, kecenderungannya adalah “hanya” menyandingkan teori dengan kenyataan saja, tidak ada pembahasannya sama sekali. “Ini teorinya…. Ini yang didapat…. Jadi sesuai atau tidak sesuai…. titik. Padahal, esensinya tentu saja menjawab “mengapa begini, mengapa begitu” (bahasa gaulnya). Tidak hanya sekedar menge-list saja.  

Dari sekian banyak mahasiswa, akhirnya saya menemukan satu yang “cantik” sekali alur pemikiran dan penulisan, khususnya di pembahasannya. Kalau dicantumkan di blog ini, bukan bermaksud untuk menyediakan bahan jiplakan, tp semoga bisa memberi gambaran bagaimana membuat pembahasan. Pembahasan ini dibuat oleh Aprilia Lestriani, mahasiswa tingkat akhir AKPER Bethesda Yogyakarta, untuk UAS 2008.

 

PEMBAHASAN

Pelaksanaan asuhan keperawatan pada Bapak “P” dengan pre dan post operasi prostatektomi atas indikasi benigna prostat hipertrofi dilakukan mulai tanggal 23-24 Juli 2008 di ruang X RSB. Pada Bab IV ini penulis akan  menguraikan hasil pembahasan dari kasus kelolaan pada Bapak “P” dengan pre dan post operasi prostatektomi atas indikasi benigna prostat hipertrofi. Pembahasan yang penulis lakukan terdiri dari pembahasan aspek medis dan aspek keperawatan yang dilakukan dengan pendekatan proses keperawatan yang meliputi : pengkajian, perumusan diagnosa keperawatan, perencanan, implementasi, dan evaluasi. 

 

A.     Aspek Medis

Hipertrofi prostat (BPH) merupakan kelainan yang sering ditemukan. Istilah hipertrofi sebenarnya kurang tepat karena yang terjadi sebenarnya ialah hiperplasia kelenjar periuretral yang kemudian mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah (Sjamsuhidajat & de Jong, 2004, hal. 782). Pada Bp. ”P” didiagnosis menderita BPH berdasarkan hasil cystografi tanggal 21 Juli 2008 yaitu : radiologis cystografi menyokong gambaran hipertrofi kelenjar prostat dengan cystitis.

 

Secara umum BPH terjadi pada pria lebih tua dari 50 tahun (Doenges, 1999, hal. 671). Bp. ”P” berusia 67 tahun dan berarti hal tersebut sesuai dengan etiologi dari BPH yaitu faktor usia di atas 50 tahun.

 

Tanda dan gejala yang dialami oleh pasien juga mengarah ke diagnosa BPH, antara lain : sulit buang air kecil (karena hesitensi), buang air kecil menetes , terdapat distensi kandung kemih dan sakit saat buang air kecil (disuria). Hal tersebut sesuai dengan tanda dan gejala yang terdapat dalam Doenges (1999) yaitu penurunan kekuatan/dorongan aliran urine; tetesan, ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih dengan lengkap, disuria dan lain-lain.

 

Pada patofisiologi BPH menurut Sjamsuhidajat dan de Jong (2004) disebutkan faktor umur/usia lanjut (> 50 tahun) serta ketidakseimbangan endokrin menyebabkan pembentukan adenoma dalam prostat sehingga lama-kelamaan menyebabkan pembesaran prostat, menekan lumen uretra, terjadi dekompensasi vesika urinaria, menjadi retensi urine dan menyebabkan disuria, buang air kecil menetes, distensi kandung kemih. Hal tersebut sesuai dengan yang terjadi pada pasien, dibuktikan dengan usia pasien 67 tahun (> 50 tahun), terjadi pembesaran prostat yang terdapat dalam hasil cystografi tanggal 21 Juli 2008, pembesaran prostat tersebut menyebabkan retensi urine sehingga menimbulkan disuria, buang air kecil menetes pada pasien sebelum masuk RS dan dilakukan pemasangan kateter (tanggal 17 Juli 2008).

Menurut Dafid (2008) salah satu komplikasi dari BPH adalah terjadinya sistitis (peradangan/inflamasi pada kandung kemih). Hal ini juga terjadi pada pasien, terbukti dengan hasil cystografi (tanggal 21 Juli 2008) yang menyebutkan : radiologis cystografi menyokong gambaran hipertrofi kelenjar prostat dengan cystitis.

 

Dalam teori yang dijelaskan oleh Doenges (1999), pemeriksaan diagnostik yang dilakukan untuk menegakkan diagnosa BPH adalah : urinalisa, kultur urine, sitologi urine, BUN/creatinin, Prostate Specific Antigen (PSA), sel darah putih (SDP), sistouretrografi, sistometri dan ultrasound rectal. Pada pasien tidak dilakukan semua pemeriksaan diagnostik seperti di atas, hal tersebut mungkin dikarenakan faktor ekonomi pasien, pasien yang menggunakan jamkesos. Pemeriksaan diagnostik yang dilakuakn pada pasien antara lain : periksa darah lengkap (PDL), golongan darah, gula darah sewaktu (GDS), ureum creatinin, ECG, thorak foto, cystografi, dan pemeriksaan PSA. PDL termasuk di dalamnya ada pemeriksaan leukosit yang ditujukan untuk mengidentifikasi adanya infeksi dan pada pasien daidaptkan hasil leukosit : 8,97 ribu/mmk (dalam batas normal). Ureum dan creatinin ditujukan untuk mengidentifikasi adanya gangguan pada ginjal atau tidak, hasil yang didapatkan : ureum : 34,7 mg/dl, creatinin : 0,80 mg/dl (dalam batas normal). Pemeriksaan golongan darah, GDS, ECG dan thorak foto dilakukan sebagai pertimbangan operasi (adanya penyulit/tidak). Lalu pemeriksaan cystografi ditujukan untuk memvisualisasi kandung kemih dan pembesaran prostat yang mendapatkan hasil adanya gambaran hipertrofi kelenjar prostat dengan cystitis. Selain itu, ada pula pemeriksaan total PSA dimana hasilnya adalah 5,74 ng/ml (termasuk dalam kategori tinggi/high). Menurut Sutedjo (2006) PSA akan meningkat apabila terjadi hipertrofi prostat dan meningkat tinggi pada karsinoma prostat. Nilai rujukan untuk hipertrofi prostat adalah 4-19 ng/ml dan untuk kanker prostat adalah 10-20 ng/ml (tergantung pada stadium kanker). Berdasarkan hal tersebut, maka pasien tidak mengalami karsinoma/ keganasan karena nilai PSAnya 5,74 ng/ml termasuk dalam nilai rujukan untuk untuk BPH. Selain itu, dari hasil pemeriksaan patologi anatomi dari jaringan prostat yang diambil, didapatkan hasil; makrosk : prostat jaringan berkapsul, ukuran 3 x 4 x 5 cm; mikrosk : hiperplasia prostat dengan radang, tak terlihat tanda-tanda keganasan.

 

Penatalaksanaan medik/reseksi bedah bagi prostat menurut Doenges (1999) adalah : Transurethral Resection of the Prostate (TURP), suprapubic/open prostatectomy, retropubic prostatectomy dan perineal prostatectomy. Suprapubic/open prostatectomy diindikasikan untuk massa 60 gr/60 cc, penghambat jaringan prostat dingkat melalui insisi di garis tengah bawah dibuat melalui kandung kemih. Pada pasien dilakukan suprapubic/open prostatectomy, hal ini terlulis pada laporan operasi yang menuliskan jenis operasi yang dilakukan adalah open prostat, jaringan prostat seberat + 60 gram dan terlihat dari balutan luka post op yang berada pada pada garis tengah bawah atau suprapubik.

 

B.     Pengkajian Keperawatan

      Pengkajian keperawatan adalah pengumpulan data yang sistematis untuk menentukan status kesehatan pasien dan untuk mengidentifikasi semua masalah kesehatan yang aktual atau potensial (Brunner & Suddarth, 2001, hal.32). Pada tahap pertama (pengkajian) penulis mengumpulkan semua data yang berhubungan dengan klien. Data yang dikumpulkan adalah menyeluruh (komprehensif) meliputi aspek bio-psiko-sosial-spiritual.

 

Dari  pengkajian yang dilakukan, penulis berhasil mendapatkan data yang sesuai dengan tinjauan teori meliputi :

Penurunan dorongan aliran urine; tetesan, ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan lengkap, serta disuria (Doenges 1999, hal. 671). Kondisi tersebut dialami oleh pasien sejak tanggal 17 Juli sampai tanggal 20 Juli ketika pasien opname di Ruang X. Tetapi sejak dilakukan pemasangan dower kateter, keluhan pasien berkurang dan urine dapat mengalir melalui kateter tersebut, sehingga gejala mengenai eliminasi yang terdapat dalam Doenges (1999) tidak ditemukan dalam pengkajian tanggal 23 Juli 2008. Sedangkan untuk tanda yang sesuai dengan Doenges adalah terdapat nyeri tekan ditemukan pada area suprapubik dimana terjadi pembesaran prostat.

 

Anoreksia dan mual  yang tercantum dalam dasar data pengkajian pasien (Doenges, 1999, hal. 671) juga ditemukan pada pasien. Selama di RS pasien hanya menghabiskan ½ – ¾ porsi yang diberikan, hal tersebut dikarenakan perut pasien terasa mual dan lidahnya terasa pahit. Hal tersebut terlihat dari wajah pasien yang terlihat pucat, serta mukosa bibir dan konjungtiva yang pucat.

 

Tanda  nyeri panggul dan punggung bawah  tidak dijumpai. Namun tanda berikutnya berkaitan dengan nyeri dan kenyamanan pada pengkajian post operasi, pasien merasakan nyeri dengan skala 5, nyeri seperti tertarik dan semengkrang, muncul terus-menerus dan bertambah nyeri jika untuk bergerak pada perut bagian bawah (suprapubik) pada luka bekas operasi.

 

Tanda- tanda dalam tinjauan teori yang tidak dijumpai  pada pasien  yaitu peninggian tekanan darah (TD) sebagai efek dari pembesaran ginjal (Doenges, 1999, hal. 671). Pasien tidak mempunyai riwayat hipertensi baik dalam riwayat kesehatannya sendiri ataupun dalam riwayat kesehatan keluarganya. Selain itu, dari hasil pemeriksaan diagnostik yang dilakukan didapatkan gambaran hipertrofi kelenjar prostat dengan cystitis dengan tidak ditemukannya gangguan pada ginjal yang terlihat pada hasil pemeriksaan ureum creatinin dimana hasilnya adalah; ureum : 34,7 mg/dl dan creatinin : 0,80 mg/dl (dalam batas normal) sehingga tidak terjadi peninggian/peningkatan tekanan darah pada pasien.

 

Masalah tentang efek terapi terhadap kemampuan seksual dan takut selama hubungan intim seperti yang dikemukakan Doenges (1999) juga tidak terjadi. Hal ini mungkin dikarenakan pasien tidak menikah, sehingga tidak terdapat gejala yang berhubungan dengan seksualitas.

 

Riwayat keluarga kanker, hipertensi, penyakit ginjal serta penggunaan antihipertensif atau antidepresan pada pasien juga tidak dijumpai saat pengkajian. Hal ini dikarenakan pada pasien ataupun keluarga tidak ada riwayat kanker, hipertensi, penyakit ginjal serta penggunaan antihipertensif atau antidepresan.

      

C.     Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinis terhadap individu keluarga atau komunitas, yang merupakan respon terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan baik aktual atau potensial dan memberikan dasar therapi dalam pencapaian tujuan dan dapat dipertanggungjawabkan (NANDA 2005-2006, hal. 256).

1.      Diagnosa keperawatan  pada bapak “P” yang sesuai teori.

a.  Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan pembesaran prostat. Menurut Doenges (1999) perubahan eliminasi urine dibuktikan dengan adanya urgensi, keragu-raguan, disuria, inkontinensia, retensi, kandung kemih penuh, dan ketidaknyamanan suprapubik. Sedangkan menurut Carpenito (2000) perubahan eliminasi urinarius adalah keadaan dimana seorang individu mengalami atau beresiko mengalami disfungsi eliminasi. Dalam hal ini, pasien mengalami masalah dalam dorongan berkemih. Dengan adanya pemasangan kateter pada pasien, pasien tidak mengalami retensi urine lagi, tetapi pasien mengalami nyeri tekan pada suprapubik serta tidak adanya dorongan untuk berkemih setelah dipasang kateter. Sehingga berdasarkan data-data tersebut maka penulis mengangkat diagnosa perubahan eliminasi urine.

b. Nyeri akut pada area suprapubik berhubungan dengan  diskontinyuitas jaringan syaraf sekunder terhadap prostatektomi. Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual atau potensial (Brunner & Suddarth, 2001, hal. 212). Pasien mengatakan adanya nyeri pada bagian perut bawah pada bekas operasi, terus-menerus, bertambah nyeri untuk bergerak. Nyeri yang dialami pasien ini, jika dilihat dari awitannya (mendadak), durasi (singkat, kurang dari enam bulan) serta intensitasnya ( skala 5/nyeri sedang ) maka nyeri tersebut termasuk dalam nyeri akut (Brunner & Suddarth, 2001, hal. 213). Selain itu, pasien juga memperlihatkan respon perilaku terhadap nyeri, antara lain ekspresi wajah yang tampak menyeringai serta posisi berhati-hati dan pernyataan secara verbal. Sementara respon fisiologis yang meliputi tanda vital (nadi, tekanan darah, frekuensi pernafasan) tidak dialami oleh pasien karena ambang batas nyeri pada tiap individu berbeda. Berdasarkan data-data tersebut, maka penulis mengambil diagnosa nyeri akut pada area suprapubik ini sebagai diagnosa pertama pada diagnosa post operasi.

c.   Resiko penurunan volume darah berhubungan dengan perdarahan post open prostat.. Menurut Potter & Perry (2005) cairan tubuh didistribusi dalam dua kompartemen yang berbeda, yakni : cairan ektrasel (CES) dan cairan intrasel (CIS). Cairan ekstrasel terdiri dari cairan interstisial (CIS) dan cairan intravaskular. Cairan interstisial mengisi ruangan yang berada di antara sebagian besar sel tubuh. Cairan intravaskular terdiri dari plasma, bagian cairan limfe yang mengandung air dan tidak berwarna, dan darah yang mengandung suspensi leukosit, eritrosit dan trombosit. Berdasarkan hal tersebut, maka diagnosa keperawatan ini dapat diartikan sama dengan dengan resiko kekurangan volume cairan karena darah termasuk dalam cairan tubuh. Menurut Carpenito (2000) resiko terhadap ketidakseimbangan volume cairan adalah suatu keadaan dimana individu beresiko mengalami penurunan, peningkatan atau perpindahan cepat dari satu ke lain cairan intravaskular, interstisial, dan atau intraseluler. Adapun data mayor dan minor yang ada pada pasien untuk mendukung diambilnya diagnosa ini adalah pasien post op prostatektomi, mengalami perdarahan, mukosa bibir pasien kering dan pucat, adanya rasa mual serta menurunnya masukan cairan oral pasien.

c. Resiko infeksi berhubungan dengan  adanya tempat masuk mikroorganisme. Menurut NANDA (2007) “definition risk for infection is at increased risk for being invaded by pathogenic organism”. Hal tersebut dapat diartikan meningkatnya resiko seseorang terjangkit oleh organisme patogen. Faktor resikonya meliputi inadekuat pertahanan sekunder (penurunan Hb, leukopenia dan respon inflamasi), prosedur invasif dan lain-lain (NANDA, 2007, hal. 124). Diagnosa keperawatan ini penulis angkat karena keadaan pasien yang beresiko mengalami infeksi, faktor resiko tersebut adanya port de entry (tempat masuk) mikroorganisme karena prosedur invasif yang dialami pasien (prostatektomi). Port de entry yang dimaksud adalah melalui kateterisasi, insisi bedah, adanya selang drainge dan irigasi serta lingkungan sekitar area operasi yang termasuk area kotor (anus) dan adanya penurunan Hb pada pasien (Hb : 12,0 gr%). Diagnosa keperawatan ini telah sesuai dengan diagnosa keperawatan pada prostatektomi dalam Doenges (1999, hal. 682).

 

2.      Diagnosa keperawatan  pada bapak “ P” yang tidak sesuai teori. 

a.      Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. Menurut Carpenito (2000) perubahan nutrisi kurang darikebutuhan adalah suatu keadaan dimana individu yang tidak puasa mengalami atau yang beresiko mengalami penurunan berat badan yang berhubungan dengan masukan yang adekuat atau metabolisme nutrien yang tidak adekuat untuk kebutuhan metabolik. Batasan karakteristik mayor : individu yang tidak puasa melaporkan/mengalami masukan makanan tidak adekuat dengan/tanpa penurunan berat badan serta penurunan kapasitas ikatan besi. Pada pasien didapatkan beberapa data antara lain : adanya mual, penurunan masukan nutrisi (1/2 -3/4 porsi tiap makan, konjungtiva dan bibir pucat, Hb : 12,0 gr%, Hct : 37,6 %. Sehingga berdasarkan data tersebut, maka penulis mengambil diagnosa nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh walaupun dalam tinjauan teori pada diagnosa keperawatan tentang benigna prostat hipertrofi dalam Doenges (2000) tidak terdapat diagnosa tersebut.

b.  Kurang mandiri dalam merawat diri (makan, mandi, bab, bak, berpakaian) berhubungan dengan kelemahan fisik. Kurang mandiri dalam merawat diri adalah keadaan dimana individu mengalami kerusakan/penurunan kemampuan untuk melakukan/menyelesaikan aktivitas perawatan diri (Carpenito, 2005, hal. 330). Dalam Doenges (1999), tidak terdapat data pengkajian ataupun diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan kurang mandiri dalam merawat diri. Tetapi pada pasien didapatkan pernyataan bahwa aktivitas atau kebutuhan perawatan dirinya dibantu oleh perawat dan keluarga, selain itu pasien juga mengatakan badan masih lemas, program bedrest 1 x 24 jam (instruksi post operasi), terpasang DC, selang drainage, dan selang irgasi di atas simphisis pubis yang menyebabkan berkurangnya/menurunnya kemampuan pasien dalam merawat diri. Berdasarkan data-data tersebut maka penulis mengangkat diagnosa kurang mandiri tersebut karena telah sesuai pula dengan definisi yang dijelaskan dalam Carpenito.

 

3.      Diagnosa keperawatan dalam teori yang tidak muncul.

Pre Operasi

a. Retensi urine (akut/kronik) berhubungan dengan obstruksi mekanik; pembesaran prostat, dekompensasi otot detrusor, ketidakmampuan kandung kemih untuk berkontraksi dengan adekuat. Menurut Sjamsuhidajat dan de Jong (2004) retensi urine adalah keadaan penderita yang tidak dapat kencing padahal kandung kemih penuh. Diagnosa keperawatan ini tidak penulis angkat karena  tidak teraba adanya distensi kandung kemih, selain itu pasien sudah dapat berkemih melalui kateter sehingga urine tidak lagi tertahan pada kandung kemih.

 b. Nyeri (akut) berhubungan dengan iritasi mukosa; distensi kandung kemih; kolik ginjal; infeksi urinaria; terapi radiasi. Menurut Brunner dan Suddarth (2001) nyeri akut biasanya awitannya tiba-tiba dan umumnya mengindikasikan bahwa kerusakan atau cedera telah terjadi, dengan durasi singkat (beberapa detik-6 bulan). Saat dikaji, pasien tidak mengeluhkan adanya nyeri, nyeri yang dirasakan awalnya adalah karena ketidakmampuan pasien dalam berkemih sehingga menimbulkan nyeri karena air kemih/urine tertahan dalam kandung kemih. Tetapi setelah dilakukan pemasangan kateter (tanggal 20 Juli 2008), pasien tidak merasakan nyeri pada perut bagian bawah (suprapubik). Hal ini dibuktikan dengan wajah dan posisi tidur pasien yang rileks serta tanda vital (terutama tekanan darah dan nadi) dalam batas normal.

c. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan pasca obstruksi dari drainase cepat kandung kemih yang telalu distensi secara kronis. Menurut Carpenito (2000) batasan karakteristik untuk mengangkat diangnosa keperawatan ini adalah mengalami perdarahan, membran mukosa pucat, adanya rasa mual, haus serta menurunnya masukan cairan oral pasien Diagnosa keperawatan ini tidak terjadi karena pasien tidak melaporkan adanya rasa haus yang terus-menerus, mampu memenuhi kebutuhan cairan secara oral, selain itu juga tanda vital pasien dalam batas normal, nadi perifer teraba serta pengisian kapiler baik.

d. Ketakutan / ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan: kemungkinan prosedur bedah / malignansi, malu/hilang martabat sehubungan dengan pemajanan genital sebelum, selama, dan sesudah tindakan; masalah tentang kemampuan seksualitas. Ansietas adalah perasaan kekhawatiran subyektif dan ketegangan yang dimanifestasikan oleh tingkah laku fisiologis dan berbagai pola perilaku (Nettina, 2001, hal. 22). Saat pengkajian pre operasi, tidak ditemukan adanya ansietas/ketakutan pada pasien baik itu yang berhubungan dengan status kesehatan (menderita BPH) ataupun terhadap prosedur bedah yang akan dilakukan. Hal ini dikarenakan pada tahun 2002 pasien sudah pernah menjalani operasi prostat di RS P dan dibuktikan dengan pernyataan pasien bahwa ia tidak merasa deg-degan, cemas, khawatir ataupun takut terhadap tindakan yang akan dilakukan serta ditunjukkan dengan ekspresi wajah pasien yang tampak tenang tanpa adanya tanda kecemasan.

e. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat, salah interpretasi informasi,tidak mengenal sumber informasi, masalah tentang area sensitif. Bapak ”P” berada di RS selama + 4 hari dan pada tahun 2002 sudah pernah menderita BPH dan menjalani operasi prostat sehingga Bp. ”P” sudah mengerti tentang kondisinya berkat informasi dari dokter dan perawat serta pengalaman masa lalu yang berhubungan dengan penyakitnya.

 

Post Operasi

a.      Resiko disfungsi seksual berhubungan dengan situasi krisis (inkontinensia, kebocoran urine setelah pengangkatan kateter, keterlibatan area genital). Pasien tidak menikah, sehingga penulis tidak mengangkat diagnosa keperawatan ini dan tidak didapatkan data yang mendukung karena sangat sensitif dan bersifat individual bagi pasien.

b.      Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat, salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi. Menurut Nursalam (2001) salah satu sumber pengetahuan adalah pengalaman. Pasien sudah pernah menjalani operasi prostat pada tahun 2002, sehingga pasien sudah cukup tahu mengenai kondisi, prosedur serta perawatan pasca prosedur. Dibuktikan dengan pasien dan keluarga mengatakan setelah operasi tidak boleh mengangkat benda berat, tidak boleh mengejan waktu BAB, memperbanyak minum air putih, mengkonsumsi buah dan makanan berserat.

 

D. Perencanaan

Rencana keperawatan diartikan sebagai suatu dokumen tulisan tangan dalam menyelesaikan masalah, tujuan dan intervensi (Nursalam, 2001, hal. 51). Berdasarkan diagnosa keperawatan yang telah diprioritaskan, tahap selanjutnya adalah membuat perencanaan dari masing-masing diagnosa keperawatan tersebut. Adapun rencana keperawatan tersebut adalah :

1.      Pre Operasi

a. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan pembesaran prostat.

Rencana intervensi :

1)      Observasi keluhan BAK pasien

2)      Observasi warna dan jumlah urine

3)      Ukur intake dan output cairan pasien

4)      Libatkan keluarga dalam melakukan perawatan (pemberian kompres hangat)

5)      Berikan antibiotik sesuai indikasi : Cefotaxime 1 x 1 gram IV

Rencana keperawatan yang disusun oleh penulis tidak sepenuhnya sesuai dengan intervensi yang ada dalam Doenges (1999), yaitu : kaji haluaran urine, bantu pasien memilih posisi normal berkemih setelah kateter dilepas, perhatikan waktu, jumlah, ukuran aliran setelah kateter dilepas, ukur volume residu, dorong pemasukan cairan 3000 ml sesuai toleransi, instruksikan pasien untuk latihan perineal). Hal ini dikarenakan keadaan pasien yang masih terpasang kateter, padahal dalam intervensi menurut Doenges (1999) beberapa intervensi dilakukan setelah pelepasan kateter dan penulis melakukan asuhan keperawatan pada pasien selama dua hari yaitu pada pre operasi dan post op prostatektomi hari ke-1, sehingga rencana yang disusun oleh penulis disesuaikan dengan kondisi pasien karena tidak mungkin pasien pot op hari ke-1 langsung dilakukan pelepasan kateter. Selain itu pemberian antibiotik dilakukan untuk mengatasi infeksi karena pasien sudah mengalami cystitis.

b. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.

Rencana intervensi :

1)      Observasi masukan nutrisi pasien.

2)      Observasi/kaji keluhan pasien

3)      Berikan diet makanan yang sesuai dalam porsi kecil tapi sering serta dalam keadaan hangat.

4)      Ajarkan nafas panjang jika mual muncul

Rencana keperawatan untuk mengatasi masalah nutrisi tidak sesuai dengan teori karena diagnosa keperawatan ini tidak terdapat dalam daftar diagnosa keperawatan untuk kasus benigna prostat hipertrofi ataupun tindakan prostatektomi menurut Donges (1999), sehingga penulis menyusun rencana keperawatan ini berdasarkan dari data yang diperoleh selama pengkajian serta kondisi pasien.

 

2.      Post Operasi

a.      Nyeri akut pada area suprapubik berhubungan dengan  diskontinyuitas jaringan syaraf sekunder terhadap prostatektomi

Rencana intervensi :

1)      Observasi karakteristik nyeri (lokasi, durasi, intensitas)

2)      Ukur tanda vital tiap 3 jam

3)      Berikan posisi yang nyaman untuk pasien

4)      Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi pada pasien

5)      Berikan analgetik sesuai indikasi : ketorolac 2 x 30 mg/ml IV

Intervensi keperawatan untuk diagnosa nyeri akut menurut Doenges (1999) adalah : kaji nyeri; perhatikan lokasi dan intensitas, pertahankan patensi kateter dan sistem drainase, berikan tindakan kenyamanan (sentuhan terapeutik, pengubahan posisi, pijatan punggung), dorong penggunaan teknik relaksasi termasuk nafas dalam , visualisasi dan imajinasi), serta berikan antispasmodik. Intervensi yang dilakukan penulis yang sesuai dengan teori adalah kaji nyeri, berikan posisi nyaman serta ajarkan teknik distraksi dan relaksasi. Sedangkan intervensi observasi tanda vital tiap 3 jam dan berikan analgetik : ketorolac 2 x 30 mg/ml IV tidak sesuai teori. Penulis memilih intervensi observasi tanda vital dengan tujuan untuk mengidentifikasi perubahan/peningkatan tanda vital (respon fisiologis terhadap nyeri) yang menunjukkan adanya peningkatan  nyeri yang dialami pasien. Pemberian analgetik pada pasien disesuaikan dengan program pengobatan dokter, terutama pada instruksi post operasi.

b.      Resiko penurunan volume darah berhubungan dengan perdarahan post open prostat

Rencana intervensi :

1)      Observasi warna dan jumlah cairan irigasi dan drain

2)      Pantau balance cairan (pemasukan dan pengeluaran)

3)      Lakukan pemeriksaan Hb dan Hct bila perlu

4)      Anjurkan pasien untuk minum + 7-8 gelas/hari atau sesuai dengan kebutuhan tubuhnya

5)      Berikan obat anti perdarahan : kalnex 3 x 500 mg IV

Intervensi untuk diagnosa resiko penurunan volume darah/resikokekurangan volume cairan menurut Doenges (1999) adalah : benamkan kateter, awasi pemasukan dan pengeluaran, observasi drainase kateter, evaluasi warna dan konsistensi urine, inspeksi balutan/luka drain, dorong pemasukan cairan 3000 ml/hari, awasi pemeriksaan Hb/Hct, jumlah sel darah merah). Intervensi penulis yang sesuai dengan teori adalah observasi warna dan jumlah cairan irigasi (dalam hal ini tercampur dengan urine karena tempat keluar selang  adalah melalui kateter) dan drain, dorong pemasukan cairan, dan lakukan/awasi pemeriksaan Hb. Sedangkan untuk intervensi pantau balance cairan ditujukan untuk mengidentifikasi adanya ketidakseimbangan cairan pada pasien sebagai akibat perdarahan post operasi, intervensi berikan obat anti perdarahan : kalnex 3 x 500 mg IV disesuaikan dengan program pengobatan post operasi yang tertulis pada instruksi post operasi untuk mengurangi/mengatasi perdarahan yang dialami oleh pasien.

 

 

c.      Resiko infeksi berhubungan dengan  adanya tempat masuk mikroorganisme

Rencana intervensi :

1)      Observasi suhu pasien tiap 3 jam

2)      Observasi tanda-tanda infeksi

3)      Berikan perawatan dengan teknik aseptik dan antiseptik

4)      Anjurkan menjaga area bekas operasi tetap bersih dan kering

5)      Berikan antibiotik sesuai indikasi : Cefotaxime 2 x 1 gram IV

Intervensi keperawatan untuk diagnosa resiko infeksi menurut Doenges (1999) adalah : pertahankan sistem kateter steril, awasi tansa vital, observasi drainase luka dan sekitar kateter suprapubik, ganti balutan dengan sering, pembersihan dan pengeringan kulit sepanjang waktu, berikan antibiotik sesuai indikasi). Intervensi yang penulis susun dan telah sesuai dengan teori adalah : observasi suhu tiap 3 jam (dalam hal ini suhu termasuk salah tanda vital dan tanda munculnya infeksi yang pertama terlihat adalah terjadi peningkatan suhu), berikan perawatan aseptik dan antiseptik, anjurkan menjaga area bekas operasi tetap bersih dan kering (disamakan dengan intervensi pembersihan dan pengeringan kulit, tetapi dalam hal ini bentuk intervensi yang dilakukan termasuk dalam komponen E/edukasi dan bukan N/nursing seperti dalam teori), dan berikan antibiotik : Cefotaxime 2 x 1 gram IV sesuai dengan program pengobatan dari dokter untuk mencegah terjadinya infeksi post operasi.

d.      Kurang mandiri dalam merawat diri (makan, mandi, bab, bak, berpakaian) berhubungan dengan kelemahan fisik

Rencana intervensi :

1)      Kaji tingkat kemandirian pasien

2)      Bantu pasien dalam melakukan perawatan diri

3)      Dorong pasien untuk melakukan perawatan diri secara bertahap sesuai kemampuannya

4)      Libatkan keluarga dalam perawatan diri pasien

Intervensi untuk diagnosa keperawatan ini tidak penulis susun sesuai dengan teori karena diagnosa keperawatan ini tidak terdapat dalam daftar diagnosa keperawatan untuk kasus benigna prostat hipertrofi ataupun tindakan prostatektomi menurut Donges (1999), sehingga penulis menyusun rencana keperawatan ini berdasarkan kondisi pasien.

 

E. Implementasi

Implementasi merupakan tahap proses keperawatan keempat yang dilakukan setelah perencanaan dengan tujuan untuk menanggulangi masalah yang ada pada diagnosa keperawatan dan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun.

1.      Pre Operasi

a.      Implementasi pada diagnosa keperawatan perubahan eliminasi urine berhubungan dengan pembesaran prostat adalah :

1)      Mengobservasi keluhan BAK pasien

2)      Mengobservasi warna dan jumlah urine

3)      Mengukur intake dan output cairan pasien

4)      Melibatkan keluarga dalam melakukan perawatan (pemberian kompres hangat)

5)      Memberikan antibiotik sesuai indikasi : Cefotaxime 1 x 1 gram IV

Implementasi pada diagnosa keperawatan perubahan eliminasi urine ini mengacu pada perencanaan keperawatan yang telah dibahas pada sub bab D tentang perencanaan. Implementasi tersebut dapat dilakukan pada pasien dengan menyesuaikan keaadan pasien dan program pengobatan dokter.

b.      Implementasi pada diagnosa keperawatan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, yaitu :

1)      Mengobservasi masukan nutrisi pasien

2)      Mengobservasi/kaji keluhan pasien

3)      Memberikan diet makanan yang sesuai dalam porsi kecil tapi sering serta dalam keadaan hangat

4)      Mengajarkan nafas panjang jika mual muncul

Implementasi pada diagnosa keperawatan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh tidak mengacu pada tinjauan teori karena dalam teori tidak tercantum diagnosa keperawatan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Tetapi telah sesuai dengan perencanan yang penulis susun. Keempat implementasi yang tercantum di atas telah penulis lakukan semuanya dengan disesuaikan dengan kondisi pasien.

2.       Post Operasi

a.      Implementasi pada diagnosa keperawatan nyeri akut pada area suprapubik berhubungan dengan  diskontinyuitas jaringan syaraf sekunder terhadap prostatektomi, yaitu :

1)      Mengobservasi karakteristik nyeri (lokasi, durasi, intensitas)

2)      Mengukur tanda vital tiap 3 jam

3)      Memberikan posisi yang nyaman untuk pasien

4)      Mengajarkan teknik distraksi dan relaksasi pada pasien

5)      Memberikan analgetik sesuai indikasi : ketorolac 2 x 30 mg/ml IV

Implementasi pada diagnosa keperawatan nyeri akut pada area suprapubik diatas sudah sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Doenges (1999) adalah mengkaji nyeri, memberikan posisi nyaman serta mengajarkan teknik distraksi dan relaksasi, hanya pada tindakan kolaborasi penulis sesuaikan dengan program pengobatan dokter.

b.      Implementasi pada diagnosa keperawatan resiko penurunan volume darah berhubungan dengan perdarahan post open prostat, yaitu :

1)      Mengobservasi warna dan jumlah cairan irigasi dan drain

2)      Memantau balance cairan (pemasukan dan pengeluaran)

3)      Melakukan pemeriksaan Hb dan Hct bila perlu

4)      Menganjurkan pasien untuk minum + 7-8 gelas/hari atau sesuai dengan kebutuhan tubuhnya

5)      Memberikan obat anti perdarahan : kalnex 3 x 500 mg IV

Implementasi pada diagnosa keperawatan resiko penurunan volume darah mengacu pada perencanaan keperawatan yang telah disusun penulis. Kelima tindakan tersebut telah penulis laksanakan semua sesuai dengan kondisi, program pengobatan dan perawatan pasien.

c. Implementasi pada diagnosa keperawatan resiko infeksi berhubungan dengan  adanya tempat masuk mikroorganisme, yaitu :

1)      Mengobservasi suhu pasien tiap 3 jam

2)      Mengobservasi tanda-tanda infeksi

3)      Memberikan perawatan dengan teknik aseptik dan antiseptik

4)      Menganjurkan menjaga area bekas operasi tetap bersih dan kering

5)      Memberikan antibiotik sesuai indikasi : Cefotaxime 2 x 1 gram IV

Implementasi pada diagnosa keperawatan resiko infeksi diatas sudah sesuai dengan yang ada dalam teori yang dikemukakan oleh Doenges (1999) seperti yang tercantum dalam perencanaan keperawatan. Hanya pada tindakan kolaborasi penulis sesuaikan dengan program pengobatan dokter.

c.      Implementasi pada diagnosa keperawatan kurang mandiri dalam merawat diri (makan, mandi, bab, bak, berpakaian) berhubungan dengan kelemahan fisik, yaitu :

1)      Mengkaji tingkat kemandirian pasien

2)      Membantu pasien dalam melakukan perawatan diri

3)      Mendorong pasien untuk melakukan perawatan diri secara bertahap sesuai kemampuannya

4)      Melibatkan keluarga dalam perawatan diri pasien

Implementasi pada diagnosa keperawatan kurang mandiri dalam merawat diri (makan, mandi, bab, bak, berpakaian) tidak mengacu pada tinjauan teori karena dalam teori tidak tercantum diagnosa keperawatan kurang mandiri dalam merawat diri (makan, mandi, bab, bak, berpakaian). Tetapi telah sesuai dengan perencanaan yang disusun dan kesemuanya dapat penulis lakukan selama pemberikan asuhan keperawatan pada Bp.P. Termasuk pula dalam melibatkan peran serta keluarga sebagai support sistem bagi pasien dalam memenuhi kebutuhan perawatan diri.

 

  1. Evaluasi

Berdasarkan tahapan proses keperawatan yang telah dilakukan mulai dari tahap pengkajian sampai dengan tahap pelaksanaan, tahap akhir yang harus dilakukan adalah evaluasi. Hal ini dilakukan untuk menilai pencapaian tujuan yang sudah dirumuskan.

 

Masing – masing diagnosa keperawatan pada Bapak ”P” dilakukan evaluasi dan hasilnya adalah sebagai berikut :

1.      Diagnosa keperawatan yang tidak teratasi

a)      Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan pembesaran prostat. Diagnosa keperawatan ini belum teratasi, walaupun pasien mengatakan saat buang air kecil tidak sakit dan sudah terpasang kateter serta etiologi dari perubahan eliminasi urine yaitu pembesaran prostat sudah teratasi dengan dilakukannya operasi prostatektomi pada tanggal 23 Juli 2008 jam 09.30 WIB. Tetapi diagnosa ini tetap ada setelah operasi walaupun dengan etiologi yang berbeda yaitu hilangnya tonus kandung kemih sehubungan dengan irigasi kontinyu. Hal ini dibuktikan dengan terpasangnya selang irigasi suprapubik pada pasien dengan program irigasi guyur pada hari ke-0, irigasi 40-60 tetes pada hari ke-1 dan irigasi 60 tetes pada hari ke-2 serta belum adanya keinginan/dorongan dalam berkemih.

b)      Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama dua hari, diagnosa keperawatan ini belum teratasi. Pasien mengatakan, ”perut saya teras mual, kalau makan tambah eneg.” Selain itu, didapatkan pula data obyektif  yaitu pasien belum mampu menghabiskan porsi makannya, makan pagi habis 6 sendok makan dan makan pagi habis ½ porsi (tanggal 24 Juli 2008), konjungtiva pucat, bibir dan wajah pasien juga pucat.

c)      Kurang mandiri dalam merawat diri (makan, mandi, bab, bak, berpakaian) berhubungan dengan kelemahan fisik. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama dua hari, diagnosa keperawatan ini belum teratasi. Pasien mengatakan badan masih lemas dan aktivitasnya (ADL) dibantu oleh perawat dan keluarga. Selain itu masih terpasang DC, infus RL 20 tetes/menit di tangan kiri, selang drainage dan selang irigasi pada simphisis pubis pasien, sehingga pasien belum mampu untuk melakukan perawatan diri secara mandiri dan masih membutuhkan bantuan orang-orang di sekitarnya (keluarga dan perawat). 

 

2.      Diagnosa keperawatan teratasi sebagian

Nyeri akut pada area suprapubik berhubungan dengan  diskontinyuitas jaringan syaraf sekunder terhadap prostatektomi. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama dua hari, diagnosa keperawatan ini teratasi sebagian, hal tersebut dibuktikan dengan pasien mengatakan nyeri pada bekas operasi di perut bagian bawah berkurang, jika untuk bergerak tidak terlalu nyeri, nyeri seperti tertarik, skala 3. Data obyektifnya wajah pasien rileks, posisi agak berhati-hati dan vital sign dalam batas normal (S : 36,50 C, R : 18 x/menit, N : 66 x/menit, TD: 120/70 mmHg).

 

3.      Diagnosa keperawatan resiko yang tidak terjadi

a)      Resiko penurunan volume darah berhubungan dengan perdarahan post open prostat. Penurunan volume darah tidak terjadi. Walaupun terjadi penurunan nilai Hb dan Hct (Hb : 11 gr%, Hct : 35,1 %), tetapi tidak dilakukan tindakan tranfusi, karena pada catatan instruksi dokter tertulis jika Hb dibawah 10 gr% baru dilakukan tranfusi. Jumlah perdarahan pasien tidak lebih dari 20% dari Estimated Blood Volume (EBV) atau estimasi volume darah, dibuktikan dengan drain berwarna merah dengan jumlah + 20 cc.

b)      Resiko infeksi berhubungan dengan  adanya tempat masuk mikroorganisme. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama dua hari, infeksi tidak terjadi. Hal ini dikarenakan tidak ditemukannya tanda-tanda radang pada luka operasi ataupun area sekitar luka operasi pasien (color, rubor, dolor, tumor, dan functio laesa). Suhu pasien : 36,50 C, tidak terdapat nanah/ pus pada drain, balutan luka bersih dan kering, tidak ada rembesan cairan, darah ataupun pus.

 

Evaluasi yang dilakukan oleh penulis bukan merupakan evaluasi hasil, karena belum sesuai dengan kriteria waktu yang telah ditentukan dalam rencana keperawatan. Terutama untuk diagnosa yang belum teratasi dan teratasi sebagian, penulis mendelegasikan intervensi keperawatan yang ada kepada perawat ruang X untuk tindak lanjut sesuai dengan kriteria waktu yang telah ditentukan.

 

Catatan:

 

  • beberapa cetak miring perlu mendapatkan perhatian
  • sumber (referencing) yang digunakan masih sangat terbatas pada Doengoes, Carpenito, NANDA 2005-2006 (yang terbaru sudah ada), dll, belum mengoptimalkan landasan teori yang sudah dibuat di BAB sebelumnya
  • beberapa label diagnosa keperawatan masih menggunakan NANDA yang lama
  • tetapi, overall, ybs sudah menuangkan kemampuan berpikir kritisnya, sehingga bagian pembahasan yang biasanya “membosankan”, menjadi lebih menarik untuk dibaca dan dipelajari. Well done!