Sempat saya menulis bahwa saat ini saya sedang tertarik menulis tentang kemitraan dokter – perawat – apoteker dalam menurunkan kasus medication error. Kalau minggu kemarin saya beruntung bertemu dengan beberapa mahasiswa apoteker yang sedang melakukan penelitian tentang medication error, minggu ini jauh lebih beruntung lagi. Saya mendapatkan undangan gratis dari seseorang (kolusi, hehe…) untuk mengikuti kongres sarjana farmasi ke-16 di Inna Garuda Yogyakarta, 11-12 Agustus 2008. Sayangnya, informasi terlambat karena paginya saya harus mengajar dulu. Akhirnya, saya mulai datang pada saat gala dinner malamnya.

Begitu datang saya melihat ternyata pembawa acaranya Ninda Karisa dan Gareng Rakasiwi. Wah, pasti hebat nih acaranya. Ditambah lagi, Didik Nini Thowok menjadi salah seorang pengisi acara. Puji Tuhan, malam itu boleh menjadi refreshing tersendiri, melepaskan sedikit penat.

Tentu saja acara yang paling banyak oleh-olehnya adalah pada Selasanya. Selasa pagi saya ke sana, langsung disambut dengan seminar dari beberapa pembicara. Salah satunya Prof. Vermuelen dari Belanda. Selesai sesi seminar, dilanjutkan dengan desiminasi hasil penelitian yang dilakukan oleh para apoteker. Saya tidak paham semuanya, karena mereka banyak menggunakan bahasa “planet” yang tidak saya mengerti. Tapi beberapa hal yang bisa saya tangkap akan saya rangkum di bawah ini.

Sungguh, ini adalah kesempatan yang sangat luar biasa untuk saya. Memang sepertinya saya menjadi seorang “penyelundup”, tapi saya tidak mempunyai maksud-maksud tertentu. Saya cuma ingin mempelajari profesi orang lain, sehingga tahu celah apa yang bisa digunakan untuk meningkatkan kemitraan antara perawat dan apoteker (meski hanya sekedar mimpi dulu). So, ISFI, mengapa tidak mengundang keperawatan juga. Kalau perawat tahu tentang key role-nya apoteker, pasti akan lebih mudah untuk menjalin komunikasi dan tahu jelas wewenangnya, supaya tidak lupa diri – melewati garis.

Berikut ini beberapa hal yang bisa saya tangkap:

  1. Kasus medication error memang sangat banyak. Salah satunya pembuatan puyer yang mencampur berbagai macam obat. Hospital medication errors in Indonesia were occurred in 3 to 6.9% of inpatients. One study found out that 11% of medication errors in hospitals were pharmacy dispensing errors related to the wrong drug or strength (Dwiprahasto and Kristin, 2008). US Food and Drug Administration (UFADA, 2008) has stated that medication errors consist of the prescription drugs, order communication, product labelling, packaging, nomenclature, compounding, dispensing, distribution, administration, education, monitoring and use.
  2. Banyak dokter yang masih menggunakan banyak sekali obat dalam satu kali pemberian, padahal ada interaksi “drug-drug”. Kata pembicaranya sih bisa jadi karena banyak lulusan dokter hasil dari “multiple choices”. Hehehe…. gurauan pembicaranya saja sih (pembicaranya juga seorang dokter).
  3. Kurangnya infromasi mengenai drug-food interaction.
  4. Banyak masyarakat yang melakukan self-medication, termasuk penggunaan antibiotik. Di suatu tempat, dari 3 apotek yang dilakukan survei, 80% diantaranya antibiotik dijual tanpa resep. Teman saya sendiri bilang, saat dia melayani beberapa pasien yang ingin memberi Amoxicillin, ditanya oleh apotekernya mana resepnya, dia malah dimarahin oleh pasien, dengan mengatakan kalau dia sudah biasa membeli obat tanpa resep. Di lain waktu, saya pernah memberikan penyuluhan pada suatu kelompok yang sedemikian heran atau kagetnya ketika saya menjelaskan sedikit tentang efek self-medication, terutama penggunaan antibiotik yang tidak semestinya.
  5. Pharmaceutical care belum berjalan, sehingga apoteker tidak bisa langsung berinteraksi dengan pasien. Ini bisa dikarenakan ratio apoteker dan pasien yang njomplang. Alangkah bagusnya jika ini bisa berjalan, sehingga informasi tentang obat dan yang lainnya bisa langsung diberikan oleh apoteker kepada pasiennya. Pharmacist should be more focus on treatment with more patient contact and more patient counselling, rather than just the dispensing and the preparation of the products. Perawat memang tahu tentang obat, tetapi farmakologi 2 SKS dibandingkan dengan apoteker, juga terkait dengan kode etik dan wewenang, pasti akan lebih baik jika informasi pemberian obat, dll yang berhubungan dengan obat diberikan langsung oleh apoteker.
Banyak lagi yang bisa saya dapatkan dari sana sebenarnya. Tetapi tidak semua bisa saya tuliskan di sini. Banyak yang tidak saya pahami, sehingga lebih baik tidak saya tulis daripada salah. Tetapi intinya, seandainya kemitraan atau komunikasi antara perawat – apoteker – dokter ini bisa berjalan dengan baik, tentu saja pelayanan kepada pasien akan jauh lebih baik lagi, medication error bisa ditekan serendah mungkin atau dihilangkan. Kalau ini bisa berjalan dengan baik, tentu saja perawat bisa lebih fokus pada aspek keperawatan pasien, bukan lagi menjalankan kewajiban profesi kesehatan yang lain.
Saran untuk ISFI sih, kalau memang pharmaceutical care belum bisa dijalankan, paling tidak keperawatan juga diundang dalam pertemuan2 farmasi, sehingga perawat, yang masih menjalankan sebagian tugas apoteker dalam hal obat, bisa menjalankannya sesuai dengan yang seharusnya. Perawat memang mempelajari berbagai hal tentang obat, tetapi akan lebih baik jika bisa terus di up-to-date.
Maaf kalau saya salah…. sekedar opini saja.