Suatu ketika, saya jalan-jalan ke sebuah mall. Ketika mau lewat satu eskalator, saya melihat ada seorang bapak membawa kereta dorong dengan bayi di dalamnya. Dia bermaksud membawa kereta bayi tersebut menuruni eskalator. Kemudian ada satu petugas keamanan yang menghampirinya dan menyarankan bapak tersebut untuk turun menggunakan lift saja. Dalam hati saya bilang, yup, betul, bahaya sekali membawa kereta bayi seperti itu. Sembrono sekali bapak itu, pikir saya. 

Tetapi apa yang terjadi?

Bapak itu marah-marah. Dia tidak mau diingatkan oleh petugas keamanan tersebut. Padahal setahu saya, dia menegur bapak itu baik-baik. Saya kaget sekali ketika bapak tersebut menunjuk muka petugas keamanan tersebut dengan mengeluarkan suara keras. Saya tidak jelas apa yang dia katakan, tetapi yang jelas membentak si petugas keamanan. Duh, ngeri sekali saya. Saat itu tidak banyak orang yang berada di tempat tersebut. Hanya saya, si petugas keamanan, bapak dengan kereta dorongnya, seorang ibu dan anaknya (yang ternyata istri dari bapak yang marah-marah tersebut).

Akhirnya si bapak tetap nekat turun menggunakan eskalator. Mungkin dia sudah sering melakukan hal tersebut dan merasa sudah canggih menggunakan alat tersebut dan kereta bayinya. Si petugas keamanan hanya memandang si bapak dan terus berkomunikasi dengan teman-temannya. Bukan bermaksud menguping, tetapi dari HT saya dengar orang di seberang mengatakan untuk terus membujuk si bapak menggunakan lift saja. Kemudian si petugas keamanan mengatakan bahwa dia sudah gagal membujuk.

Saya pikir urusan sudah selesai sampai di situ. Ternyata tidak. Sampai di bawah, kereta bayi langsung diambil alih oleh si istri yang langsung pergi menjauh, sementara si bapak memandang ke atas ke arah si petugas keamanan. Duh, gawat, pikir saya. Akhirnya saya turun saja menggunakan eskalator yang sama. Sampai di bawah, ada beberapa petugas yang menghampiri si bapak dan si bapak dengan nada dasar “marah” mengadu perlakuan yang dia terima dari petugas keamanan…

Dari kejadian tersebut, bukan bermaksud membela si petugas keamanan, saya berpikir tentang dua hal:

  1.  Apa yang dilakukan oleh si petugas keamanan menurut saya benar. Who knows? Apapun bisa terjadi. Kalau ada apa-apa, pastilah pihak mall yang akan repot. Tetapi apa yang dia dapatkan? Justru bentakan. Padahal saya pikir itulah tugasnya. Waktu saya di luar negeri, suatu negara yang bebas tetap bisa menghargai profesi apapun. Seorang cleaning service bisa saja mengeluarkan seseorang yang tinggal di tempat dia bekerja jika kelakuannya tidak bisa diatur. Semua profesi dihargai. Tidak ada perbedaan antara seorang dekan universitas dengan sopir bis. Lain sekali dengan di sini ya? Seorang cleaning service bisa terus mengelus dada saat selesai mengepel, dengan santainya orang lain lewat di lantai yang basah tanpa permisi dengannya. Dengan diam si petugas mengepel lantai lagi, tanpa bisa protes. Nasib…. mungkin begitu pikirnya.
  2. Pernah si Michael Jackson dan Britney Spears diprotes media gara-gara perlakuan mereka terhadap bayi mereka. Jacko membawa si bayi ke pinggir jendela untuk say hello dengan penggemarnya. “Hanya” begini saja, Jacko langsung diprotes dan dianggap bisa membahayakan si anak, meskipun tidak terjadi apa-apa. Tetapi langsung dibahas dimana-mana dan dianggap sebagai ayah yang tidak becus mengasuh anaknya. Lain lagi si Britney. Dia pernah bawa satu anaknya menggunakan mobil, dia dudukkan sendiri di sampingnya yang sedang menyetir. Di lain waktu, dia gendong si anak dengan menggunakan tangan kiri dan saat akan masuk ke dalam mobilnya, Britney kesleo dan si anak hampir jatuh, tetapi langsung dibantu oleh pengawal pribadinya. Dua kejadian ini membuat Britney harus kehilangan hak asuh terhadap kedua anaknya karena juga dianggap tidak bisa mengasuh anaknya. Bagaimana dengan bapak yang saya lihat di mall? Saya hanya bisa bilang, untung dia bukan artis…. Kalau dia artis, apalagi artis dunia, pasti langsung di-blow up media. Saya dengan senang hati menjadi saksi, demi si kecil yang tidak tahu apa-apa (sekalian numpang tenar… hahahaha….). Tetapi sekali lagi, “untung” dia bukan artis. Dan saya berdoa untuk si kecil, “Mudah-mudahan kamu bahagia dengan ayah seperti itu, Nak…” Mudah-mudahan yang saya lihat hanya satu kecelakaan dari sang ayah. Selebihnya, mudah-mudahan, dia adalah ayah yang sangat baik untukmu!