Jalan-jalan di mall, banyak yang terlihat menenteng laptop untuk dapat akses hot spot gratis. Di kampus-kampus, laptop juga bukan lagi barang mewah. Warnet digelar. Hampir semua tempat hiburan juga menyediakan fasilitas hot spot. Bagaimana dengan rumah sakit?

Setiap kali seseorang terpaksa harus masuk ke rumah sakit, kebanyakan akan mengalami stress hospitalization, perasaan cemas saat memasuki rumah sakit. Rumah sakit identik dengan rasa sakit, jarum suntik, prosedur lain yang menyakitkan, bosan, dll. Tentu akan sedikit membantu jika rumah sakit juga menyediakan fasilitas hot spot. Di rumah sakit besar, hal ini tentunya bukan barang baru. Dengan demikian, pasien atau keluarga yang harus tinggal lama di rumah sakit bisa sedikit mengusir kejenuhan dengan berselancar di dunia maya. Begitu juga bagi pasien atau keluarga yang sangat tergantung dengan internet, tidak perlu meninggalkan rumah sakit untuk mencari warnet.

Bagaimana dengan staf-nya?

Ada memang rumah sakit yang menyediakan fasilitas internet. Tetapi kebanyakan hanya terbatas untuk staf tertentu saja. Padahal, di era-nya internet seperti sekarang ini, internet sudah menjadi barang kebutuhan. Untuk kaum muda, e-mail, chating, games online, dll mungkin yang menjadi favorit mereka.

Di luar itu, internet bisa mempengaruhi perubahan budaya. Betapa tidak, hanya dari “klak-klik” saja, kita bisa mencari informasi apapun. Lowongan kerja, informasi beasiswa, jalinan pertemanan, bisnis, dll. Akibatnya, pola pikir seseorang bisa saja berubah hanya dari internet. Saya termasuk orang yang dulunya gaptek internet. Tetapi begitu kenal, saya menjadi tergantung. Tiada hari tanpa berkutat di depan internet. Mungkin laptop saya sampai bosan melihat saya. Pekerjaan dan studi saya menuntut untuk terus mencari dan mencari. Adakalanya saya juga buka friendster, facebook, tetapi paling sering adalah YM dan e-mail. Dengan YM dan e-mail, saya bisa terus berkomunikasi dengan pihak luar. Dari iseng ber-internet, sudah banyak yang saya dapatkan. Buku, majalah, jurnal, bahkan terakhir laptop, bisa saya dapatkan. Tetapi bukan jadi hacker loh!

Perawat?

Hum…. berhubung banyak rumah sakit yang belum menyediakan fasilitas komputer dan internet di ruangannya masing-masing, pasti banyak sekali yang belum bisa mengambil manfaat dari fasilitas ini. Padahal, kemajuan di bidang kesehatan dan keperawatan luar biasa cepatnya. Kalau tidak mau mengikuti, jelas akan ketinggalan jaman. Mau menunggu sampai disekolahkan supaya dapat mengembangkan ilmunya? Duh, urutan ke berapa tuh?

Era-nya lifelong learning! Perawat tidak harus menunggu antrian disekolahkan dari rumah sakit supaya bisa meningkatkan ilmunya. Dengan internet, perawat dapat terus menambah pengetahuannya. Meskipun urutan dapat kesempatan sekolah masih panjang, bukan berarti harus ketinggalan informasi dari yang sudah mendapatkan kesempatan untuk sekolah. Bahkan kalau ulet, bisa “menjemput beasiswa”, sehingga tidak harus menunggu giliran sekolah. Sokur-sokur dapat beasiswanya untuk sekolah di luar negeri…. 

Nah, untuk para perawat, situs-situs seperti The Joanna Briggs Institute, Contemporary Nurse dan Evidence Based Nursing, bisa menjadi rujukan. Kalau mau langganan, ada Medscape atau Allnurses. Bikin mailing list antar perawat, diskusi, bisa tambah terus pengetahuannya. Blog perawat juga banyak sekali. Perawat Indonesia juga sudah banyak yang membuat blog keperawatan. Lihat saja punya pak Bondan, pak Nur, termasuk punya saya (hehehehe…..). 

Mahasiswa perawat? Apalagi…. Jangan sampai lulus dari pendidikan belum tahu yang namanya internet. Itu bisa jadi modal kita untuk terus mengembangkan ilmu. Kalau kita mempunyai pengetahuan yang up-to-date, pasti jadi layak diperhitungkan. Kalau saya memaksa mahasiswa untuk mengirim tugas melalui internet, alasan utamanya tentu saja supaya mereka bisa kenalan dengan internet (selain alasan cinta lingkungan, daripada buang-buang kertas hanya untuk saya coret-coret, atau alasan sering tidak ada di kantor, jelas internet jadi kebutuhan, karena mungkin lebih sering ketemuan dengan internet daripada dengan mahasiswa). Bukan alasan “biar keren”. 

All in all, saya merasakan betul manfaat internet. Pikiran lebih terbuka, cepat dapat informasi, komunikasi lancar dan lebih murah, dan banyak lagi yang lainnya. Sahabat perawat, tidak harus punya laptop, pergi saja ke warnet. Dengan tiga ribu rupiah, kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dalam waktu satu jam. Belajar menggunakan internet juga tidak akan lebih dari satu jam. Setelahnya, kita bisa mengeksplor sendiri. Sokur-sokur bisa buat blog dan semacamnya, sehingga kita bisa saling berbagi. Untuk apa sekolah tinggi atau banyak ikut kursus kalau hasilnya hanya untuk kita sendiri. “Pinter kok dipek dhewe….”

Tulisan ini saya buat, ketika hari ini saya banyak terinspirasi oleh tulisan orang lain….