Lihatlah gambar ini. Apa pendapat saudara? Perawat dulunya identik dengan baju putih, topi (cap) besar, baju panjang… jadoel deh. Tetapi sebenarnya karisma seorang perawat bisa datang dari bajunya. Mengapa? Saya sering sekali merasakannya. Ketika saya berpakaian “preman” (baju bebas) dan melihat sebuah kecelakaan di jalan, saya sering memilih kabur saja. Dulu pernah saya lihat orang jatuh, bibirnya berdarah. Saya berniat untuk membantunya dengan merawat lukanya. Lukanya hanya kecil, tapi saya merasakan perasaan yang lain. Rasanya mengerikan saat merawat lukanya. Tetapi saat tugas di rumah sakit, separah apa kondisinya, dengan tenang saya bisa merawatnya. Saat praktek di rumah sakit negeri, sering sekali mendapat pasien dengan kondisi yang amat sangat parah. Dan saya santai saja menghadapinya.

Di lain waktu, rasa sedikit merinding itu ada saat berjalan sendirian di lorong rumah sakit yang panjang. Tetapi ketika sedang dinas malam, sering saya berjalan sendirian dengan santainya melewati lorong yang sama tanpa rasa takut sedikitpun. Padahal suasananya sudah sangat lengang… sepi… Ah, mungkin hanya perasaan saya saja. Mungkin sebenarnya tidak ada bedanya sama sekali.

Tetapi, di luar itu, seragam adalah identitas. Dari bajunya, orang bisa mengenali ini perawat atau dokter. Meskipun tidak sedikit juga yang tetap menanggap perawat sama saja dengan dokter. Bajunya sama-sama putih dan tugasnya menangani orang sakit. Tetapi paling tidak, perawat itu ya yang menggunakan topi di kepalanya. Perawat itu ya yang berbaju putih. Perawat itu ya yang kaya senyum…. Kalau dokter kan identitasnya jas putih, pakai dasi dan berkalung stetoskop.

Apa yang terjadi sekarang? Seragam perawat tidak harus putih… Karena image baju putih, terutama untuk pasien anak-anak adalah menakutkan. Sehingga, banyak rumah sakit yang sudah memodifikasi seragam perawat-nya dengan warna-warna soft selain putih. Tentu saja menyenangkan melihatnya. Perawat jadi tambah cantik dan ganteng.

Selain itu, banyak juga rumah sakit di Indonesia yang perawatnya tidak lagi menggunakan cap. Biasanya disisir rapi atau atau disanggul untuk perawat wanitanya. Sehingga, mungkin agak sulit juga membedakan perawat dengan petugas rumah sakit yang lain. Senyumnya? Hum…..

Yang jelas, mungkin saking cintanya dengan seragam baru-nya, banyak perawat yang menggunakan baju seragamnya untuk dibawa keluar dari rumah sakit atau tetap dipakai saat pulang. Tidak jarang, sering terlihat beberapa perawat yang tetap menggunakan baju seragamnya lengkap saat jajan di luar lingkungan rumah sakit. Mungkin orang-orang yang lewat di rumah sakit bisa saja melihat perawat duduk berjejer-jejer, membeli panganan atau makanan lain di pinggir jalan sekitar rumah sakit.

Hum…. Perawat kan bekerjanya di tempat yang bersih, kadang harus steril intervensinya. Kalau sering dipakai untuk “hang-out”, berapa juta iyek-iyek (istilah keponakan saya untuk mengatakan kuman) yang nempel di bajunya. Saya punya seorang teman, laki-laki, bekerja di Instalasi Gawat Darurat. Seragamnya waktu itu hijau. Tetapi saya tidak pernah sekalipun melihat dia pulang dengan baju seragamnya itu. Saat saya tanyakan, ternyata bajunya dia tinggal untuk dicuci dan disetrika oleh pihak rumah sakit. Saya memujinya. Tetapi dia hanya menjawab singkat: “Daripada nyuci sendiri”.

Hehehe…. iya sih. Yang kamu lakukan itu benar. Tetapi alasan utamanya bukan karena malas mencuci dong. Dengan cara seperti itu, baju dinas perawat akan tetap terjaga bersih. Kalau memang harus keluar, kan sudah disiapkan jas. Tidak perlu ganti baju hanya untuk pergi makan. Yang penting baju perawatnya tetap terjaga. Yang jelas, image perawat juga akan tetap terjaga…

 

Sumber gambar:

http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.msvu.ca/library/archives/nhdp/Images/Infirmary/HIN_P9.jpg&imgrefurl=http://www.msvu.ca/library/archives/nhdp/history/hospital.htm&h=600&w=348&sz=32&hl=id&start=33&tbnid=pOuk7-wcv3FSaM:&tbnh=135&tbnw=78&prev=/images%3Fq%3Dnurse%2Buniform%2Bin%2Bthe%2Bpast%26start%3D18%26gbv%3D2%26ndsp%3D18%26hl%3Did%26sa%3DN