Pernah mendengar “portfolio”? Sebelumnya saya hanya tahu portfolio dibuat oleh orang-orang penting atau artis yang kemudian diterbitkan dan dijual. Semester ini ada satu subjek tentang professional portfolio. Ternyata, siapapun bisa membuatnya. Tulisan ini mungkin belum bisa membahas secara lengkap apa itu portfolio. Tetapi setelah menyelesaikan subjek ini, akan ada tulisan lebih lanjut tentang professional portfolio.

Siapapun bisa membuatnya? Tentu saja hanya para professional. Porfolio berisi antara lain curriculum vitae (CV), case studi (studi kasus), evidence matrix dan role map. CV atau riwayat hidup mungkin sudah tidak asing lagi. Isinya tentang personal detal, riwayat pendidikan, pelatihan, seminar, publikasi, presentasi, beasiswa, penelitian yang pernah dilakukan, dll. Studi kasus dilakukan untuk membahas satu masalah yang pernah dialami dan bagaimana kita menyelesaikannya, disesuaikan dengan kompetensi profesi kita. Role map berisi tentang latar belakang profesi kita, latar belakang insitusi tempat kita bekerja saat ini, populasi konsumen yang kita layani, standar profesi dan standar kompetensi. Tentu saja semua tulisan yang kita buat harus berdasarkan evidence, misalnya serifikat, ijazah, ucapan terima kasih, laporan kegiatan, penilaian, dll.

Untuk apa sebenarnya membuat portfolio? Ini pertanyaan yang sering saya ajukan. Bukankan cukup dengan membuat CV yang terus di up-to-date? Portfolio ini bisa kita gunakan untuk mencari pekerjaan atau promosi jabatan. Tetapi sebenarnya inti dari membuat portfolio adalah “evaluasi diri”. Apakah yang selama ini kita jalankan sesuai dengan standar atau kompetensi profesi?

Satu lagi yang saya catat, ternyata dalam CV kita tidak harus mencantumkan tanggal lahir, agama dan status perkawinan. Bahkan ini sudah dianggap ilegal di Australia khususnya, jika suatu insitusi meminta pelamar atau karyawannya mencantumkan hal-hal tersebut dalam CV mereka. 

bersambung