Kemarin, saya benar-benar dibuat hampir putus-asa. Saya mengalami kelelahan yang amat sangat, karena apa yang menjadi kerinduan saya selama ini, masih gagal saya peroleh. Saya berontak, sampai protes kepada Tuhan, yang rasanya tidak adil kepada saya dalam hal ini… Saya tahu, di dunia ini banyak yang mengalami hal seperti yang saya alami, bahkan mungkin lebih berat. Tetapi saya tetap menyalahkan Tuhan… Saya sudah berusaha, tidak hanya berdoa, kenapa tetap Tuhan tidak menginjinkan-Nya? Itu pertanyaan yang saya ajukan kepada Tuhan berulangkali. Dan inilah jawaban Tuhan….

Malam harinya, setelah mengajar program khusus, saya pulang membawa sebuah tabloid langganan saya. Malam itu juga iseng saya baca. Di halaman-halaman terakhir, saya baca sebuah kisah penculikan yang dialami oleh Elizabeth Ann Smart, seorang gadis dari Amerika. Juni 2002, dia (saat itu berusia 15 tahun) diculik oleh seorang tunawisma, Mitchell, yang dipekerjakan oleh ayahnya, Mr. Smart. Mr. Smart memang orangnya sangat dermawan dan suka menolong orang-orang yang membutuhkan pekerjaan. Tidak tahunya, salah seorang yang dia pekerjakan adalah seorang psikopat, yang akhirnya menculik anaknya, Elizabeth, tanpa ia ketahui. Saat penculikan terjadi, Elizabeth sedang tidur bersama dengan adik perempuannya (9 tahun).    

Setelah itu, Elizabeth dibawa oleh si penculik ke sebuah hutan, tidak jauh dari tempat tinggal Elizabeth. Dimulailah kisah mengerikan yang dialami oleh Elizabeth. Elizabeth tinggal berpindah-pindah di hutan tersebut, bersama Mitchell dan istrinya. Elizabeth dijadikan istri kedua oleh Mitchell, mengalami siksaan fisik dan mental yang tiada habisnya. Mengapa Elizabeth tidak melarikan diri? Rupanya si penculik berusaha mencuci otak Elizabeth. Mitchell mengganti nama Elizabeth dengan Augustine, berusaha mengalihkan latar belakangnya, tentang siapa orang tuanya, dan menanamkan pengertian pada Elizabeth bahwa dia dianggap sebagai gadis yang minggat dari rumahnya, tidak seorangpun berusaha mencarinya. Micthell juga mengatakan bahwa dia adalah nabi bagi Elizabeth, sehingga Elizabeth harus menuruti kata-katanya.

Setiap hari, Elizabeth diminta penculiknya untuk menulis buku harian berdasarkan apa yang dikatakan oleh penculik. Tetapi, ternyata, Elizabeth kadang menuliskan di buku hariannya: “Saya punya orang tua dan yang saya tahu, saya sangat mencintai mereka”. Tentu saja bukan dengan bahasa Inggris, sehingga si penculik tidak memahami kata-katanya. Elizabeth adalah gadis pintar, meskipun dia dicuci otaknya, tapi dia berusaha meyakinkan diri bahwa dia adalah tetap Elizabeth Smart.

Sementara itu, di luar sana, orang tua Elizabeth tetap yakin bahwa anak mereka, yang dikabarkan pasti sudah meninggal di tangan si penculik, masih hidup, tetapi entah dimana. Dengan paman-paman dan keluarga Smart yang lain, mereka tetap berusaha untuk mencari Elizabeth. Dan keajaiban itu datang….

Adik perempuan Elizabeth, akhirnya buka suara dan mengenali si penculik. Mengapa setelah sekian lama? Waktu penculikan terjadi, si Adik ini baru berusia 9 tahun dan sangat ketakutan. Polisi kemudian berusaha membuat sketsa wajah si pelaku. Tetapi tidak langsung menyebarkannya. Atas inisiatif keluarga, mereka sendiri yang akhirnya menyebarkan sketsa wajah penculik beserta foto terakhir Elizabeth. Mulailah informasi bermunculan…..

Banyak yang mengenali wajah penculik maupun Elizabeth. Salah satunya di sebuah pesta. Elizabeth pernah diajak penculiknya menghadiri sebuah pesta, tetapi wajahnya ditutup dengan cadar, sehingga hanya kelihatan matanya saja. Orang-orang sebenarnya sudah curiga, tetapi setiap akan ditanya, Elizabeth selalu memalingkan mukanya. Akhirnya polisi, berdasarkan informasi dari warga, berhasil menemui Mitchell, istrinya dan Elizabeth. Waktu itu Elizabeth menyatakan dirinya adalah Augustine, bukan anak Mr/Mrs. Smart. Tetapi polisi tidak putus-asa. Elizabeth di bawa ke tempat terpisah dan ditanya. Elizabeth yang pintar hanya menjawab: “Thou sayest it”. Artinya: “Seperti yang kau katakan” (pernah diucapkan Yesus kepada Ponsius Pilatus saat ditanya tentang identitasnya).

Akhirnya, Elizabeth kembali ke kehidupan normalnya. Kondisinya memang menyedihkan. Yang pertama menemui Elizabeth bukanlah orang tuanya, tetapi paman-bibinya. Salah seorang keluarga merapikan rambut dan membersihkan wajah Elizabeth, menyiapkan mandi busa untuk Elizabeth.

Apa yang menarik dari kisah ini?

Elisabeth mengalami kejadian yang sangat mengerikan selama 9 bulan lamanya. Tetapi hari pertama dia kembali ke rumah, dia minta tidur sendiri di kamarnya, tempat kejadian penculikan dirinya. Dua minggu kemudian, ELizabeth mengajak keluarganya jalan-jalan menyusuri bukit dan dengan tegar menunjukkan tempat dia tinggal selama diculik. Memang perilakunya sedikit berubah, tetapi ketika ditawari untuk pergi ke psikiater, Elizabeth tidak mau. Dia bilang, dia punya orang tua dan keluarga yang bisa diajak bercerita. Elizabeth juga tidak pernah berusaha menceritakan apa yang dialaminya selama diculik. Keluarganya juga tidak berusaha menanyakannya, kecuali Elizabeth sendiri yang ingin menceritakannya. Tetapi, Elizabeth tidak pernah detail menceritakan apa yang dia alami selama diculik. Bahkan dia sempat bertanya, apakah Mitchell dan istrinya baik-baik saja….

LUAR BIASA! Gadis yang baru berusia belasan tahun bia sedemikian tegarnya. Selama penculikan, yang dia terus tanamkan dalam dirinya adalah: “KEAJAIBAN ITU ADA”. Itu yang membuatnya tidak pernah putus-asa. Sama dengan apa yang orang terdekat saya bilang setiap kali hampir putus-asa: “Mukjijat itu nyata….” Nyatanya, keyakinan ELizabeth itu bisa membawanya untuk tetap meneruskan hidupnya. Dia tidak pernah mau menceritakan apa yang terjadi, karena menurutnya, itu hanya akan membuang waktunya saja. “Waktuku sudah terampas selama 9 bulan, dan aku tidak akan menyia-nyiakan hidupku hanya untuk mengenang peristiwa itu. Aku memang tidak akan bisa melupakannya, tetapi menceritakan hal itu kepada psikiater atau media, tidak akan membawa arti apa-apa untukku…”

Kisah tegar Elizabeth banyak dimuat di media. Dia tetap saja meneruskan hidup, punya pacar, dan justru orang-orang yang di sekitar dia yang kadang merasa segan saat berhadapan dengan Elizabeth, tidak tahu harus berbuat apa-apa. Bila Elizabeth merasa gelisah, dia cukup melampiaskannya dengan memainkan harpa…………

Mudah-mudahan tulisan yang memuat si tegar dan si pintar Elizabeth, tidak hanya menginpirasi saya untuk tidak pernah putus-asa, tetapi juga untuk sahabatku semua, yang mungkin juga mengalami keletihan……..

Picture was taken from http://www.nndb.com/people/644/000030554/elizabeth_smart.jpg