Sering ditemukan mudahnya perawat mengangkat diagnosis keperawatan yang berhubungan dengan nutrisi. Mudah-mudahan tulisan ini bisa membantu. 

Awalnya, diagnosis nutrisi di NANDA adalah “Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang/lebih dari kebutuhan tubuh”. Tapi sejak edisi tahun 2000an, diagnosis tersebut direvisi menjadi beberapa:

  1. Imbalanced nutrition: less than body requirements (148) atau ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
  2. Imbalanced nutrition: more than body requirements (149) atau ketidakseimbangan nutrisi: lebih dari kebutuhan tubuh
  3. Readiness for enhanced nutrition (150) atau potensial peningkatan nutrisi (diagnosis keperawatan sejahtera/wellness)
  4. Risk for imbalanced nutrition: more than body requirements (151) atau resiko ketidakseimbangan nutrisi: lebih dari kebutuhan tubuh

Dari keempat diagnosis keperawatan tersebut, mungkin diagnosis pertama-lah yang sering digunakan. Diagnosis “Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh” merupakan diagnosis untuk pasien yang mengalami kekurangan intake nutrisi kurang dari kebutuhan metobolisme. Meminjam istilahnya Carpenito, bahwa di suatu diagnosis harusnya ada data mayor, diagnosis ini mengutamakan tanda “berat badan kurang 20% dari berat tubuh ideal”. Sehingga seharusnya pada saat pasien tidak mau makan (hanya sekali atau dua kali saja) belum tentu bisa mengangkat diagnosis ini. Apalagi kalau tidak ada data berat badan pasien saat masuk rumah sakit dan setelah dirawat. Pernah ada yang bertanya: “Kalau pasien tidak mau makan karena merasa mual, apa tidak sebaiknya mengangkat diagnosis ini?”. Lho, lha sudah ada penurunan berat badan belum? Kalau memang datanya “hanya” karena mual, kenapa tidak mengangkat diagnosis “mual” (Nausea, NANDA hal. 142-143) saja? Masalahnya, sampai dengan NANDA 2007-2008, belum/tidak ada diagnosis “Resiko ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh”. Mungkin kalau ada diagnosis tersebut, bisa saja mengangkat diagnosis nutrisi ini dengan kategori diagnosis “resiko”.
Selain penurunan berat badan, data lain untuk diagnosis ini adalah:
  1. kram perut
  2. nyeri perut
  3. diare
  4. rambut rontok
  5. kurang makan
  6. kurang informasi
  7. kurang tertarik dengan makanan
  8. penurunan berat badan dengan intake makanan yang adequat
  9. miskonsepsi
  10. misinformasi
  11. membran mukosa pucat
  12. ketidakmampuan mencerna makanan
  13. kelemahan otot
  14. etc.
Etiologi yang bisa dihubungkan:
  1. faktor biologis
  2. faktor ekonomis
  3. ketidakmampuan menyerap makanan
  4. ketidakmampuan makan
  5. ketidakmampuan mencerna makanan
  6. faktor psikologis.
Jika data yang ditemukan tidak hanya sekedar “mual” saja, tapi lebih dari itu sesuai daftar tanda-gejala di atas, sebaiknya mengangkat diagnosis resiko saja, meskipun memang di NANDA belum ada diagnosis resiko untuk ini. Diagnosis yang ada untuk resiko adalah “Resiko ketidakseimbangan nutrisi: lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan….”. Tetapi untuk “kurang dari kebutuhan tubuh” memang saat ini belum ada. 
Diagnosis “Ketidakseimbangan nutrisi: lebih dari kebutuhan tubuh” dapat diangkat untuk pasien dengan berat badan 20% lebih dari BB ideal.
Kemudian ada pertanyaan menarik: “Kalau pasien terpasang Naso Gastric Tube (NGT), apakah perlu diangkat diagnosis nutrisi ini? Bukankan sudah ada jadual rutin untuk memberikan makan melalui NGT tadi, tidak mungkin pasien mengalami gangguan nutrisi….”. 
Menurut pendapat saya, kasus ini mirip dengan diagnosis resiko infeksi untuk pemasangan infus atau prosedur invasif lainnya. Begini, kenapa pasien dipasang NGT? Karena gangguan menelan, penurunan kesadaran, dll. Sebelum dilakukan pemasangan NGT, tentu saja perawat akan melakukan pengkajian terlebih dahulu. Misalnya, “Oh, pasien mengalami penurunan kesadaran”. Harusnya perawat akan mengangkat diagnosis “Resiko ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh”. Intervensinya nanti antara lain: pemasangan NGT, pemberian sonde fooding 5 x 400 ml misalnya. Masalahnya, perawat kemudian mempunyai asumsi bahwa pasien sudah terpasang NGT sejak dari poli atau IGD, berati tidak perlu diangkat diagnosis nutrisi. Pertanyaannya: “Perawat memberikan makan melalui NGT 400 ml. Setelah melakukannya, di catatan perkembangan mana dia akan mendokumentasikan intervensi ini???”
So, perawat yang memasang NGT (di poli, IGD, atau tempat lain), tentunya mempunyai diagnosis nutrisi dulu sehingga dia perlu memasang NGT. Selanjutnya, perawat di ruang rawat inap atau home care akan meneruskan rencana intervensi dari perawat pertama yang memasang NGT. Masalahnya: “Bagaimana dokumentasi proses keperawatan di poli/IGD/tempat pertama ini?”