Saat membuat suatu reflective notebook, saya mendapatkan satu bahan bacaan yang cukup menarik. Literatur ini ditulis oleh Bruch & Ghoshal (2002). Intinya:

Nowadays, it is no doubt that leaders are working under incredible pressure to get a great achievement. Banyaknya tekanan ini membuat para pimpinan lembaga atau manager “sibuk”. Wajar. Tetapi banyak survey yang telah dilakukan oleh penulis yang menyatakan bahwa memang para manager ini sibuk, tetapi ternyata banyak sekali kegiatan atau performance yang tidak ada artinya atau tidak efektif. Telpon sana, telpon sini, meeting sana, meeting sini…. tetapi jarang melakukan refleksi atas pekerjaannya. Akhirnya, banyak masalah muncul dan semakin membuat sibuk ketika masalah-masalah menjadi menumpuk.

Kadang juga ditemukan tipe manager procastinator. Artinya, seseorang yang suka sekali menunda pekerjaannya, sampai akhirnya tiba due date-nya. Gubrak! Salah satu manager yang diikutsertakan dalam survey tersebut menyatakan: “Saya tahu ada tugas, tetapi saya tidak tahu bagaimana harus memulainya”. Banyak yang berhasil dengan model ini, seperti teman saya yang selalu mengerjakan tugas-tugas essay yang menumpuk di detik-detik terakhir pengumpulan tugas. Dia berhasil. Tapi pengorbanannya, 3 malam tidak tidur sama sekali….. (wow!). Tetapi untuk sebuah organisasi, cara ini sepertinya tidak efektif, meski mungkin sangat populer….

Leaders should not to be busy with their activities or performance. An ideal leader should have a clear intention in where they will spend their time. The most important thing is that leader should focus their work to save their energy effectively. Yup, manager seharusnya tidak terlalu sibuk dengan aktivitasnya. Idealnya, dia harus benar-benar fokus memikirkan dimana dia harus menghabiskan waktunya. Bukankah di sebuah organisasi atau instansi ada kepengurusan? Tentu ada juga pembagian tugasnya. So, manager harus fokus dalam bekerja, untuk menyimpan energinya secara efektif. Daripada manager ikut-ikutan sibuk memindahkan pot tanaman, lebih baik energinya disimpan untuk memikirkan ide-ide cemerlang bagi kemajuan organisasi atau instansinya. Bukannya berpikir itu juga menghabiskan banyak energi?

All in all, just tried to work smarter and think for making the meaningful contributions. 

 

(written when I’ve finished the last essay for the first semester. I discussed about the leadership of Kartini, reflective note book).