Hari ini ada sebuah cerita yang menambah kegelisahan saya…. Di satu sisi, beberapa rekan saya belajar tidak kenal waktu untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris supaya bisa bersaing mendapatkan beasiswa. Di sisi yang lain, ada “beberapa” rekan perawat muda yang lain bertanya: “Ngapain sekolah lagi! Itu-itu juga kan? Apa manfaatnya?” 

 

Ini ada beberapa alasan kenapa orang ingin sekolah:

          jenjang karir

          akreditasi institusi

          kenaikan gaji

          menambah pengetahuan

          memajukan ilmu pengetahuan

          mengembangkan ilmu pengetahuan

          membuat hidup lebih hidup dan bermakna

 

Motivasi?

          level tinggi : 50% berhasil

          level sedang : 25% berhasil

          level rendah : may be yes, may be not….. (???)

 

Realita:

          Indonesia punya 500 sekolah keperawatan, 25.000-30.000 lulusan perawat per-tahunnya, yang mampu diserap pemerintah hanya 1/3 nya atau 10.000 perawat per tahun. Pengangguran terdidik : > 100.000 perawat!

          dunia memerlukan 2 juta perawat per tahunnya, no limit age

          ancaman perawat dari luar negeri (Filipina) à tawaran kualitas (minimal S1 keperawatan), mau gaji rendah – RS maju – pasien banyak – perawat : “pribumi” didepak di negaranya sendiri – alih budaya (ex: Amerika)

          As a result : perawat tanpa kreatifitas, kemampuan berpikir kritis dan jiwa kepemimpinan – GOOD BYE!

          Perawat & profesi lain: mempertanyakan kenapa perawat harus sekolah lagi??? Kenapa coba??? Toh pulang ke kandang gitu-gitu aja… tidak ada gunanya sekolah…. NGAKIK….. hahahaha……

 

Pertanyaannya? Lha mau cari apa di sekolah?

          masih mempertahankan cara lama?

          EBP…. kenal?

          Pasien: unik & tidak lagi seperti yang doeloe…. (maaf mbak Betharia Sonata)

 

Refleksi :

Dua-tiga tahun lalu saya punya seorang mahasiswa jalur khusus dan seorang teman yang sudah jadi nenek, keduanya  mendekati 50 tahun usianya. Yang teman saya, meski waktu itu sudah 47 tahun, tetapi semangat belajarnya luar biasa. Setiap hari menempuh jarak Jogya – Solo menggunakan mobilnya sendiri, bahkan sering meninggalkan suaminya yang seorang camat, hanya untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Tidak berapa lama, dia sudah menjadi head of nurse di sebuah rumah sakit terkenal di Solo. Tidak berapa lama kemudian, dia sudah lulus dari program S2. Saya tanya, kenapa terus sekolah Bu, kan sudah mau pensiun? Dia hanya menjawab sederhana : ”Banyak yang belum saya ketahui dan saya memang ingin tahu….”

 

Kerendahan hati… mungkin itu kuncinya. Dia mapan, kaya, posisi lumayan. Tetapi terus saja kuliah. Kalau tidak ada kerendahan hati di sana, tidak mungkin…. Selama ini kalau sudah pegang ijazah, rasanya sudah plong dan puas. Bahkan tak jarang banyak yang bilang : ”Keren… saya sudah sarjana”.

 

Padahal? Semakin sering saya baca-baca hal-hal yang ringan saja, semakin membuat kiat semakin kecil. Ternyata memang banyak yang belum diketahui. Setiap kali ikut kuliah, seminar atau sejenisnya, kadang keluar komentar: ”Ah, seminar apaan nih… basi…. dari dulu kok itu-itu saja…” Berarti dia berangkat ikut seminar itu dalam kondisi ”kepala penuh”. Perumpamaannya, gelas kalau sudah penuh mau diisi air pasti tumpah, sia-sia saja menuanginya dengan air. Akan lebih baik jika ditumpahkan sedikir airnya, diganti dengan yang baru, yang lebih fresh. Gelas isi setengah akan lebih mudah diisi dengan air yang lebih segar daripada gelas yang dibiarkan penuh selama bertahun-tahun…. Tidak hanya dengan air yang lebih segar, tapi mungkin juga yang bermacam-macam rasanya, yang lebih menarik warnanya. Meski usia gelasnya sudah uzur, kalau isinya segar dan menarik, pasti tetap ada orang yang mau, bahkan berebut untuk meminumnya. Tapi kalau sudah penuh dengan kotoran, debu, baunya tidak menarik atau bahkan lumutan. Ada yang mau meminumnya?

 

Sedihnya…. sedihnya…. banyak yang berdemo atas UU Keperawatan (meski banyak juga yang sebenarnya tidak tahu isinya). Banyak yang menuntut profesi perawat ”diakui”. Tapi ternyata… banyak juga yang tidak mau mengakui profesinya sendiri…. Banyak yang berlomba-lomba untuk mendapatkan beasiswa dan kesempatan sekolah lagi. Tapi yang sudah punya kesempatan di depan mata, masih ada yang bertanya….: ”Ngapain sekolah, itu-itu juga kok yang dipelajari…” Ya alhasil, itu-itu juga yang akan kau dapatkan, Sahabatku….. Gelarmu bisa panjang, melebihi nama pemberian orang tuamu, tapi tetap itu-itu saja yang akan kau dapatkan, Sahabatku….