Satu hal yang paling sering disinggung tentang Indonesia adalah kebiasaan membaca penduduknya sangatlah rendah. Apalagi menulis. Bagaimana mau membaca atau menulis kalau waktu saja tidak ada? Sebagian besar waktu sudah habis untuk bekerja. Kalau tidak bekerja… bagaimana mungkin dapat uang?

Saya ingat, pernah ada yang memenangkan uang 500 juta rupiah dari program "Who wants to be a millionaire". Ternyata dia adalah seorang loper koran. Di sela-sela pekerjaannya, dia sempatkan waktu untuk membaca koran-koran yang dijualnya. Wow! Salut untuk dia. Apakah waktu kuncinya?

May be yes, may be not…. Beberapa bulan yang lalu, saya ingat, pekerjaan saya sehari-hari di depan komputer, menelanjangi rencana kerangka acuan praktik. Setiap hari harus membuat daftar pekerjaan yang harus saya selesaikan hari itu. Sampai ke hal-hal yang kecil tidak boleh terlupakan. Kalau sampai lupa satu hal, bisa gawat! Sahabat saya sampai menyarankan. "Beli communicator dong!". Saya punya, tapi manual, alias buku agenda kecil dan satu buku tebal hard cover yang sering saya sebut sebagai primbon. Sampulnya sampai lusuh. Tapi kalau saya kehilangan dua benda tersebut, saya bisa kelimpungan setengah hidup. Punya waktu untuk membaca? Masih punya. Menulis? Jelas tidak… Kepala saya sudah terlalu penuh, tetapi tidak akan indah untuk dituangkan dalam tulisan….

Saat ini, saya tetap masih bekerja, sekaligus kuliah. Tetapi tugas-tanggung jawab saya yang paling menyita waktu sudah diserahkan pada teman saya yang lain. Apa hasilnya? Banyak sekali tulisan yang sudah saya hasilkan. Kepala saya memang masih penuh oleh tugas-tugas kuliah, tetapi sekarang bisa saya tuangkan dalam tulisan. Setiap saat muncul ide-ide untuk menulis. Apa saja… (kecuali untuk hal politik). Ternyata menyenangkan sekali bisa menulis. Termasuk menulis email. Sudah berapa banyak teman baru, berapa banyak jalinan kerja sama mulai menanti di depan mata. Hanya dari menulis….

Apakah karena soal waktu? Sekali lagi, may be yes, may be no…. Niat ada terutama. Saya pernah agak kesal dengan seorang teman. Dia mengomentari saya : " Wah, pede sekali menulis…" Why? Why? Why? Kenapa dia bisa bertanya seperti itu… Bukankah dengan menulis kita bia berbagi? Bukankan dengan menulis kita bisa membiarkan otak kita terus bekerja? Bukankah menulis dan membaca bisa menurunkan kepikunan di masa tua? Bagaimana kita bisa tahu sejarah kita kalau tidak ada yang menulis soal itu di masa lalu? Bagaimana hasil penelitian bisa berguna untuk banyak orang kalau disimpan saja oleh penelitinya? Bukankah…. ah, biarlah…. Mungkin dia belum pernah merasakan "kenikmatan" saat berhasil menyelesaikan suatu tulisan, meskipun itu hanya daily privat journal kita…. Niat dan waktu… Ide bisa didapat dimana saja….     

Menulis memang tidak mudah (lihat tulisan saya yang lain). Tetapi apa salahnya mempunyai kebiasaan ini mulai dari tulisan yang sederhana saja. Bahkan sekedar mimpi-mimpi kita… "Melambung jauh, terbang tinggi, bersama mimpi…." Bagaimana Anggun C. Sasmi bisa menyanyikannya kalau penciptanya tidak merangkai kata-katanya dengan indah?