Masih ingat pelajaran di bangku Sekolah Dasar. Sama tidak dengan yang saya dapatkan? “Ini Budi, ini bapak Budi, pak Tani pergi ke sawah, dan seterusnya”. Dari Taman Kanak-Kanak (atau sekarang ada lagi Play Group atau Kindergarten), sampai bangku Sekolah Menengah Atas, sudah dibiasakan untuk menggunakan seragam sekolah. Dulu jaman saya masih boleh telanjang kaki, tapi sekarang, dari ujung kaki sampai ujung kepala, hampir semuanya seragam. Tas sekolah, bahkan kaos kaki-pun diberi merk yang sama.

Pernah ada penelitian terhadap mahasiswa. Mereka diminta untuk menggambar pemandangan. Apa yang digambar? Lebih dari 85% menggambar dua gunung, dengan matahari, awan, burung, sawah, kadang dengan gambar rumah dan pak tani. Jarang ada yang menggambar daerah perkotaan atau pantai. Ketika diminta menggambar binantang, kebanyakan gambarnya menghadap ke sebelah kiri. Pernah saya lakukan juga tes ini pada beberapa mahasiswa saya. Hasilnya juga mirip. Keseragaman juga?

Suatu ketika, saya jalan-jalan bersama dengan dua teman saya di satu pusat perkotaan di Casuarina, Darwin. Lelah berjalan, eh, kami bertemu dengan satu teman dari Indonesia baru makan bersama dengan istrinya di satu kafe. Lama ngobrol, dia menawari kami makan bersama (kalau di luar negeri, diundang makan tidak selalu berarti dibayari, tapi waktu itu dia bilang mau bayarin kami). Satu teman bilang : masih harus jalan, belanja, tadi sudah minum, sudah terlalu siang, bla bla bla… Seperti itu mungkin sampai tiga kali. Pulangnya, saya dan satu teman protes sambil tertawa : “Saya kan lapar, kenapa tadi menolak?” Terbiasa basa-basi, mau bilang ya atau tidak saja pakai acara muter-muter… hahaha… 

Saya bukannya menyalahkan pendidikan di Indonesia, banyak hal yang sudah saya dapatkan dan selalu ada manfaatnya. Tapi mungkin karena kebiasaan untuk “seragam” dan “basa-basi”, ini mempengaruhi pola berpikir juga ya? (maaf kalau saya salah, kan opini saja). Contohnya, ketika harus membuat tugas essay, pertanyaannya “A”, tapi untuk menjawab saja pakai acara muter-muter tadi, akhirnya malah “tidak jadi menjawab”. Essay 1.500 kata hanya menjadi dongeng belaka, tanpa ada jawaban yang diminta oleh dosen. Kadang kalau diminta mengkritik sesuatu, cari-cari jawaban orang lain dulu supaya “aman” karena seragam (kalau di sekolah sampai salah pakai baju seragam kan jadi “tidak aman” tuh, jadi tidak tenang). Karena ingin main “aman” tadi, akhirnya kurang berani mengemukakan pendapat.

Pernah suatu ketika ikut kuliah kelompok lain yang mayoritas mahasiswa dari Australia. Ketika dosen sedang berbicara, sering sekali mahasiswa meng-interupsi dosen, tanpa basa-basi, kenapa begini, kenapa begitu…  Kalau kurang paham atau kurang setuju dengan dosen, dia kejar sampai dia mendapatkan jawaban atau penerangan yang memuaskan atau bisa dia terima, tanpa bermaksud menjatuhkan si dosen. Hanya untuk yang satu ini, saya lebih suka kuliah di Indonesia, karena saya lihat mahasiswa baru bangun tidur, pakai celana pendek dan tidak sisiran saja bisa ikut kuliah. Padahal mahasiswa perawat… mungkin karena yang mereka pentingkan adalah pemahamannya ya…

Setelah tiga bulan di sini, “sesekali” saat orang bertanya : “Where’re you going”, saya hanya menjawab “Casuarina”. Mungkin awal-awal disini saya menjawab seperti ini “Oh, I want to buy some vegetables & fruits for a week. I also need to buy some souvenirs for my friends and family. May be get meal at McD. I want a Happy Meal toy for my nephew”. Loh, aslinya mau pergi kemana sih? Cape deh…

Hum, sesekali memang perlu basa-basi, tetapi ternyata memang sulit untuk menjadi kritis. Kadang kalau ada pertanyaan “Ada yang ingin didiskusikan?” saya masih sering bertanya dalam hati, “Apa yang mau ditanyakan ya? Sepertinya dia sudah sangat jelas menerangkannya….”

Mungkin ini satu cara saya setelah kelelahan mengkritis suatu systematic review. Saya mencoba mengkritik diri saya sendiri, menuangkan opini, sedikit menghilangkan rasa takut “tidak aman” dan semoga suatu saat berani ambil resiko dan berani berpendapat, tetapi tetap menggunakan sedikit basa-basi.

(due date, no expansion yet, half in progress, packing, home sick, tired, gubrak)