Saat itu, kampus CDU sedang banyak orang yang menggali lubang (pakai mesin tentu saja). Sekeliling lubang mereka pagari dengan kain jala warna orange. Saya pikir mungkin lubang-lubang itu mau dipakai untuk kabel atau pipa. Ternyata mereka sedang dalam rangka merenovasi kampus dengan memperbaharui papan petunjuk. Lebih keren, lebih banyak & lebih jelas. Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan. Lama kelamaan saya baru tahu kalau untuk seluruh kampus sebesar itu, HANYA DUA ORANG YANG MENGERJAKANNYA! Itu-itu saja orangnya. Mulai dari bawa mobil, menurunkan papan, menyusunnya, memasang, dll hanya dikerjakan dua orang itu. Wow!

Lain lagi, dua hari yang lalu kami diundang oleh Mrs. Monica, beliau dari divisi international student. Sekedar datang untuk afternoon tea, ngobrol. Kami pikir serius. Ternyata “hanya” ditanya, bagaimana kuliahnya, ada masalah tidak, bagaimana tempat tinggalnya, apakah nyaman, apakah mereka memperlakukan kami dengan baik, apakah kuliahnya bermanfaat dan apa rencana selanjutnya. Sampai segitunya ya? Padahal international student kan banyak sekali di CDU.

 

Spesialisasi pekerjaan. Mungkin itu kuncinya. Mau bangun rumah saja ada orang yang khusus hanya menyusun bata. Tukang mengecat lain lagi orangnya. As a result, hal sekecil apapun ada waktu dan tempat untuk memperhatikannya. Sangat efektif & jelas tanggung jawabnya.

Bedakan yang saya alami : mengajar, ngurus praktek, ngurus lab, pembimbing akademik, bantu nyetak, menyusun ribuan lembar kerangka acuan, mengurus transportasi, honor, biaya praktek, penginapan, koordinator MA, gubrakkk….. Kadang terasa lelah, tapi merasa bersalah kalau ada satu hal yang terlewatkan (dan selama ini memang banyak). Tanggung jawab sebanyak itu wajar tidak kalau akhirnya ada yang tidak tersentuh? Padahal semuanya menuntut perfect. Dan ini tidak hanya terjadi pada saya.

Tapi, kalau mau protes & menuntut spesialisasi, jelas tidak mungkin juga. Harus punya budget yang lebih besar. Mungkin efektif, tapi jelas tidak akan efisien. Untungnya kalau spesialisasi, bisa detail mengurus hal sekecil apapun dalam lingkup tanggung jawabnya. Apa yang bisa dilakukan? Hanya berusaha mencintai & menjalani pekerjaan sebagai bentuk cinta Tuhan pada umat-Nya. Kalau saya, buat “daily to do list”. Simple effort.

For all of my students, sorry if I don’t have enough time for you. I want to have more time to talk, but, sometimes feel too tired. I’m sorry… This is my way to share…