Satu hari, penulis mendapatkan kesempatan clinical experience di satu rumah sakit di Australia. Sedikit terlambat datang, jadi melewatkan 8 laporan pasien dari perawat yang dinas malam. Untungnya masih banyak pasien lain yang harus dibahas. Total ada 36 pasien waktu itu. Kepala perawat dinas malam, kepala ruang, beberapa perawat shift pagi, satu mahasiswa keperawatan, penulis dan satu teman lagi. Duduk santai tetapi serius. Satu per satu kondisi pasien dibahas. Tidak banyak asuhan keperawatan yang disinggung, sama dengan kebanyakan di Indonesia, lebih banyak medis yang dibahas. Sesekali diselingi dengan beberapa pertanyaan & diskusi. Penulis perhatikan, mereka tidak menggunakan cap, seragam bahan kaos, celana selutut, kartu identitas perawat & jam (penulis akhirnya membeli jam jenis ini, jam khusus untuk perawat yang dikaitkan di baju seperti pin & posisi menghadap ke atas). 

Finally, kepala ruang membagi tugas. Satu perawat menangani sekitar 4 pasien. Penulis mendapatkan kesempatan praktek dengan satu perawat dari Australia, Stephani. Pertama, Stephani membuat rencana perawatan ke pasien dalam satu lebar ringkasan rencana, setiap dua jam, kecuali beberapa pasien dalam kondisi tertentu yang memerlukan lebih sering dari itu. Kapan diberikan obat, jam berapa perawatan luka, observasi, dsb. Kemudian kami keliling ke pasien, menyapa mereka satu per satu, berkenalan pada satu pasien yang Stephani belum pernah bertemu. Menyampaikan rencana perawatan selama pagi hingga siang hari ke pasien. Stephani mulai merawat mereka satu per satu. Ternyata ada satu perawat lagi yang membantu khusus di obat. Pada saat harus memberikan satu obat penenang untuk pasien, mereka berdua pergi ke satu ruang khusus obat, bersama-sama mengecek (6 benar), kemudian setelah semua jelas, Stephani memberikan tanda tangan di form khusus. Mereka berdua pergi ke tempat pasien, teman Stephani mengecek gelang identitas pasien : “Mr. X, 54 years, room 4B ward 2A”. Obat diminum pasien di hadapan Stephani & temannya. Baru kemudian melanjutkan kembali tugas masing-masing.  

Semua alat dissposable. Set perawatan luka terbuat dari plastik, terdiri dari satu papan kecil (untuk menuang cairan pembersih luka), tiga pinset & beberapa bola kapas. Warna cerah, biru & pink. Setelah dipakai langsung dibuang. Hanya saja, beberapa kali penulis lihat, setelah menggunakan sarung tangan, dia masih saja keliling mencari bahan atau alat yang tertinggal. 

Stephani sempat istirahat sebentar, waktunya hanya 20 menit, setelah itu dia bekerja terus. Penulis sempat tanya, kapan jam kunjung pasien? Dia bilang, jarang sekali orang berkunjung, jadi perawat bisa terus bekerja. Stephani terus saja keliling, sesekali bertanya apa yang pasien perlukan, observasi vital sign, diskusi lagi dengan pasien, sesekali dengan kepala ruang. Sekali waktu dia memanggil perawat khusus wound care untuk konsultasi. Dokter datang & pergi, Stephani tidak harus mengikuti. “Toh ada di rekam medis pasien”.  Sampai siang selalu seperti itu. Merawat, diskusi, merawat, menyapa, observasi, ……

Penulis baru menyadari, sewaktu ada teman dari Jerman ikut kami ke rumah sakit, dia bertanya, mengapa setelah jam 10 perawat “menghilang”? Penulis menjawab, jam 10  waktu kunjungan pasien, kadang-kadang yang berkunjung bisa memenuhi ruangan. Mengapa perawat jarang bicara dengan pasien? Mengapa? Mengapa? Setelah mendapatkan pengalamannya langsung, penulis sudah mempunyai jawabannya…