Pendidikan di universitas atau akademi tidak lepas dengan tugas-tugas penulisan karya tulis ilmiah. Melalui tugas-tugas tersebut, diharapkan mahasiswa mempunyai kemampuan untuk berpikir secara kritis & mengembangkan kreatifitasnya dalam menyikapi masalah-masalah yang relevan dengan peminatan yang dipilihnya.
 
Pengalaman penulis sebagai pengajar, kebanyakan mahasiswa justru mengambil jalan pintas. Istilah “copy-paste” mungkin tidak asing lagi bagi banyak mahasiswa. Tidak semuanya memang. Tapi lumayan “menjamur”. Sampai-sampai pengajar perlu menerapkan aturan tidak boleh menggunakan komputer untuk mengerjakan tugas-tugas mereka, melainkan dengan ketik manual atau tulis tangan. Tetapi nyatanya cara ini tetap tidak cukup berhasil. Masih banyak mahasiswa yang mengandalkan laporan karya tulis milik mahasiswa tahun sebelumnya. Bahkan ada yang mengandalkan jasa/layanan pembuatan karya tulis.
 
Mengapa mahasiswa diberikan tugas membuat karya tulis? Salah satu alasan utamanya adalah untuk mengembangkan kemampuan menulis & berpikir kritis. Di era ini, persaingan semakin ketat. Peluang akan semakin kecil apabila hanya mengandalkan ketrampilan & pengetahuan yang “itu-itu” saja. Kemampuan yang didapat pasti akhirnya terbatas. Dengan kemampuan berikir kritis, orang akan bisa tetap bertahan dengan menyumbangkan inovasi (up-to-date over & over).Tapi, lebih mudah mengambil karya orang lain, merubahnya sedikit, dipermanis disana-sini, kemudian diserahkan kepada pengajar sebagai bukti bahwa dia sudah membuanya. “Kalau bisa dipermudah, kenapa harus mempersulit diri….?”
 
Huh! Jengah dengan keadaan ini sebenarnya…. Penulis mendapati, sekian lama bekerja & mengoreksi kerjaan mahasiswa, lama-lama hapal dimana letak kesalahan & kekurangan laporan mahasiswa, bahkan sampai ke “titik-komanya”. Kenapa? Laporan yang dibuat sama persis dari tahun-ke tahun. Bagaimana tidak hapal?
 
Penulis mendapatkan kesempatan dua kali menimba ilmu dari orang luar. Ternyata mereka sangat tidak memaafkan perbuatan seperti itu, atau kita sebut sebagai “plagiarism”. Apakah plagiarism itu?
 
“Plagiarism is using others’ ideas and words without clearly acknowledging the source of that information” (http://www.indiana.edu/~wts/pamphlets/plagiarism.shtml). Istilah singkatnya ya “copy-paste” tadi. Dalam penulisan karya tulis, mahasiswa harus menggunakan referencing, tapi tetap harus mengembangkan viewpoint-nya sendiri. Nah, disinilah sering ditemukan “plagiarism”, dimana para penulis (maaf, tidak hanya mahasiswa), mengambil pernyataan orang lain, tetapi tidak menyebutkan penulis aslinya.
 
Bagaimana menghindarinya?
 
Pertama, selalu mencantumkan nama penulis aslinya (beserta tahun & halamannya bila perlu)
 
Kedua, paraphrasing, artinya : highlight kata-kata dari kalimat penulis aslinya, dari kata-kata yang di-highlight tadi dicari kalimat lain yang mempunyai arti serupa, kemudian buat kalimat baru yang berbeda dari kalimat aslinya
 
Ketiga, jika kalimat dari penulis aslinya terlalu kuat & bermakna, tidak masalah meng-kopi-paste, istilahnya “direct quotation” dengan menggunakan tanda ” diantara kalimat yang dikopi
 
Keempat, gunakan alternatif pendapat. Dalam menulis, jangan hanya menggunakan satu pendapat saja, tetapi dukung dengan pendapat atau sumber-sumber yang lainnya.
 
Mudah-mudahan tulisan ini bisa membantu memotivasi. Dengan menulis tanpa plagiarism, penulis akan lebih puas & memahami benar apa yang dituliskan. Pembaca, dalam hal ini pengajar, akan bisa menilai apakah mahasiswa yang bersangkutan benar-benar memahami apa yang ditulisnya.
 
Plagiarisms are illegal action in the university or academic writing! 
 
Yeni, 25 February 2008 : a great moment in Darwin.