Sewaktu di Sekolah Dasar, ada salah satu subjek di mata pelajaran Bahasa Indonesia tentang mengarang. Pertama-tama disuruh membuat kerangkanya terlebih dahulu. Baru mengembangkan kerangka tersebut menjadi paragraf-paragraf. Dan jadilah sebuah karangan.
 
Sepertinya mudah ya? Di sekolah-sekolah lanjutan berikutnya, dasar cara mengarang ini digunakan untuk membuat karya tulis. Pengalaman penulis waktu itu ya mengarang saja. Kadang-kadang tidak menggunakan buku sebagai dasar, mengalir dari kepala saja.
 
Ternyata? Menulis tidaklah mudah. Banyak step yang harus dilalui. Ini materi yang yang saya dapatkan hari ini melalui salah satu dosen saya (Mr. David) dan saya rangkum sebagai berikut :
 
Menganalisis pertanyaan. Biasanya ada pertanyaan yang diajukan oleh pengajar untuk dibuat menjadi essay misalnya. Pertanyaan ini kemudian dianalisis supaya maksud dari penugasan tersebut tidak salah arah.
 
Menentukan topik (jelas)
 
Membuat planning. Di dalam planning ini termasuk mencantumkan introduction yang berisi : background (apa yang mendasari penulisan essay tersebut), pendapat/viewpoint/argumen yang berbeda (dalam membuat essay kita tidak boleh hanya mengandalkan satu opini saja, melainkan mencari argumentasi/viewpoint lain yang berbeda, supaya karya tulis kita tidak berat sebelah), membuat outline (sistematikanya tergantung masing-masing permintaan), menentukan thesis statement (posisi penulis) dan skope pembahasan bila diperlukan. Di dalam planning sekaligus dibuat acuan body, issue-issue/trends yang akan dimasukkan dalam essay kita. Biasanya masing-masing paragraf berisi satu sub-topik, dilanjutkan pembahasan mengenai point supporting thesis, point which does not support your thesis and refutation (untuk tetap berpegang pada thesis statement kita). Dan seterusnya sampai semua issue/trends kita bahas.
 
Setelah itu baru membuat kesimpulan.
 
Viuh! Salah satu yang harus adalah references alias sumber bacaan. Kita tidak bisa menguatkan thesis statement kita kalau kita tidak mempunyai argumentasi. Argumentasi ini tidak akan dipercaya apabila tidak ada evidence. Padahal untuk mencari literatur sendiri tidak mudah. Harus dicari literatur yang benar-benar reliable. Misalnya kita mau membuat essay tentang dampak negatif dari merokok. Tentunya kita tidak mungkin mencari sumber/counter-argument yang penulisannya disponsori oleh pabrik rokok misalnya (tidak mungkin menelanjangi diri sendiri kan?). Sumber-sumber seperti blog, wikipedia dan search engine (Google, dll) sebenarnya kurang bisa diterima karena semua orang bisa menulisnya (termasuk saya di blog ini). Google scholar dianjurkan untuk mencari sumber pembuatan essay. Lebih baik lagi apabila dicari melalui website resmi semisal WHO, PPNI, CDC, misalnya untuk keperawatan/kesehatan (di edisi selanjutnya akan saya perkenalkan website-website penting untuk keperawatan/kesehatan).
 
Google tetap bisa dipakai karena search engine ini paling favorit digunakan untuk mencari sumber, tapi di reference list-nya nanti yang dicantumkan adalah website dimana artikel sumber kita dapatkan (maaf kalau saya salah memberikan informasi karena saya agak gaptek dengan istilah IT).
 
Setelah mendapatkan referensi yang berkualitas, ingat, hindari “Plagiarism” (sudah saya bahas di tulisan lain di blog ini). Plagiarism hanya akan membuat kita malas untuk berpikir dan menjadi pasrah. Orang seperti ini hanya akan mendapat cap : ada atau tidak ada tidak ada bedanya…(?)
 
Meskipun menulis itu tidak mudah, bukan berati harus berhenti menulis kan? Dengan menulis kita akan tetap “berpikir” (be a critical thinker). Dengan berpikir kita akan tetap berusaha untuk menjadi orang yang kreatif. Kalau kita tetap kreatif, kita akan bisa menyumbang banyak untuk profesi ini. Dan yang jelas, orang akan memperhitungkan keberadaan kita…    
 
Thank’s to Mr David, Ms Anne Marie & Mrs Sue
Yeni, in a great moment in Darwin.