Suatu ketika, penulis mendengar ada beberapa mahasiswa yang baru ngobrol. Mereka ternyata bicara masalah kuliah bahasa Inggris. Ada satu yang berkata : “Kenapa sih pake kuliah bahasa Inggris segala??? Gak penting banget sih….!”
Ini ada laporan dari Suwandono, dkk (2004) : dari sekitar 400 sekolah keperawatan di Indonesia, rata-rata meluluskan 20.000 – 30.000 perawat setiap tahunnya. Sementara pemerintah & swasta hanya sanggup menerima sekitar sepertiganya. Sisanya? Sekitar 10.000 – 16.000 perawat akan menganggur setiap tahunnya.  Salah satu cara yang paling efektif adalah bekerja di luar negeri.
Kenapa? Australia misalnya, penduduk di sana saat ini kurang berminat terhadap profesi guru & perawat, sehingga pemerintah sanggup membayar mahal tenaga keperawatan. Gaji? Jangan ditanya…. Sebagai perbandingan, seorang cleaning service di tempat tinggal penulis mengatakan bahwa saat ini dia sudah mempunyai mobil Honda CRF keluaran terbaru, rumah di Australia, bekerja 6 bulan dia bisa keliling Asia & kalau bekerja 1 tahun, dia bisa keliling dunia. Apalagi perawat? Bisa mencapai ratusan juta per-tahunnya.
Laporan dari WHO tahun 2005 menyebutkan bahwa dunia memerlukan 2.000.000 perawat setiap tahunnya. Tetapi, dari yang melamar bekerja di luar negeri, rata-rata hanya 25%-nya yang diterima. Kok? Terlalu jelek-kah kualitas perawat di Indonesia? Bukan itu masalah utamanya. Bisa ditebak : BAHASA. 
Untuk bekerja di luar negeri, pelamar harus lulus test TOEFL minimal 540, atau IELTS minimal 6.00, serta NCLEX yang menggunakan bahasa Inggris. Kalau ketrampilan sebenarnya tidak kalah jauh dari perawat dari negara lain, bahkan cenderung dipuji karena perawat dari Indonesia kebanyakan ramah. Tapi perawat Indonesia “kurang dilirik” karena keterbatasannya dalam berbicara & menulis menggunakan bahasa Inggris.
Keuntungan lain belajar bahasa Inggris? Bisa mendapat beasiswa…
Penulis pernah merasa benci juga dengan bahasa Inggris. Huruf “a” kok dibaca “e”… Aneh. Tapi akhirnya, penulis tidak lagi merasakan benci. Pernah suatu ketika : pagi kerja sampai jam 15.00, jam 15.30 kursus TOEFL preparation, malam jam 19.30 kursus lagi untuk conversation, pulang jam 21.10, masih mengerjakan tugas atau persiapan mengajar… Kalau dikerjakan dengan senang hati… 24 jam mungkin tidak akan cukup. Tetapi hasilnya, banyak hal yang sudah penulis dapatkan dari itu : laptop, buku-buku, kursus, sekolah, sahabat, pengalaman & many many more.
Mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi motivasi. Atau mungkin malah masih ada yang tetap bilang : “Bahasa Inggris? Sepuluh kali sepuluh, cape deh……” 

Suwandono, A, Muharso, Achadi, A & Aryastami, K 2004, Human Resources on Health (HRH) for Foreign Countries: A Case of nurse ‘Surplus’ in Indonesia. Retrieved February 19, 2008, from http://www.aaahrh.org/reviewal/Indonesia