Sebelumnya tidak pernah berpikir untuk menulis materi atau makalah yang berhubungan dengan kebidanan. Sebagai seorang perawat, minat saya terutama tentu saja di bidang keperawatan, meskipun sangat menyenangkan belajar atau diskusi tentang maternitas. Tetapi berikut ini saya ulas sedikit tentang atonia uteri atau Uterine Atonic. Banyak sekali yang sudah menuliskan tentang atonia uteri. Tetapi tulisan berikut mungkin akan berbeda karena SAYA SENDIRI MENGALAMINYA.

Uterine atonic bleeding is massive bleeding during puerperium (the period from the end of the last stage of labor and the return of the uterus to its normal size after delivery: about 3-6 weeks in duration), and happens because of uterine contraction failure immediately after the placenta is delivered. It rarely occurs a day later (http://www.ecureme.com/especial/obgyn/Uterine_atonic_bleeding.asp). Intinya, paska melahirkan, seharusnya uterus berkontraksi untuk mengontrol perdarahan. Pada atonia uteri, uterus tidak melakukan kontraksi, sehingga terjadi perdaharan hebat dari batas normal perdarahan post partum yang lebih kurang adalah 500 cc. Saya sendiri dapat meraba bahwa uterus saya lembek (diajari oleh teman-teman bidan yang baik hati).

Pengertian di atas benar sekali. Selasa, 18 Agustus 2009, setelah mengalami overdue 1 minggu dari HPL, saya pergi ke dokter untuk kontrol rutin. Oleh dokter saya ditawari untuk segera melakukan persalinan, dengan induksi atau operasi. Dengan berbagai pertimbangan, kami memutuskan untuk melakukannya dengan operasi. Ini adalah kehamilan saya yang kedua setelah yang pertama mengalami blighted ovum. Tiga tahun menunggu si kecil, maksud kami, kami tidak mau ambil resiko & diambillah tindakan yang menurut dokter paling kecil resikonya untuk si kecil kami.

Siangnya, tanpa persiapan apapun, saya menjalani operasi. Operasi lancar, si kecil lahir dengan berat 3.400 gram & panjang 52 cm, sehat, cewek, lengkap & saya sempat memberikan ciuman pertama saya sebagai seorang ibu. Saya-pun segera dipindahkan ke ruang perawatan. Sorenya, dua bidan akan mengganti diapers & sekaligus mengobservasi perdarahan post partum. Dan, baru diketahui kalau ternyata darah sudah kemana-mana. Saya tidak merasakannya karena efek bius lumbal. Mulai jam 17 sampai 20, darah terus keluar memenuhi under pads yang dipasang tiada henti oleh para bidan di ruang tersebut. Jam 20.00 obsgy saya datang & langsung melakukan massage. Massage the uterus and inject uterine contraction drugs to control bleeding and recover contractility. (Gambar bisa dilihat di http://www.steinergraphics.com/surgical/004_12.3J.html). Penanganan lainnya dapat dilihat di http://www.pdpersi.co.id/?show=detailnews&kode=507&tbl=biaswanita atau di http://igdrembang.blogspot.com/2009/04/atonia-uteri.html.

Ternyata massage yang dilakukan oleh obsgy & bidan yang bergantian melakukannya tidak dapat merangsang kontraksi uterus saya. Tengah malam, saya dipindahkan ke ruang bersalin. Saya dengar, dokter akan berupaya untuk melakukan tamponade, supaya perdarahan saya berhenti. Waktu itu saya dengar bahwa tekanan darah saya tinggal 60/0 mmHg & Hb tinggal 5 mg/dL. Tetapi Puji Tuhan, dengan semangat teman-teman perawat, bidan, dokter & tentu saja suami, meski dengan kondisi seperti itu saya masih bias tetap sadar penuh. Sepanjang malam saya diajak cerita, supaya saya tidak mengantuk & tertidur. Kondisi ini akan mempersulit mereka untuk melakukan observasi. Ada yang bilang, mungkin kasus perdarahan adalah cara meninggal yang paling tenang…. Sehingga semua perawat & bidan waktu itu silih berganti berupaya menjaga saya supaya tidak jatuh tidur. Saya akui bahwa sempat saya hampir “hilang”. Tetapi teman-teman di sekitar saya berusaha untuk menyadarkan saya, sehingga akhirnya saya bias tetap “bangun”

.

Suami selalu motivasi saya untuk terus mengingat si kecil kami. Wajah yang baru saya lihat beberapa menit itu terus ada di kepala saya, sehingga membuat saya mempunyai motivasi kuat untuk melewati semua itu. Selama ini kalau mengajar, mungkin saya hanya berteori bahwa kondisi psikis bisa sangat mempengaruhi kondisi fisik. Dan ternyata, akhirnya, saya mengalaminya sendiri.

Waktu itu di kedua tangan saya sudah terpasang infuse untuk mengganti cairan yang keluar, sambil diusahakan transfuse darah. Masalah kemudian muncul karena antara intake dan output tidak seimbang, tubuh saya mulai menggelembung karena penumpukan cairan & output urine sangat sedikit. Sepanjang malam saya juga terus minum. Lepas tengah malam saya mulai merasa bahwa jari-jari tangan saya mulai susah untuk digerakkan, karena semakin menggelembung. Saya juga mulai merasa kesemutan. Tetapi, ketika mereka bertanya apakah saya merasa ngantuk, lemes atau semacamnya, saya bilang, sama sekali tidak & saya tidak ingin mengantuk.

Paginya, akhirnya saya dipindah ke ICU. Ngeri sekali rasanya memasuki ruang ICU. Sebelumnya saya masuk ke sana karena mau ketemu mahasiswa atau teman-teman di sana, sekarang saya masuk ke sana sebagai pasien. Seharian di sana, kondisi saya stabil saja. Malamnya saya sudah berani tidur. Hari itu juga dipasang CVP, dan semuanya terkontrol. Hari kedua, saya dibawa lagi ke kamar operasi untuk lepas tampon. Saya sempat berpikir kalau perdarahan tetap tidak berhenti, saya sudah pasrah kalau harus dilakukan histerektomi (http://www.healthsystem.virginia.edu/uvahealth/peds_hrpregnant/postpart.cfm ). Yang penting saya masih bisa merawat anak & suami saya. Tetapi Tuhan tetap bekerja. Selesai dilepas tamponnya, ternyata perdarahannya tinggal sedikit. Obsgy tetap meminta untuk tinggal dulu di ruang operasi selama beberapa saat. Ternyata perdarahannya sudah biasa. Akhirnya saya dikirim lagi ke ICU. Hari ketiga, saya mulai bosan. Bagaimana tidak, tidak boleh ada yang menunggui, rindu semakin memuncak karena belum bertemu lagi dengan si kecil…

Akhirnya dengan seorang pharmacist, saya menangis minta dipindahkan saja ke ruang biasa. Beliau yang sibuk mencari dokternya & akhirnya saya hari itu dipindahkan ke ruang rawat biasa.

Masalah kembali muncul ketika saya mengalami sesak nafas. Saya mulai berpikir jelek bahwa saya kena oedema paru. Malam harinya saya sama sekali tidak bias tidur karena sesak nafas. Hari berikutnya dilakukan rontgent paru & hasilnya tidak apa-apa (saya tidak tahu karena tidak membaca sendiri hasilnya). Hasil konsul dengan internist, saya diberi diuretic & berespon dengan output lebih dari 3 liter. Nafas saya mulai nyaman. 2 hari kondisi saya pulih dengan cepat karena motivasi kuat ingin segera bertemu dengan si kecil. Minggu siang, akhirnya saya bisa lihat dia melalui kaca ruang bayi. Ya Tuhan….. Akhirnya…. Itu dia si kecil buah cinta kami…. Minggu itu juga saya bisa menggendong & menyusui dia. Sorenya, karena suami harus balik ke kotanya, saya merengek dengan perawat di ruang bayi supaya suami saya diijinkan mencium si kecil kami. Unspoken deh! Senin pagi saya diijinkan dokter pulang…

Terima kasih kepada Tuhan, dokter yang sudah merawat dari kehamilan s.d perawatan paska melahirkan, rekan-rekan perawat, bidan, kepala ruang, supervisor, teman-teman & keluarga. Atas bantuan, kasih & motivasinya, saya masih ada & si kecil Faustina Yola Mika sudah tumbuh sehat, lucu dan menyenangkan. Saya sharingkan ini, supaya bisa menjadi motivasi untuk yang lain. Ternyata kuncinya adalah motivasi kita. Saya tidak pernah trauma, takut atau menyesal harus melalui ini, karena yang saya rasakan saat ini adalah B-A-H-A-G-I-A.

Before you were conceived, I wanted you
Before you were born, I loved you
Before you were here an hour, I would die for you
This is the miracle of love.
(Maureen Hawkins)

About these ads