Masih banyak perawat yang menggunakan label yang lama: “Resiko tinggi infeksi”. Padahal sudah sejak lama diagnosis ini direvisi menjadi “Risk for infection” atau “Resiko infeksi” saja. In fact, many nurses are still using “high risk” for their diagnoses, not only for infection, but also the other diagnoses. Gampangnya, hilangkan saja kata “resiko tinggi” dari kamus di kepala kita dan gunakan “resiko” saja, juga untuk diagnosis lain yang termasuk diagnosis resiko.

Definisi: peningkatan resiko dikarenakan mikroorganisme patogenik. Faktor yang berhubungan:

  1. penyakit kronis
  2. ketidakadekuatan imunitas
  3. ketidakadekuatan perlindungan primer (misalnya karena adanya luka di kulit, trauma jaringan, dll)
  4. ketidakadekuatan perlindungan sekunder (penurunan hemoglobin, leukopenia, penurunan respon peradangan)
  5. peningkatan paparan patogenik dari lingkungan (tinggal di lingkungan kumuh & kotor)
  6. immunosuppresion
  7. prosedur invasif
  8. ketidakcukupan informasi untuk mencegah paparan patogenik
  9. malnutrisi
  10. agen obat-obatan (misalnya immunosuppresan)
  11. pecahnya membran amnion
  12. trauma
  13. kerusakan jaringan

Sering ada pertanyaan: “Bisakah mengangkat diagnosis resiko infeksi untuk pasien yang terpasang infus? Kalau bisa, bukankah itu berarti menyalahkan prosedur keperawatan (ngapain dipasang infus kalau bisa menimbulkan infeksi)? Dan bukankan sudah ada protap untuk dressing infus setiap hari dan ganti infus tiap tiga hari?” Pertanyaan ini juga muncul untuk pasien dengan luka post operasi, dll. Hum…

Di daftar faktor resiko di atas, nomer 7 jelas-jelas menyatakan bahwa prosedur invasif juga merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan resiko infeksi. Jadi bisa saja sebenarnya pasien yang dipasang infus atau prosedur invasif lainnya diangkat diagnosis ini. Tapi jangan menulis: “Resiko infeksi berhubungan dengan pemasangan infus”. Itu jelas-jelas tidak boleh. Di teori-teori atau konsep tentang proses keperawatan, tindakan keperawatan tidak boleh digunakan sebagai etiologi. Terus?

Misalnya: “Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif ditandai dengan pemasangan kateter, infus di lengan kiri….” Karena lingkungan saja bisa meningkatkan resiko infeksi, apalagi prosedur invasif…

Tentang protap, dressing infus tiap hari atau penggantian jarum infus tiap tiga hari tentu saja dimasukkan sebagai rencana keperawatan. Pertanyaannya justru saya balik: “OK ada protap dressing tiap hari dan penggantian infus tiap tiga hari. Tetapi perawat melaksanakan intervensi keperawatan berdasarkan apa? Rencana keperawatan bukan? Rencana keperawatan ada karena memang ada masalah. Dan masalah di keperawatan kita sebut sebagai diagnosis keperawatan. Nah, akhirnya, harus ada data dan problem dulu kan untuk melaksanakan suatu tindakan? Lha protap tadi dilaksanakan kemudian didokumentasikan dimana kalau tidak ada label resiko infeksi?”

Inga inga… perawat punya langkah sistematis yang disebut sebagai proses keperawatan. Tentu saja yang namanya protap harus direalisasikan dalam rencana keperawatan ini. Sehingga nantinya, selesai melakukan penggantian infus, perawat tahu dimana harus mendokumentasikan intervensinya, yaitu di catatan perkembangan diagnosis “resiko infeksi”.

About these ads