Barusan membuka kembali blog yang sekian lama sudah terbengkalai. Kangen… sangat kangen menulis. Inilah sebenarnya “dunia” yang saya impikan. Sebuah “amanah” membuat saya tidak berkutik kembali menuangkan isi pikir ini ke blog. As a result, I’m stuck!!!

Saat ini saya sedang menyelesaikan pendidikan Palliative Care di Flinders University Australia. Abang saya bilang “ilmu sakratologi”. Saya sangat ingin menyebarkan virus end-of-life care ini ke kolega2 perawat yang mungkin belum mengenalnya. Mudah2an selesai pendidikan ini, tidak terlalu berat “amanah” yang harus saya tanggung, sehingga saya punya cukup waktu untuk keluarga dan menulis. It’s my passion….

 

Adelaide……… Cheers: Yeni

Mengapa harus NANDA? Itu pertanyaan yang sering muncul. Bahkan ada yang menyeletuk, “Kenapa tidak versi Indonesia Bu? Saya kan cinta bahasa Indonesia”.

NANDA atau North American Nursing Diagnoses Association merupakan wadah perkumpulan perawat Amerika Utara. Sejak tahun 2007 karena penggunaannya yang mengglobal, maka mereka menambahkan International sehingga menjadi NANDA-I. Di dunia ini banyak sekali pedoman penentuan diagnosa (OMAHA, CCC, ICNP, dll), tetapi diantara masih adanya beberapa kelemahan, akhirnya NANDA yang dipilih karena sebenarnya bisa diaplikasikan ke banyak latar belakang. Permasalahannya adalah karena belum adanya keseragaman bahasa di antara perawat untuk memberi nama diagnosa keperawatan. Sebut saja diagnosa “Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh”. Saya bisa sebutkan beberapa versi perawat untuk memberi nama label diagnosa ini:

  1. Kurang nutrisi
  2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
  3. Gangguan nutrisi
  4. Kekurangan nutrisi
  5. Nutrisi kurang
  6. Nutrisi tidak seimbang
  7. Dll

Itu baru di institusi ini saja. Belum perawat rumah sakit, belum perawat di Indonesia, belum perawat di dunia. Sedikit mengaca pada profesi dokter, mereka punya International Classification of Diseases atau ICD-10 (edisi 11 akan dirilis tahun 2015) yang dipakai secara internasional oleh seluruh dokter yang ada di dunia. Sehingga, dokter mempunyai keseragaman bahasa dalam menentukan label diagnosa medis. Sebagai contoh, dengan menyebutkan G35, maka dokter di seluruh dunia juga akan tahu bahwa itu kode untuk penyakit Multiple Sclerosis. Adakah versi bahasa Indonesia nya? Setahu saya, semua penyakit ditulis apa adanya seperti yang ada di ICD. Saya belum pernah dengar versi bahasa Indonesia untuk Multiple Sclerosis, kecuali pengertiannya yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Bagaimana dengan perawat?

Nah, itulah mengapa kita perlu NANDA. Minggu lalu saya mendapatkan kesempatan untuk review kembali tentang 3N ini, dan di perpustakaan sudah terdapat banyak panduan penggunaan 3N ini. Kalau perawat sudah terbiasa menggunakan NANDA-I, maka SNLs bisa diwujudkan, dan dengan menyebutkan kode 00002, maka semua perawat di dunia juga akan tahu bahwa itu kode untuk “Imbalanced nutrition: less than body requirements”. Kalau pun sekarang di Indonesia masih muncul NANDA-I versi bahasa Indonesia, itu tak lebih supaya perawat di Indonesia sayang dulu dengan NANDA, dan nantinya ketika semua sudah pure menggunakan NANDA, maka yang muncul adalah “Imbalanced nutrition: less than body requirements”, bukan lagi “Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh”.  

Pertanyaan lain juga sering muncul, “Apakah saya masih bisa menggunakan pedoman diagnosa yang lain macam Doengoes, Carpenito, atau Brunner and Suddarth?” Jawabannya, jelas masih bisa, karena buku-buku yang dikarang oleh nama-nama tersebut juga bersumber pada NANDA, hanya sayangnya tidak selalu up-to-date dengan NANDA. Contoh, Doengoes masih ada yang mencantumkan diagnosa “Resiko tinggi” (versi aslinya “High risk for”), tetapi itu adalah label problem NANDA sebelum tahun 2000 dan saat ini sudah direvisi menjadi “Risk for” atau “Resiko” saja. Sehingga kita tetap bisa menggunakan buku-buku yang mantap juga untuk bantal itu, tetapi label diagnosanya disesuaikan dengan NANDA-I yang terbaru. Kalau semua sudah menggunakan acuan ini, semua juga enak, semua juga ada evidence-nya, tidak ada yang dibingungkan karena si A bilang begini, si B bilang begitu…. Kalau sudah seragam, kompak deh kita para perawat ini… Betul betul betul????

 

Two thumbs for ibu Intan

(Ch. Yeni Kustanti, hasil “Pelatihan Regional Nursing Update; NANDA-NIC-NOC”)

Mengikuti perubahan yang ada di NANDA memang terkadang asyik-asyik menjengkelkan. Bagaimana tidak? Baru sebentar bisa menguasai satu diagnose, muncul NANDA edisi berikutnya yang kadang sangat berbeda dengan sebelumnya. Tetapi tetap, selalu menarik untuk diikuti. Kecuali ada yang belum-belum sudah komentar : “Ups, Bahasa Inggris ya?” atau “Sudah ada yang versi Bahasa Indonesia”. Hohoho….

Kali ini saya ingin membahas tentang diagnosis keperawatan “Gangguan Perfusi Jaringan”. Memang di NANDA edisi bahula, diagnose tersebut diberi label “Gangguan Perfusi Jaringan”. Tetapi pada NANDA-I 2008-2009 (halaman 228-229), label probelmnya adalah “Ineffective Tissue Perfusion” atau “Ketidakefektifan Perfusi Jaringan”. Pada edisi tersebut, NANDA membuat diagnose tersebut dalam satu label : “Ineffective Tissue Perfusion (Renal, Cerebral, Cardiopulmonary, Gastrointestinal, Peripheral)”. So, ketika kita mengangkat diagnose tersebut, harus dispesifikkan ke system yang mengalami gangguan perfusi. Sebagai contoh, saat kita mendapatkan data senjang berupa : perubahan status mental, perubahan perilaku, perubahan pergerakan, perubahan reaksi pupil, kesulitan menelan, kelemahan ekstremitas, paralisis atau kesulitan bicara, maka kita bisa angkat “Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Cerebral”. Tentu saja harus divalidasi dengan pemeriksaan diagnostik yang ada.

Yang berlalu biarlah berlalu….
(lebih…)

Sebelumnya tidak pernah berpikir untuk menulis materi atau makalah yang berhubungan dengan kebidanan. Sebagai seorang perawat, minat saya terutama tentu saja di bidang keperawatan, meskipun sangat menyenangkan belajar atau diskusi tentang maternitas. Tetapi berikut ini saya ulas sedikit tentang atonia uteri atau Uterine Atonic. Banyak sekali yang sudah menuliskan tentang atonia uteri. Tetapi tulisan berikut mungkin akan berbeda karena SAYA SENDIRI MENGALAMINYA. (lebih…)

31. Impaired verbal Communication – Gangguan komunikasi verbal
32. Readiness for enhanced Communication
33. Decisional Conflict
34. Parental role Conflict
35. Acute Confusion – Kebingungan akut
36. Chronic Confusion – Kebingungan kronis
37. Risk for Acute Confusion – Resiko kebingungan akut
38. Constipation - Konstipasi
39. Perceived Constipation
40. Risk for Constipation – Resiko konstipasi

21. Ineffective Breathing pattern – Pola nafas tidak efektif
22. Decreased Cardiac output – Penurunan cardiac output
23. Risk for decreased Cardiac perfusion – Resiko penurunan perfusi jantung*
24. Risk for ineffective Cardiac tissue perfustion – Resiko perfusi jaringan jantung tidak efektif*
25. Caregiver role strain
26. Risk for Caregiver role strain
27. Risk for ineffective Cerebral tissue perfusion – Resiko pefusi jaringan cerebral tidak efektif*
28. Readiness for enhanced Childbearing process
29. Readiness for enhanced Comfort
30. Impaired Comfort - Gangguan kenyamanan*

Ada dua yang harus ditanyakan pada seorang peneliti: Apa masalah penelitian-mu? Adakah literatur yang relevan?

Satu tips yang sering digunakan adalah menggunakan 5 W dan 1 H:
- What: tentang apa itu?
- Why: mengapa harus dilakukan? Ada apa? Kenapa? Adakah relevansinya dengan keilmuan kita? Adakah manfaatnya? Tertarikkah nantinya orang untuk mengikutinya?
- Who: siapa? Kenapa dilakukan padanya? Kenapa tidak orang lain atau subjek lain?
- When: kapan?
- Where: dimana? Mengapa harus disana? Kenapa tidak di tempat yang lain saja?
- Which: apa spesifiknya? Adakah yang membedakan dengan yang lainnya?
- How: bagaimana nanti melakukannya? Mungkin tidak dilakukan? Mampu tidak saya melakukannya? Cukupkah sumber daya yang saya miliki untuk melakukannya? Adakah cara untuk melakukannya? Adakah literatur atau sumber yang dapat digunakan dan mencukupi?
(lebih…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.