Mengikuti perubahan yang ada di NANDA memang terkadang asyik-asyik menjengkelkan. Bagaimana tidak? Baru sebentar bisa menguasai satu diagnose, muncul NANDA edisi berikutnya yang kadang sangat berbeda dengan sebelumnya. Tetapi tetap, selalu menarik untuk diikuti. Kecuali ada yang belum-belum sudah komentar : “Ups, Bahasa Inggris ya?” atau “Sudah ada yang versi Bahasa Indonesia”. Hohoho….

Kali ini saya ingin membahas tentang diagnosis keperawatan “Gangguan Perfusi Jaringan”. Memang di NANDA edisi bahula, diagnose tersebut diberi label “Gangguan Perfusi Jaringan”. Tetapi pada NANDA-I 2008-2009 (halaman 228-229), label probelmnya adalah “Ineffective Tissue Perfusion” atau “Ketidakefektifan Perfusi Jaringan”. Pada edisi tersebut, NANDA membuat diagnose tersebut dalam satu label : “Ineffective Tissue Perfusion (Renal, Cerebral, Cardiopulmonary, Gastrointestinal, Peripheral)”. So, ketika kita mengangkat diagnose tersebut, harus dispesifikkan ke system yang mengalami gangguan perfusi. Sebagai contoh, saat kita mendapatkan data senjang berupa : perubahan status mental, perubahan perilaku, perubahan pergerakan, perubahan reaksi pupil, kesulitan menelan, kelemahan ekstremitas, paralisis atau kesulitan bicara, maka kita bisa angkat “Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Cerebral”. Tentu saja harus divalidasi dengan pemeriksaan diagnostik yang ada.

Yang berlalu biarlah berlalu….
(lagi…)

Sebelumnya tidak pernah berpikir untuk menulis materi atau makalah yang berhubungan dengan kebidanan. Sebagai seorang perawat, minat saya terutama tentu saja di bidang keperawatan, meskipun sangat menyenangkan belajar atau diskusi tentang maternitas. Tetapi berikut ini saya ulas sedikit tentang atonia uteri atau Uterine Atonic. Banyak sekali yang sudah menuliskan tentang atonia uteri. Tetapi tulisan berikut mungkin akan berbeda karena SAYA SENDIRI MENGALAMINYA. (lagi…)

31. Impaired verbal Communication – Gangguan komunikasi verbal
32. Readiness for enhanced Communication
33. Decisional Conflict
34. Parental role Conflict
35. Acute Confusion – Kebingungan akut
36. Chronic Confusion – Kebingungan kronis
37. Risk for Acute Confusion – Resiko kebingungan akut
38. Constipation - Konstipasi
39. Perceived Constipation
40. Risk for Constipation – Resiko konstipasi

21. Ineffective Breathing pattern – Pola nafas tidak efektif
22. Decreased Cardiac output – Penurunan cardiac output
23. Risk for decreased Cardiac perfusion – Resiko penurunan perfusi jantung*
24. Risk for ineffective Cardiac tissue perfustion – Resiko perfusi jaringan jantung tidak efektif*
25. Caregiver role strain
26. Risk for Caregiver role strain
27. Risk for ineffective Cerebral tissue perfusion – Resiko pefusi jaringan cerebral tidak efektif*
28. Readiness for enhanced Childbearing process
29. Readiness for enhanced Comfort
30. Impaired Comfort - Gangguan kenyamanan*

Ada dua yang harus ditanyakan pada seorang peneliti: Apa masalah penelitian-mu? Adakah literatur yang relevan?

Satu tips yang sering digunakan adalah menggunakan 5 W dan 1 H:
- What: tentang apa itu?
- Why: mengapa harus dilakukan? Ada apa? Kenapa? Adakah relevansinya dengan keilmuan kita? Adakah manfaatnya? Tertarikkah nantinya orang untuk mengikutinya?
- Who: siapa? Kenapa dilakukan padanya? Kenapa tidak orang lain atau subjek lain?
- When: kapan?
- Where: dimana? Mengapa harus disana? Kenapa tidak di tempat yang lain saja?
- Which: apa spesifiknya? Adakah yang membedakan dengan yang lainnya?
- How: bagaimana nanti melakukannya? Mungkin tidak dilakukan? Mampu tidak saya melakukannya? Cukupkah sumber daya yang saya miliki untuk melakukannya? Adakah cara untuk melakukannya? Adakah literatur atau sumber yang dapat digunakan dan mencukupi?
(lagi…)

sambungan

11. Autonomic dysreflexia
12. Risk for Autonomic dysreflexia
13. Risk prone health Behavior
14. Risk for Bleeding - Resiko perdarahan*
15. Disturbed Body image – Gangguan citra tubuh
16. Risk for imbalanced Body temperature – Resiko ketidakseimbangan suhu tubuh*
17. Bowel incontinence – Inkontinensia bowel/alvi
18. Effective Breastfeeding
19. Ineffective Breastfeeding – Pemberian ASI tidak efektif
20. Interrupted Breastfeeding – Gangguan pemberian ASI

NANDA-I 2007-2008 berisi 188 diagnosis keperawatan, termasuk 26 diagnosis yang direvisi (misal: gangguan pola tidur — insomnia) dan 15 dianosis baru (resiko ketidakstabilan gula darah). Taksonomi masih menggunakan taksonomi II.

NANDA-I terbaru 2009-2011, berisi tambahan 21 diagnosis keperawatan baru (*), 9 diagnosis revisi dan beberapa diagnosis yang tidak digunakan lagi. Total diagnosis keperawatan sampai saat ini adalah 205 diagnosis. Biasanya NANDA-I akan direvisi setiap 2 tahun, tetapi kali ini NANDA-I menerbitkan daftar diagnosisnya untuk kurun waktu tiga tahun.
(lagi…)

A. Teori Medis Chronic Obstructive Pulmonal Disease (COPD)

1. Pengertian COPD

COPD adalah sekresi mukoid bronchial yang bertambah secara menetap disertai dengan kecenderungan terjadinya infeksi yang berulang dan penyempitan saluran nafas , batuk produktif selama 3 bulan, dalam jangka waktu 2 tahun berturut-turut (Ovedoff, 2002). Sedangkan menurut Price & Wilson (2005), COPD adalah suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung lama dan ditandai dengan obstruksi aliran udara sebagai gambaran patofisiologi utamanya.

 

2. Klasifikasi COPD

Menurut Alsagaff & Mukty (2006), COPD dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Asma Bronkhial: dikarakteristikan oleh konstruksi yang dapat pulih dari otot halus bronkhial, hipersekresi mukoid, dan inflamasi, cuaca dingin, latihan, obat, kimia dan infeksi.

b. Bronkitis kronis: ditandai dengan batuk-batuk hampir setiap hari disertai pengeluaran dahak sekurang-kurangnya 3 bulan berturut-turut dalam satu tahun, dan paling sedikit selama 2 tahun. Gejala ini perlu dibedakan dari tuberkulosis paru, bronkiektasis, tumor paru, dan asma bronkial.

c. Emfisema: suatu perubahan anatomis paru-paru yang ditandai dengan melebarnya secara abnormal saluran udara sebelah distal bronkus terminal, disertai kerusakan dinding alveolus.

  (lagi…)

BBC news, 12 Maret 2009, membahas masalah kesehatan dengan judul aslinya adalah ”Fat neck a clue to heart risk”. Beberapa peneliti dari Framingham Heart Study menemukan bahwa seseorang yang mempunyai leher yang besar, berarti beresiko besar juga terhadap penyakit jantung. Penelitian dilakukan pada lebih dari 3.300 pria dan wanita yang berusia rata-rata 51 tahun.

Dalam penelitian ini ditemukan bahwa rata-rata lingkar leher adalah 40.5 cm untuk pria dan 34.2 cm untuk wanita. Untuk setiap kenaikan lingkar leher sebesar 3 cm, pada pria berarti lebih 2.2 mg/dl dan wanita 2.7 mg/dl kolesterol jahat.

Seorang pasien tergeletak tak berdaya di tempat tidurnya.
Kepalanya berbalut perban, tanda beberapa waktu yang lalu baru mengalami craniotomy
Kesadarannya masih somnolent.
Di hidungnya terpasang selang NGT dan Oksigen.
Ada selang infus dan kateter di sisi yang lain.

Seorang mahasiswa datang padaku.
“Bu, saya mau angkat jahit di kepala pasien kamar 2D”.
Catatan nomer satu: dia tidak memanggil nama pasien tersebut, tetapi “kamarnya”.
(lagi…)

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.